Tergantung Cara Menyikapi

Saya kenal dua orang suami-istri yang sudah lama tidak dikaruniai anak, dan sudah tidak mungkin punya anak.

Keduanya taat beribadah. Terlebih si suami. Shalat malamnya meniru Rasulullah yang kakinya sampai bengkak. Kaca matanya tebal karena tilawah banyak sekali, sampai jadi hafizh. Padahal tidak menyengaja untuk itu.

Suatu kali istrinya berkata, “Tidak usahlah terlalu memaksakan diri untuk beribadah”.

Beliau menjawab, “Tidak apa-apa. Hanya ini harapan kita satu-satunya. Kita tidak punya anak yang akan mendo’akan kalau sudah berada di kuburan nanti. Juga tidak punya harta yang akan disedekahkan. Apalagi ilmu yang mau diajarkan”

Di lain tempat lain lagi modelnya. Tapi -alhamdulillah- saya dilupakan Allah siapa orangnya.

Seorang bapak punya banyak anak. Dia giat berusaha untuk menafkahi dan menyekolahkan anak-anaknya tersebut.

Sayangnya, dia tidak peduli dengan kewajiban kepada Allah. Shalat kapan ingat saja.

Ketika dinasehati ia menjawab, “Tidak apa-apa. Saya punya banyak anak yang akan mendo’akan bila sudah meninggal nanti”.

Begitulah pemahamannya.

Advertisements
This entry was posted in Serba-Serbi. Bookmark the permalink.

One Response to Tergantung Cara Menyikapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s