Hati-Hati Membaca Kitab Klasik

Gerakan penterjemahan buku-buku Islam belakangan ini ke dalam bahasa Indonesia sangat membahagiakan. Hal ini memacu semangat orang untuk lebih giat belajar dan banyak membaca. Dengan demikian siapa pun bisa mempelajari Islam, sekalipun ia tidak menguasai bahasa Arab.

Namun, di balik itu ternyata sisi negatifnya cukup membahayakan. Di mana orang yang punya semangat tinggi, tapi belum mempunyai dasar keilmuan yang cukup ikut angkat bicara. Padahal permasalahannya tidak sesederhana yang ia kira.

Akibatnya, ada di antara oknum yang mudah membid’ahkan, menyesatkan, bahkan mengkafirkan orang lain. Tindakan itu menurutnya ia ambil dari pemahaman buku yang ia baca. Atau sebaliknya, terlalu bermudah-mudah dalam agama, hingga akhirnya serba boleh dan serba relatif, tidak ada standar benar dan salah.

Seperti yang dikritisi oleh Imam al Auza’i 13 abad yang lalu: “Ilmu itu adalah sesuatu yang mulia, yang dipindahkan para ahlinya sesama mereka (mereka berbagi sesama mereka para penuntutnya). Tatkala ilmu itu dituliskan menjadi buku, ikut campurlah di dalamnya orang yang bukan ahlinya”.

Jangankan membaca terjemahannya saja, mampu pun berbahasa Arab dengan mumpuni belum tentu bisa membaca kitab-kitab itu dengan baik. Karena masing-masing penulis ada metode tersendiri dalam menulisnya, yang harus kita pelajari dengan bimbingan guru, mustahil bisa sendirian.

Kali ini kita sorot satu saja di antara contoh kesalahan dalam memahami apa yang dituliskan ulama, yaitu kesalahan dalam memahami apa yang dituliskan oleh Imam ath Thabary dalam kitab tafsirnya.

Saya lihat ada di antara kawan yang mengutip dari tafsir Jami’ul Bayan karya Imam Ibn Jarir ath Thabary, tapi tanpa mengetahui bagaimana caranya bila mengutip dari kitab itu. Karena Imam Ath Thabary punya metode sendiri dalam menulis kitabnya tersebut. Bila orang membacanya tanpa mengetahui metode ini justru bisa menyesatkan, atau dalam istilah ahli hadits “hathibul lail” (tukang cari kayu di malam hari). Di mana ia mengambil kayu dengan meraba-raba, hingga tidak bisa membedakan mana kayu dan mana ular. Bila ia salah ambil tentu fatal akibatnya.

Begitu juga seseorang bila salah mengambil dari tulisan seorang ulama, ia akan mengalami bahaya yang lebih dahsyat akibatnya dari sekedar salah mengambil kayu. Sebab ini masalah agama, bukan hal main-main. Cuma karena dampak negatifnya itu tidak dirasakan ketika hidup di dunia ini membuat orang menjadi serampangan dan nekat.

Jadi, tidak bisa seseorang mengatakan, “Saya mengutipnya di tafsir Ibn Jarir, atau Ibn Jarir berkata begitu kok”. Tidak cukup hanya itu sampai ia tahu apakah kutipannya itu shahih atau dha’if, benar atau salah.

Satu hal yang wajib kita ketahui, bahwa Imam ath Thabary menulis kitabnya itu untuk orang-orang penuntut ilmu seperti beliau. (للرجال كمثله) untuk laki-laki (tokoh) seperti dia. Paling kurang bagi orang yang memang berkutat dalam ilmu agama, khususnya tafsir dan hadits.

Ada satu prinsip yang dipakai oleh Imam ath Thabari dalam menulis tafsirnya, yaitu: sebagaimana yang beliau ungkapkan (من أسند لك فقد حملك) yang maksudnya: Siapa yang menyampaikan suatu riwayat/cerita dengan mencantum deretan orang-orang yang menceritakan sampai kepada sumber awal, maka berarti ia sudah memikulkan tugas kepadamu untuk memeriksa, apakah rentetan orang-orang yang meriwayatkan itu bisa dipercaya atau tidak, ceritanya shahih atau dha’if, atau malah palsu sama sekali.

Jadi prinsipnya, beliau sampaikan dengan menyertakan sanad, masalah benar atau tidak itu tanggungjawab pembaca untuk mempelajari dan menelusurinya.

Oleh karena itu, dulu Prof DR. Jamal Musthafa Abdul Hamid An Najjar pernah mengatakan ketika mengajar kami “Manahij al Mufassirin” bahwa, hendaknya yang membaca kitab tafsir yang ditulis oleh Imam Ibn Jarir ini adalah orang-orang yang mengambil spesialis jurusan tafsir. Itu pun belum cukup kalau dia tidak menguasai ilmu hadits yang memadai.

Yang tidak mendalami tafsir dan hadits sebaiknya menahan diri. Untuk mereka sebaiknya baca tafsir yang lain saja, seperti tafsir Ibn Katsir atau tafsir-tafsir kontemporer yang lebih mudah untuk dipahami. Amat bahaya bila tafsir ini dibaca oleh orang yang tidak mempunyai dasar yang kuat dalam dua ilmu itu. Apalagi yang bertujuan mencari-cari dalil untuk menguatkan pendapatnya dari perkataan-perkataan ulama yang sesuai dengan seleranya. Atau yang suka memplintir ucapan para ulama.

Selain itu Imam ath Thabary banyak mengutip dari cerita israiliyat yang tidak beliau kritisi kebenarannya. Bila kita membacanya tanpa dasar ilmu hadits, bisa-bisa kita menelan mentah-mentah apa yang beliau sampaikan.

Lebih lengkapnya, silahkan didalami dalam kitab “At Tafsir wal Mufassirun”.

NB: Begitu juga dengan kitab-kitab klasik dalam bidang keilmuan lain. Ada metode dalam penulisannya yang harus kita ketahui sebelum membacanya.

Advertisements
This entry was posted in Khawathir. Bookmark the permalink.

One Response to Hati-Hati Membaca Kitab Klasik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s