Kisah Muwatta’

Imam Malik menceritakan bagaimana awal mulanya beliau menulis kitab al Muwatta’:

Pada suatu kali di musim haji aku ditemui oleh Khalifah Abu Ja’far al Manshur (Khalifah Bani ‘Abbasiyah yang ke-2), beliau berkata:

Tidak tersisa lagi di dunia ini orang alim selain diriku dan kamu. Adapun aku sibuk dengan urusan pemerintahan.

Aku minta kepadamu untuk menulis sebuah kitab yang berisikan sunnah Rasulullah dan fiqh, yang akan menjadi rujukan orang banyak.

Hindari di dalam penulisannya kemudahan-kemudahan Ibnu ‘Abbas, kekakuan Ibnu Umar dan keganjilan Ibnu Mas’ud.

Lalu Imam Malik berkata: Beliau mengajariku bagaimana cara menulis buku.

Dari kisah singkat ini kita bisa menyimpulkan suatu hal yang sangat luar bisa, yaitu: bagaimana kemampuan yang dimiliki oleh pemimpin-pemimpin Islam masa lalu.

Khalifah Abu Ja’far al Manshur mampu mengatakan bahwa: “Tidak tersisa lagi di dunia ini orang alim selain diriku dan kamu” kepada ulama sekelas Imam Malik. Coba bayangkan, beliau bicara seperti itu kepada Imam Malik di zaman ribuan ulama tabi’ tabi’in bertebaran di permukaan bumi.

Itu bukan lah kalimat songong sok mantap, meninggi, apalagi menyombongkan diri. Tapi memang begitulah kenyataannya. Mereka berdualah manusia paling alim di zaman itu.

Dengan bukti, Imam Malik tidak menentang perkataan beliau itu, atau membantah, tapi justru meng-aminkannya dan memenuhi anjuran beliau dengan menulis kitab al Muwatta’. Andaikan perkataan Khalifah Abu Ja’far jauh dari kenyataan tentu Imam Malik akan menjawab: Siapa anda hingga bicara seperti itu?

Ditambah lagi dengan arahan cerdas yang menggambarkan betapa luasnya keilmuan beliau, hingga Imam Malik mengakui bahwa beliau mendapatkan bimbingan dari pernyataan Khalifah Abu Ja’far bagaimana caranya menulis kitab. Bagaikan seorang promotor mengarahkan mahasiswanya dalam penulisan disertasi.

Pemimpin kita dulu bukan saja ahli dalam strategi pemerintahan atau politik, tapi juga sangat mumpuni dalam ilmu syari’at. Bahkan beliau adalah orang terhebat di zamannya.

Bukan Khalifah Abu Ja’far al Manshur saja, tapi lihat lah khalifah-khalifah sebelumnya, seperti empat orang Khulafaur Rasyidin, Umar bin Abdul Aziz yang tidak ada seorang pun berani meragukan keilmuannya, dan Khalifah setelah beliau (Al Manshur) yang merupakan keturunannya, yaitu Khalifah Harun ar Rasyid, khalifah dinasti ‘Abbasiyah terbaik.

Makanya jangan heran bila mereka mampu menjadi penguasa dunia, yang memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran. Ilmu dunia mereka dibimbing dan direm oleh ilmu akhirat.

Mendirikan Khilafah hanya mimpi di siang bolong kalau orang yang akan mengemban amanah khilafah itu tidak memiliki kemampuan seperti ini dan tidak berusaha dulu untuk seperti itu. Ilmu tidak didapatkan dengan meneriakkan yel-yel atau mu’tamar sepanjang tahun.

Juga, amat keblinger orang yang mengatakan bahwa sejarah Islam hanya dipenuhi oleh pertumpahan darah, perperangan dan perebutan kekuasaan. Bagaimana peradaban sebegitu besar berdiri kalau bukan berasal dari ilmu yang hebat yang didasari oleh keadilan, keamanan dan ketentraman. Atau mereka tidak tahu sehebat apa peradaban (hadharah) Islam itu di masa lalu?

Bukan lagi bernostalgia, tapi berusaha ikut dalam pusaran pengembalian kejayaan itu.

Ya Rabb……..!!!a

Advertisements
This entry was posted in Kisah Hikmah. Bookmark the permalink.

One Response to Kisah Muwatta’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s