Tergantung Suasana Hati

Seorang pemuda dikaruniai rezki oleh Allah untuk menunaikan ibadah umrah.

Selesai menunaikan ritual ibadah, ia masuk ke kamar penginapannya di salah satu kamar yang terdapat di Zam-Zam Tower. Karena keletihan setelah perjalanan jauh dan menjalankan ibadah umrah ia langsung merebahkan diri di atas kasur yang sangat empuk di ruangan super mewah. Dia tidak sadar kalau dari kamarnya bisa memandangi Ka’bah dan orang yang lagi tawaf.

Tengah malam ia terbangun untuk melaksanakan qiyamullail. Ketika ia membuka matanya, pandangannya langsung tertuju ke arah Ka’bah. Dengan spontan ia menghambur ke depan jendela kaca sambil terkesima melihat pemandangan yang sangat mempesona.

Dia menatap Ka’bah dan orang yang lagi berdesak-desakan melakukan tawaf. Kemudian ia memutar kepalanya ke arah kiri dan kanan. Alangkah indahnya kota Makkah di malam hari, di penuhi lampu yang terang benderang. Bibirnya berucap subhanallah…..masyaallah……!!!

Tiba-tiba rasa haru dan bahagia menyelinap keseluruh aliran darahnya. Dalam hatinya ia bergumam, Maha Besar Allah…..begitu dahsyat dan syahdunya orang yang lagi tawaf di Ka’bah. Bagaimana kira-kira indahnya pemandangan malaikat yang tawaf di Baitul Ma’mur, di langit ke tujuh? Ini baru keindahan kota di dunia, bagaimana kira-kira indahnya kota-kota di surga? Tanpa terasa air matanya meleleh ke pipinya.

Hanya tiga menit hal itu berlalu, ia segera tersadar. Ia segera menuju kamar mandi dan mengambil wudhu’. Setelah merapikan pakaian, ia berjalan menuju mesjidil Haram dengan langkah tenang. Bibirnya tidak berhenti berzikir dan hatinya dipenuhi rasa haru yang tidak bisa dilukiskan.

Sesampai di depan Ka’bah ia langsung tawaf sunat tujuh keliling, dilanjutkan dengan shalat sunat di maqam Ibrahim. Setelah itu ia berdo’a dengan penuh harap dan cemas di Multazam. Dia berkata: “Ya Allah, selamatkan lah hamba-Mu ini dari fitnahan hidup dunia dan azab akhirat. Masukkan lah hamba ke dalam golongan hamba-Mu yang shaleh dan masukkan hamba ke surga-Mu”. Entah berapa puluh kali do’a itu ia ulangi.

Waktu berlalu tanpa terasa, sementara ia tetap tenggelam dalam kesyahduan munajatnya. Tubuhnya berada di mesjidil Haram, tapi ruhnya bergelayutan di ‘Arsy Allah dan jiwanya melayang menelusuri alam akhirat.

Tanpa terasa azan subuh pun berkumandang, dan dilanjutkan dengan shalat subuh. Setelah shalat, ia lanjutkan lagi dengan tawaf sunat dan munajat seperti sebelumnya.

Konsentrasinya baru terpecah ketika handphone di sakunya bordering. Ternyata temannya yang menghubungi supaya segera menuju ruang makan hotel untuk sarapan pagi.

Dengan langkah berat ia meninggalkan mesjid. Setiap sebentar ia membalikkan badan untuk melihat Ka’bah. Dalam hatinya ia berkata: “Selesai sarapan aku akan kembali”, sambil menghibur diri.

……….

Di sudut lain di kota Makkah…..

Seorang pemuda yang juga mendapatkan rezki untuk menunaikan ibadah umrah. Ia tinggal di sebuah hotel sederhana yang tidak terkenal namanya. Dari penginapannya itu tidak kelihatan mesjidil Haram, apalagi Ka’bah dan orang yang lagi tawaf.

Di tengah malam ia terbangun dari tidur nyenyaknya. Dia segera menuju jendela yang ditutupi tirai. Dari sana ia mengintip kemegahan dan keindahan Zam-Zam Tower yang tinggi menjulang, mencakar langit.

Dalam hatinya ia bergumam: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, ternyata kota Makkah tidak ada bedanya dengan Manhattan, Las Vegas dan Los Angeles (Padahal dia tidak pernah ke kota yang dia sebutkan itu). Sementara bekas peninggalan sejarah Rasulullah sudah habis semua disulap menjadi gedung. Tidak ada tersisa selain Ka’bah. Gimana ini umat Islam akhir zaman? Gimana ini pemerintah Saudi?” Dia mendesah penuh kesal.

Hanya lima menit ia tenggelam dalam kegalauannya, kemudian ia kembali membaringkan tubuhnya di kasur yang tidak empuk. Tubuhnya terperangkap di sebuah kamar yang pengap di satu hotel di kota Makkah, tapi angan-angannya melanglang buana ke Perancis dan Mexico.

Dia baru terbangun kembali ketika bel di kamarnya berdering. Ternyata temannya yang membangunkan untuk mengajak mencari makanan untuk sarapan pagi.

Dia lihat matahari sudah bersinar terik. Shalat subuhnya pun terpaksa dijamak ta’khir dengan shalat Dhuha.

اللهم لا تجعل الدنيا أكبر همنا

Advertisements
This entry was posted in Serba-Serbi. Bookmark the permalink.

One Response to Tergantung Suasana Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s