Cita-Cita Orang Tuaku

Dulu kedua orang tuaku tidak pernah mencita-citakan diriku untuk kuliah sampai doktor, juga tidak mencita-citakan diriku untuk hafal al Qur’an.

Beliau bukan orang sekolah tinggi, jadi tidak ngerti hal gituan.

Tapi beliau sangat mendukung kalau ingin “sekolah setinggi-tingginya”. Begitu bahasa beliau.

Tidak pernah juga mendorong-dorong supaya juara di sekolah, sekalipun selalu juara. Lalui saja apa adanya. Tidak ada iming-iming hadiah kalau berprestasi.

Hanya satu yang beliau cita-citakan untuk diriku; “kalau mendengar suara azan, aku langsung menuju mesjid, kalau dapat sebelum azan dikumandangkan sudah berada di mesjid. Syukur-syukur bisa jadi imam”. Itu saja cita-cita beliau yang sederhana.

Namun sekarang aku baru sadar betapa mulia, besar, dan sulitnya cita-cita beliau itu. Cita-cita Nabi Ibrahim untuk anak cucunya. Aku tidak tahu, dari mana ibu-bapakku mendapatkan hal itu.

Banyak aku melihat orang yang sudah bertitel doktor, bahkan profesor, kalau mendengar suara azan seperti tidak terpanggil untuk segera memenuhi panggilannya. Begitu juga ada yang hafal al Qur’an 30 juz, cuek saja ketika azan berkumandang, lebih memilih shalat sendirian dari pada berjama’ah. Bahkan shalatnya sudah di akhir-akhir waktu.

Ketika beliau datang berkunjung ke Mesir beberapa bulan yang lalu, untuk menunggu kelahiran cucu yang kedua dariku, beliau sempat agak marah karena di waktu azan sudah berkumandang aku masih juga bercerita, tidak langsung menuju mesjid.

Di samping itu ternyata ibuku sempat curhat kepada istriku, setelah beliau pulang baru disampaikan kepadaku. Beliau berkata: “Satu saja yang mama cemaskan terhadap si Zul. Kalau sudah sibuk bekerja mencari nafkah, asyik dengan uang, dia jadi terlambat-lambat melakukan shalat. Shalat berjama’ahnya jadi bolong-bolong”.

Sekarang, aku juga tidak muluk-muluk bercita-cita untuk anak keturunanku. Jadi apa pun mereka nanti, yang penting halal dan diredhai Allah, ketika azan berkumandang telapak kaki mereka otomatis mengarah ke mesjid untuk shalat berjama’ah.

Ya Allah, limpahkan lah selalu rahmat dan kasih sayang-Mu untuk kedua orang tuaku. Ampunilah segala dosa dan kesalahannya.

Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang mendirikan shalat dan dari anak keturunanku. Ya Tuhan, terimalah do’aku ini (Ibarahim: 40)

Advertisements
This entry was posted in Pendidikan Anak, Pengalaman, Shalat Berjama'ah. Bookmark the permalink.

One Response to Cita-Cita Orang Tuaku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s