Memahami Kata “Ular” dalam Al Qur’an

Bila kita membaca kisah Nabi Musa di dalam al Qur’an, pada potongan yang menceritakan mu’jizat tongkat berubah menjadi ular, kita akan menemukan kosa kata yang berbeda-beda untuk mengungkapkan kata-kata yang mempunyai makna “ular”.

Pertama, dengan menggunakan kata ( حية), yang artinya jenis ular. Kata ini bisa digunakan untuk ular apapun. Ular besar atau kecil, jantan atau betina, yang penting ular. Allah berfirman:

فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى

“Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat”. (Thaha: 20)

Kedua, dengan menggunakan kata ) جآن), yang artinya “ular kecil”. Allah berfirman:

وَأَلْقِ عَصَاكَ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ يَا مُوسَى لا تَخَفْ إِنِّي لا يَخَافُ لَدَيَّ الْمُرْسَلُونَ

dan lemparkanlah tongkatmu”. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seperti dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. “Hai Musa, janganlah kamu takut. Sesungguhnya orang yang dijadikan rasul, tidak takut di hadapan-Ku. (An Naml: 10)

وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ يَا مُوسَى أَقْبِلْ وَلا تَخَفْ إِنَّكَ مِنَ الآمِنِينَ

dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa, datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. (Al Qashash: 31)

Ketiga, dengan menggunakan kata (ثعبا), yang artinya “ular besar”. Allah berfirman pada dua ayat di dua surat yang berbeda dengan redaksi yang sama, yaitu Al A’raf ayat 107 dan Asy Syu’ara’: 32

فَأَلْقَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌ

“Maka Musa menjatuhkan tongkatnya, lalu seketika itu juga tongkat itu menjadi ular yang sebenarnya”.

Mungkin muncul pertanyaan dalam pikiran kita, manakah yang benar, apakah ular kecil atau ular besar? Apakah yang benar dengan ungkapan “جآن” atau “ثعبان”? Dan tidak ada masalah dengan ungkapan “حية”, karena ia bisa dipakaikan untuk segala macam ular.

Untuk menjawab itu Imam Zamakhsyari memberikan dua solusi supaya kita bisa memahami ayat dengan benar dan tidak memandang ada kontradiksi antar ayat.

1. Ketika tongkat Nabi Musa berubah menjadi ular, pada awalnya berupa ular kecil yang lincah. Kemudian semakin besar dan bertambah besar, sampai menjadi ular raksasa yang sangat besar. Maka yang diinginkan dengan kata “جآن” adalah kondisi awalnya, dan kata “ثعبان” menjelaskan keadaan akhirnya.

2. Atau tongkat itu berubah menjadi ular besar tapi mempunyai gerakan lincah bagaikan ular kecil.

Barangkali dengan mengetahui hal semacam ini menambah pemahaman kita terhadap Al Qur’an, selanjutnya menghidupkan semangat untuk mempelajari, menghafal, mentadabburi. Dan yang paling penting mau mengamalkan.

Tunggu status selanjutnya yang serupa.

Advertisements
This entry was posted in Tadabbur Al Qur'an. Bookmark the permalink.

One Response to Memahami Kata “Ular” dalam Al Qur’an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s