Alangkah Pedihnya

Dia bekerja di pabrik roti. Setiap hari anak-anaknya meminta roti, karena mereka mengira itu pabrik roti milik ayahnya. Padahal gajinya tidak mencukupi untuk itu…Alangkah pedihnya!

Dia bekerja sebagai perias penganten. Padahal dia sudah berumur dan belum juga menikah…..Alangkah pedihnya!

Dia adalah dokter ahli kandungan atau spesialis anak. Sementara dia sudah bertahun-tahun mendambakan punya anak…..Alangkah pedihnya!

Di sampingnya orang tertawa terbahak-bahak menyaksikan komedi lawak yang sangat lucu. Sementara dia tidak diberi Allah nikmat penglihatan…..Alangkah pedihnya!

Di hadapannya anak-anak sebayanya lari kian kemari, bermain dengan riang. Sementara dia duduk di kursi roda karena dia tidak punya kaki……Alangkah pedihnya!

Anaknya sudah 8 orang. Tapi belum juga mampu membeli rumah. Di puncak musim dingin begini tuan rumah yang dia sewa memerintahkan untuk pindah secara mendadak. Dengan alasan anaknya mau nikah……Alangkah pedihnya!

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan petani; kemudian tanam-tanaman itu menjadi kering dan kami lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. (Al Hadid: 20)

Advertisements
This entry was posted in Khawathir. Bookmark the permalink.

One Response to Alangkah Pedihnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s