Kebesaran Gelar

Di zaman penuh kepalsuan dan pencitraan ini kadangkala kita menyaksikan orang dengan berbagaimacam cara untuk mendapatkan titel, nama baik, gelar dan ketenaran. Mereka mengira dengan sederetan gelar itu akan menaikkan nilainya di depan manusia banyak.

Untuk itu semua ada yang mengerahkan cara apapun untuk mendapatkan gelar supaya di depan atau di belakang namanya terdapat embel-embel Prof, doctor, Ph.d, MA, dll. Kalau harus memalsukan ijazah pun tidak masalah, yang penting ada gelar.

Padahal bila terjun ke dalam kancah kehidupan, gelar dan titel itu tidak akan berpengaruh apa-apa bila tidak diimbangi dengan kualitas diri. Bahkan orang yang tidak memiliki gelar apapun, bila mempunyai kemampuan dan berkepribadian baik akan dihargai masyarakat. Orang banyak yang akan menempelkan gelar itu kepada namanya tanpa harus memaksa-maksakan diri dan membuat-buat tingkah.

Nama besar tanpa disertai kapasitas yang besar justru akan menjadikan kita jatuh dalam pandangan orang. Oleh karena itu, saya sangat tidak suka bila di depan atau di belakang nama saya dituliskan titel atau gelar, atau disebutkan ketika menyebut nama saya. Cukup itu hanya ada di kertas ijazah, atau surat menyurat yang digunakan untuk urusan-urusan resmi. Biarlah orang mengenal kita dengan nama yang diberikan oleh orang tua dari semenjak lahir.

Sebuah pelajaran penting diberikan oleh Imam Abdullah bin Mubarak yang mengatakan:

“لَوْ خُيِّرْتُ بَيْنَ دُخُولِ الْجَنَّةِ وَبَيْنَ لِقَاءِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَرَّرٍ لاخْتَرْتُ لِقَاءَهُ، ثُمَّ أَدْخُلُ الجَّنَّةَ، فَلَمَّا رَأَيْتُهُ كَانَتْ بَعْرَةٌ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْهُ”.

“Andaikan aku diberi pilihan antara masuk surga atau bertemu dengan Abdullah bin Muharrar pasti aku memilih untuk bertemu dengannya terlebih dahulu, kemudian baru masuk surga. Namun tatkala aku melihatnya, tahi unta lebih aku sukai dari pada dia”.

Sangat ironi sekali memang, orang yang begitu tersohor dengan nama besar hingga rasa rindu dan penasaran untuk bertatap muka dengannya begitu dahsyat, tapi sayang ketika sudah berjumpa, kebesaran nama itu hanya sesuatu yang dilebih-lebihkan, jauh dari kenyataan.

Alangkah malu dan hinanya bila kondisi seperti itu tepat menimpa diri kita.

Ya Allah, jadikanlah hakikat diri kami lebih baik dari pada pandangan dan penilaian orang kepada kami.

Advertisements
This entry was posted in Qadhaya. Bookmark the permalink.

One Response to Kebesaran Gelar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s