Cerna Dulu Sebelum Komentar

Akibat dua tulisan saya sebelumnya, banyak respon yang masuk. Baik itu respon positif, maupun negatif. Alhamdulillah, positifnya jauh lebih banyak dari pada negatif.

Kali ini saya ingin mengajak kita semua untuk berpikir secara runtut dan fokus serta terstruktur, tidak loncat sana, loncat sini. Karena bila tidak seperti itu, kita akan sering terbawa perasaan dan hawa nafsu ketika membaca suatu tulisan. Cerna baik-baik, apa yang dituju oleh penulis dalam tulisannya. Jangan keluar dari tujuan itu.

Seperti yang sudah saya jelaskan, tujuan dari dua tulisan saya sebelumnya ialah: SUPAYA KITA TIDAK JATUH KE DALAM DOSA BESAR AKIBAT SALAH DALAM MENANGGAPI PERMASALAHAN POLIGAMI. Garis bawahi tujuan ini, jangan setir kearah lain.

Jadi jangan hubungkan dengan kesalahan tetangga anda yang tidak benar dalam melaksanakan poligami. Atau dengan anak-anak yang terlantar gara-gara ayahnya kawin lagi. Menuduh Rasulullah kawin karena nafsu. Apalagi menafsirkan kalau ini adalah kode bahwa saya akan berpoligami. Insyaallah, sampai saat ini saya masih menganut paham “minal khaifinal muwahhidin”, hehehehe……………

Dalam masalah ini ada perkataan ulama yang perlu sama-sama kita renungkan, baik untuk membaca tulisan saya maupun tulisan orang lain, yaitu perkataan Imam ath-Thufi dalam muqaddimah Kitab at-Ta’yin fi Syarh al-Arba’in:

أوصيك أيها الناظر فيه ، المجيل فى أثنائه و مطاويه : ألا تسارع فيه إلى إنكار خلاف ما ألفه وهمك ، وأحاط به علمك ؛ بل أجدّ النظر و جدّده ، و أعد الفكر ثمّ عاوده ؛ فإنك حينئذ جدير بحصول المراد ، فمن يهد الله فما له من مضلّ ومن يضلل الله فما له من هاد.

Yang kira-kira terjemahannya begini:

“Aku berwasiat kepadamu wahai para pengkaji yang luas perenungannya; jangan terburu-buru mengingkari sesuatu karena tidak sesuai dengan spekulasi dugaanmu dan batas jangkauan pengetahuanmu, tetapi berupayalah sepenuh kesungguhan untuk menelaahnya. Perbaharuilah pikiranmu dan ulangilah kajiannya. Dengan demikian, suatu ketika engkau akan memahami apa yang dimaksud. Siapa yang diberi hidayah oleh Allah tak seorangpun yang sanggup menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan oleh Allah tak seorangpun yang mampu memberinya petunjuk.”

Perkataan beliau yg lain, di Muqaddimah kitab Al-Iksir fi Qawa’id at-Tafsir:

و لم أضع هذا القانون لـمن يجمد عند الأقوال ، و يصمد لكلّ من أطلق لسانه وقال ، بل وضعته لـمن لـم يغتـرّ بالـمحال ، وعرف الرّجــــال بالـحق لا الـحق بالرّجــــال.

Artinya kurang lebih:

“Dan aku tidak meletakkan prosedur ini bagi mereka yang kaku dalam menyikapi setiap pendapat, serta bukan mereka yang bergantung pada absolutnya perkataan dan pernyataan. Kaidah-kaidah ini kupersembahkan bagi mereka yang tidak tersandera oleh kemustahilan, yang mengakui ketokohan seseorang berdasarkan kebenaran, bukan mengakui kebenaran berdasarkan ketokohan.”

Sering orang salah dalam mencerna sesuatu karena sifat ketergesa-gesaan dalam memahami. Tidak mau lebih lama merenungkan dan mencerna. Barangkali, itulah salah satu penyebab munculnya aliran-aliran sempalan dalam agama ini.

Untuk masalah poligami saya batasi dua tulisan ini dulu, karena saya tidak suka membahas melulu dalam satu masalah. Apalagi ini masalah sensitif yang tidak akan selesai-selesai dibahas, sebagaimana saya tuliskan di awal tulisan pertama. Barangkali minggu depan kita bahas lagi satu masalah seputar ini.

Advertisements
This entry was posted in Pengalaman. Bookmark the permalink.

One Response to Cerna Dulu Sebelum Komentar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s