Syahwat Untuk Kaya

Kecintaan kepada harta dunia itu adalah insting yang sudah terpatri di dalam jiwa setiap manusia, sebagaimana terpatrinya rasa lapar di dalam diri setiap orang. Bahkan bagi sebagian orang lebih dari pada itu, sampai ia tega menahan lapar demi utuhnya kekayaan yang dia miliki. Hingga kecintaan kepada harta itu bagaikan rasa ingin buang hajat yang tidak bisa ditahan-tahan.

Jadi, sebenarnya tidak ada perlunya kita memberi motivasi kepada orang lain untuk mau menjadi orang kaya, karena itu sama artinya kita memotivasi orang yang lagi terdesak mau buang hajat untuk segera buang hajat. Akibatnya bisa-bisa yang terjadi ibarat menggas mobil yang putus rem.

Permainan setan untuk menggelincirkan umat manusia amatlah halus. Kadang-kadang dia bisikkan sesutu yang kelihatan benar secara zahir, padahal racun mematikan pada hakikatnya.

Ayat dan hadits Rasul selalu mengingatkan kita untuk jangan kesensem cinta kepada harta dunia. Jangan salah pahami ayat Allah dan sunnah Rasul untuk membenarkan kobaran selera kita.

Yang perlu diajarkan adalah bagaimana mencari harta sesuai dengan yang diredhai Allah dan membelanjakannya sesuai dengan aturan Allah pula. B
ukan memotivasi supaya punya banyak harta dengan dalih kalau kita kaya kita bisa banyak bersedekah, bisa berdakwah lebih leluasa, bisa pergi haji dan umrah, bisa menyantuni fakir miskin, anak yatim, janda terlantar dan lain sebagainya.

Tidak diajarkan dan dimotivasipun semua orang tahu hal itu. Tapi sedikit yang jujur dengan alasan itu bila kekayaan betul-betul sudah berada di genggamannya.

Sudah puluhan tulisan mengenai zuhud saya baca, sudah tadabburi ayat al Qur’an dan hadits, sudah dengar dari banyak ulama tentang zuhud terhadap harta benda dunia, tapi tetap saja rasa cinta dunia dan keinginan untuk kaya raya, memiliki harta benda yang banyak bergejolak di dalam diri saya bagaikan hebatnya gejolak syahwat ingin menikah dalam diri seorang pemuda sehat wal afiat yang berumur 17 tahun.

Lalu bagaimana kira-kira gejolaknya pada diri orang yang tidak melakukan itu semua kemudian kita gembosi untuk kaya dengan memakai dalil-dalil agama?

NB: Ini hanya pandangan saya, kita boleh berbeda.

Advertisements
This entry was posted in Qadhaya. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s