Penduduk Kubur

Umar bin Abdul Aziz pernah berkata:

“Penduduk kubur terpenjara di kuburannya, mereka menyesali apa yang sudah mereka lakukan. Sementara penduduk dunia menanti giliran sambil berebutan apa yang disesali penduduk kubur.

Penduduk kubur tidak bisa kembali bergabung dengan penghuni dunia, sedangkan penghuni dunia tidak juga mengambil pelajaran dari penduduk kubur”.

Di sana ada orang yang mati-matian mengumpulkan dunia. Tidak peduli halal-haram. Yang penting ia puas.

Di pojok lain ada orang yang selalu bernyanyi bagaikan orang berzikir. Bahkan desah nafasnya mengeluarkan senandung picisan.

Ada juga yang menganggap membuka aurat adalah cerminan peradaban tinggi.

Pemudanya cenderung berlaku seperti perempuan. Pemudinya lebih asyik bergaya laki-laki.

Laki-lakinya cantik jelita, perempuannya ganteng rupawan.

Semuanya bila ditanya: Apa yang kamu inginkan?

Mereka akan menjawab: “Kami ingin masuk surga”.

Bukankah surga itu barang dagangan Allah yang harganya sangat mahal?

Dengan logika sederhana saja kita akan tahu bila surga harus dicapai dengan amal shaleh, bukan dengan menghayal dan berandai-andai. Apalagi dengan maksiat dan menebar dosa.

Advertisements
This entry was posted in Tazakiyatul Anfus. Bookmark the permalink.

One Response to Penduduk Kubur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s