Qadhi Abu Bakar al Baqilany

Ketika Raja Romawi meminta kepada Khalifah Islam di zaman itu untuk mengutus salah seorang ulamanya guna ditanyai, maka dipilihlah Qadhi Abu Bakar al Baqilany sebagai utusan perwakilan. Beliau adalah ulama tercerdas di zamannya.

Tatkala raja Romawi mendengar kedatangan Abu Bakar al Baqilany, ia memerintahkan para bawahannya untuk membuat pintu yang rendah, hingga ketika al Baqilany masuk ia terpaksa untuk menundukkan kepalanya dan merendahkan badannya seperti orang rukuk. Dalam kondisi seperti itu ia akan terhina di depan raja Romawi dan para pengikutnya.

Ketika Abu Bakar datang, ia tahu permainan yang mereka rencanakan. Segera saja beliau memutar tubuhnya 180 derjat dan ia masuk dengan membelakangi raja dengan para pengikutnya. Alih-alih mendapatkan penghormatan yang dipaksakan dari al Baqilany malah mendapatkan penghinaan.

Saat itu raja baru sadar kalau ia adalah seorang yang cerdas.

Setelah beliau berhadapan dengan raja dan para pengikutnya yang terdiri dari para pendeta dan pastor, ia segera saja menyapa mereka:

“Bagimana kabar kalian semua? Bagaimana kabar anak-istri kalian?”

Mendengar itu, mereka semua bagai disambar halilintar dan petir. Raja Romawipun langsung naik pitam:

“Mereka ini adalah orang-orang suci dari mempunyai istri dan anak. Mereka lebih mulia dari sekedar punya anak dan istri!!!”

Abu Bakar al Baqilany pun menjawab:

“Allahu akbar!! Kalian mensucikan mereka ini dari istri dan punya anak, kemudian kalian menuduh Tuhanmu berselingkuh dengan Maryam. Dan kalian tidak mensucikan-Nya dari punya anak”.

Jawaban itu menambah kemarahan raja.

Lalu Raja itu bertanya penuh ejekan: “Apa tanggapanmu tentang Aisyah si penzina?”

Abu Bakar menjawab: “Demi Allah, Aisyah menikah dengan sah namun tidak melahirkan anak, sedangkan Maryam tidak menikah tapi melahirkan anak. Mana yang lebih utama di antara keduanya? Kenapa kalian menuduh perempuan yang tidak punya anak melakukan perzinaan, dan mensucikan perempuan yang melahirkan anak tanpa suami. Sementara kami membebaskan keduanya (Maryam dan ‘Aisyah) dari tuduhan keji itu?

Mendengar jawaban itu sang raja menjadi marah bagaikan orang kesetanan.

Lanjut ia bertanya: “Apakah Nabi kalian melakukan perperangan?”

Abu Bakar: “Iya, benar”.

Raja Romawi: “Apakah ia berperang di barisan terdepan?”

Abu Bakar: “Iya”.

Raja Romawi: “Apakah iya menang?”

Abu Bakar: “Iya”.

Raja Romawi: “Apakah ia pernah kalah?”

Abu Bakar: “Iya”.

Raja Romawi: “Aneh, dia Nabi tapi kok kalah?”

Abu Bakar: “Apakah ‘Isa disalib?”

Raja Romawi: “Iya”.

Abu Bakara: “Apakah tuhan disalib?”

Saat itu terdiamlah orang kafir.

Advertisements
This entry was posted in Dialog Cerdas. Bookmark the permalink.

One Response to Qadhi Abu Bakar al Baqilany

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s