Kok Bisa Begini?

Kok bisa terjadi seperti ini?

Sebuah kisah lucu yang terjadi di sela-sela masa ujian yang dialami seorang dosen bahasa Arab yang bernama “Basyir”.

Setelah selesai ujian pelajaran balaghah, ustadz Basyir langsung memeriksa hasil ujian seperti biasa yang ia lakukan.

Ketika ia memegang lembaran jawaban, ia mulai memeriksa dari soal nomor 1, 2 dan seterusnya.

Sudah hal lumrah dia temukan bila ada sebagian mahasiswa yang tidak menjawab satu atau dua pertanyaan.

Cuma kali ini yang menjadi perhatiannya, seorang mahasiswa tidak menjawab sama sekali. Dia cuma menuliskan beberapa bait sya’ir yang ia karang di tengah-tengah ujian.

Sya’irnya berbunyi:

أبـشـيـر قل لي ماالعمل .. واليأس قد غلب الأمل
قـيـل امـتـحـان بلاغــة .. فحسبته حان الأجل
وفزعت من صوت المراقب .. إن تنحنح أو سعل
وأخذ يجول بين صفوفنا .. و يصول صولات البطل
أبشير مـهـلاً يـا أخـي .. ما كل مسألة تحل
فـمـن الـبــلاغة نـافـع .. ومن البلاغة ما قتل
قـد كـنـت أبـلـد طالب .. و أنا و ربي لم أزل
فـإذا أتـتـك إجابتي .. فيها السؤال بدون حل
دعها وصحح غيرها .. والصفر ضعه على عجل

Kira-kira artinya:

“Wahai Basyir, katakan kepadaku apa yang mesti aku lakukan…

sementara keputus asaan sudah mengalahkan harapan.

Dia katakan: ujian balaghah…

sementara aku menganggapnya sebagai datangnya ajal.

Aku kaget mendengar suara pengawas….

ketika ia mendehem atau ia batuk.

Dia mulai berkeliling di antara baris-baris duduk kami…

dan dia patroli bagaikan patrolinya kesatria.

Wahai Basyir, perlahan ya saudaraku….

tidak semua masalah bisa diselesaikan.

Di antara pelajaran balaghah itu ada yang bermanfaat…

dan ada pula balaghah yang mematikan.

Dan aku, demi Tuhanku, masih saja…

menjadi mahasiswa yang paling bodoh.

Apabila sudah sampai ketanganmu jawabanku….

di sana terdapat pertanyaan yang tidak terjawab.

Tinggalkan saja jawabanku itu dan periksa yang lainnya…

angka nol segera saja bubuhkan di atasnya”.

Membaca sya’ir itu ustadz Basyir langsung saja meluluskannya dalam ujian dan memberikan nilai yang bagus pada mata pelajaran balaghah.

Karena tujuan yang ia usahakan dalam mengajarkan balaghah sudah terwujud melalui sya’ir itu, di mana ia mampu menyusun sebuah sya’ir yang bagus, indah dan lucu di tengah-tengah ujian.

Sebagian orang kadang-kadang tidak menguasai teori-teori yang banyak lagi ribet, akan tetapi dalam praktek ia lebih unggul dari pada orang yang hafal dan menguasai banyak teori.

Sebaliknya, orang yang menguasai banyak teori kadang-kadang kalangkabut ketika berada di medan praktek. Seolah-olah ia tidak tahu apa-apa.

Ibarat orang yang memiliki segala alat pertanian, tapi linglung ketika menggunakannya.

Ketika membajak ia gunakan parang, pas panen ia pakai traktor.

Nau’dzubillah dari kondisi demikian. Apalagi ilmu yang berhubungan dengan akhirat.

Sepintas lalu kita membayangkan orangnya akan begini dan begitu. Tapi dalam pergaulan kita bagai diseruduk badak saking kagetnya; kok begini ya?
Kemana ilmunya yang setinggi langit itu? Mana dia hafalan al Qur’an 30 juz itu? Mana dia ribuan hadits yang sudah ia hafal itu? Mana dia 60.000 judul kitab yang sudah ia baca itu…? Mana dia …..? Mana dia….?

Ya Allah, karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaat.

Advertisements
This entry was posted in Kisah Hikmah. Bookmark the permalink.

One Response to Kok Bisa Begini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s