Seperti Inilah Kehidupan Mengajariku

Suatu kali saya pergi belanja ke pasar Madrasah Hay 10.

Baru sampai di depan pasar, saya berpapasan dengan seorang ibu yang kira-kira berumur 40-an tahun.

Di atas kepalanya ada sebuah keranjang yang penuh berisi barang-barang hasil belanjaannya. Kelihatan cukup berat.

Entah kenapa, tiba-tiba ibu itu terjatuh dan seluruh barang beliannya berserakan. Untung tidak ada mobil yang lewat di sana.

Melihat itu, dengan spontan saya membantu mengumpulkan tomat, kentang, mentimun, buah tin, dll yang berserakan dari keranjang bawaannya.

Namun baru saja saya mulai membantu, ibu itu membentak dengan kerasnya, “Tidak perlu saya dibantu….!! Biarkan….! Tidak perlu kamu ikut campur urusan saya….!!! Minggat kamu…..!!!” Hardiknya dengan volume suara sepenuh rongga mulut sebagaimana biasanya ibu-ibu Mesir kalau bicara.

Dengan perasaan malu, kecewa, sedih berpadu kesal saya pergi meninggalkan ibu itu. Para penjaga toko dan orang yang lewat hanya memandangi saya. Saya tidak tahu apakah mereka mengejek saya atau prihatin terhadap apa yang saya dapatkan dari si ibu.

Sepanjang berbelanja fikiran saya jadi terganggu akibat peristiwa yang baru saja saya alami. Kok bisa demikian ya….? Dalam hati saya bergumam.

Ketika pulang, di tempat yang berdekatan dengan tempat si ibu terjatuh, saya melihat seorang bapak kira-kira berumur 60 tahun menjinjing barang belanjaannya yang kelihatan tidak seberapa. Ada kentang juga, tomat, wortel dan roti isy.

Barangkali kurang memperhatikan jalan, bapak itu kesandung sesuatu, hingga ia hampir saja jatuh. Barang bawaannya terpental dan berserakan, tapi untungnya ia tidak sampai tersungkur seperti si ibu tadi.

Melihat itu saya jadi ragu untuk membantu. Takutnya seperti si ibu tadi lagi. Saya jadi malu dihardik di depan orang banyak.

Setelah memilih sendiri barangnya yang tidak banyak, si bapak memanggil saya dengan ramah. Yabni, ta’al! Nak, sini!

Si Bapak: Kamu dari mana?

Saya: Dari Indonesia.

Si Bapak: Kuwais, bagus. Kamu ngapain di Mesir.

Saya: Kuliah.

Si Bapak: Belajar di mana?

Saya: Di Al Azhar.

Si Bapak: Apakah seperti itu al Azhar mengajarimu? Apakah tidak ada al Azhar mengajari kepedulian kepada orang lain, apalagi kepada orang tua sepertiku? Apakah pantas seorang anak muda membiarkan orang tua terjatuh tanpa ia tolong? Apakah….? Apakah….? Bapak itu terus nyrocos.

Saya: ?#*?/(_#@!

Dunia memang aneh, tidak bisa ditebak dengan rumus matematika.

Advertisements
This entry was posted in Pengalaman. Bookmark the permalink.

One Response to Seperti Inilah Kehidupan Mengajariku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s