Tidak Perlu Membanggakan Anak

Ada pertanyaan:

Kenapa antum tidak suka membuat status tentang anak dan membanggakan prestasi atau kelebihannya, seperti yang dilakukan sebagian orang? Apakah tidak ada hal yang bisa dibanggakan dari anak antum?

Ada beberapa jawaban:

1. Anak itu masih dalam proses pembentukan. Kita tidak tahu bagaimana hasil dari proses itu nanti. Terlalu dini bila kita memberikan pujian atau celaan dari sekarang.

Bila hasilnya sesuai dengan pujian dan apa yang kita bangga-banggakan dari sekarang, alhamdulillah, kita syukuri nikmat Allah tersebut. Tapi bila tidak sesuai dengan kenyataannya, tentu akan menjadi bahan cibiran orang lain.

Kasus begini sudah berulang kali saya lihat dari semenjak kecil.

2. Alhamdulillah, waktu kecil saya termasuk anak-anak yang berprestasi. Tapi orang tua saya tidak suka membangga-banggakan saya kepada orang lain.

Cukuplah orang saja yang memberikan penilaian. Karena orang yang terlalu banyak membanggakan diri dan keluarganya kepada orang lain akan membuat orang bosan. Apa faedahnya bagi orang lain ketika kita berbangga, selain mendatangkan kebencian? Itulah prinsip beliau.

3. Membanggakan diri dan keluarga kepada orang banyak kadang-kadang mendatangkan rasa iri dan dengki. Amat berbahaya bila ada orang berpenyakit ‘ain yang hasad. Akibatnya akan mencelakakan anak yang kita bangga-banggakan. Bahkan bisa memporak-porandakan rumah tangga.

Saya pernah dapat cerita dari seorang ikhwah bahwa pada awalnya anaknya rajin dan suka menghafal al Qur’an. Sampai 3 juz yang sudah dia hafal. Padahal umurnya baru 4 tahun.

Dia tidak pernah menceritakan di FB tentang anaknya itu. Cuma bila ngumpul sesama bapak-bapak ia ikut saling berbagi cerita tentang anaknya. Dia agak berbangga perihal anaknya tersebut.

Tidak lama setelah itu, sampai hari ini, tiba-tiba anaknya tidak mau lagi menghafal al Qur’an. Sudah susah payah ia membujuknya untuk melanjutkan hafalan, tapi tidak berhasil. Ada semacam gangguan kejiwaan yang terjadi pada anaknya itu.

4. Ada yang mengatakan: “Tujuannya supaya orang mengambil pelajaran, saling berbagi faedah”.

Kalau menurut saya, ambillah contoh kepada orang yang sudah selesai melaluinya. Jangan berpedoman kepada orang yang masih dalam proses menuju itu. Orang yang belum terbukti berhasil masih akan mengalami ribuan rintangan dan halangan. Masih akan terjatuh ke berbagai ujian, fitnahan dan cobaan.

Kalaupun ingin berbagi faedah, ceritakan saja prosesnya dan kiat yang kita miliki, tidak usah kondisi anak yang dipaparkan kepada orang lain.

Perhatikanlah sekeliling kita, betapa banyak orang yang suka berbangga-bangga, tapi akhirnya ia malu sendiri akibat yang ia banggakan berubah dari yang ia banggakan.

Dulu saya lihat ada seorang bapak yang suka membanggakan prestasi anaknya kepada temannya. Anaknya juara, bisa kuliah di universitas anu, beginilah dan begitulah.

Si bapak yang mendengar selalu menjawab dengan senyuman, karena tidak ada prestasi anaknya yang bisa ia banggakan. Namun barangkali ia terus berdo’a untuk kebaikan anak-anaknya.

Hari ini ternyata anak yang dibanggakan itu hanya jualan di warung kecil, sedangkan anak yang tidak bisa dibanggakan sudah melanglang buana kian kemari, melintasi berbagai negara di dunia berkat ilmunya.

5. Cukuplah celaan Allah terhadap orang yang suka berbangga menahan lidah dan tangan kita untuk menuliskan kalimat untuk berbangga.

Wallahu a’la wa a’lam.

Advertisements
This entry was posted in Pendidikan Anak. Bookmark the permalink.

One Response to Tidak Perlu Membanggakan Anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s