Apa yang Ditimpakan Perputaran Hari Terhadap Kaum Kita?

Untuk membantu memahami bagaimana seharusnya dakwah Islam ini dijalankan, kita bisa mencermati cuplikan dialog tiga orang pemuda Quraisy yang saat itu belum mendapatkan hidayah Islam. Dialog yang dikemas untuk naskah drama dalam gaya bahasa kontemporer.

Dialog yang menceritakan perjalanan dakwah Rasulullah di “‘amul wufud” (tahun pengiriman duta untuk mengajak raja-raja dunia untuk menganut agama Islam). Peristiwa yang terjadi mengiringi perjanjian Hudaibiyah.

Intinya, agama ini disebarkan atas perjuangan, usaha dan kesungguhan manusia. Bukan agama khayalan, yang mengandalkan kesaktian atau keajaiban turun dari langit. Karena dalam usaha itulah manusia bisa dinilai. Siapa yang sabar, teguh dan istiqamah. Serta siapa yang putus asa, berpaling dan ingkar.

………………

Apa yang Ditimpakan Perputaran Hari Terhadap Kaum Kita?

Suatu kali terjadi dialoh antara Ikrimah bin Abi Jahal, Khalid bin Walid dan Shafwan bin Umayyah:

Ikrimah bin Abu Jahal berkata: “Muhammad telah mengutus duta-dutanya kepada para raja yang ada di seantero dunia, padahal kita belum selesai menghapadinya dan dia juga belum selesai menghadapi kita. Dia betul-betul sudah ditipu oleh kepongahan dirinya sendiri”.

Khalid bin Walid menimpali: “Apa yang mengherankan? Dulu ia sudah memberikan harapan kepada shahabatnya bahwa suatu saat mereka akan menguasai Persia, Romawi, dan Yaman, padahal jumlah mereka saat itu hanya beberapa orang dan mereka dalam situasi tidak aman dari ancaman kita. Bapak-bapak kita meremehkannya dan pengikutnya.

Shafwan bin Umayyah ikut angkat bicara: “Mereka pantas untuk mendapatkan semua pelecehan itu. Sekalipun seluruh orang Arab masuk ke dalam agamanya, aku kira mereka tidak akan mampu mewujudkan sesumbar mereka itu. Apa yang bisa mereka lakukan untuk menghadapi kerajaan Persia dan Romawi, dua negara adikuasa saat ini”.

Khalid menjawab: “Ingat baik-baik, mereka itu adalah anggota kaummu juga. Apakah kamu meremehkan kemampuan kaummu sendiri? Bila seluruh Arab bersatu, mereka akan menjadi bangsa yang besar seperti Romawi dan Persia. Dan kita bangsa Arab adalah bangsa yang sudah berpengalaman untuk sabar di atas kesulitan hidup dan menanggung beban perang”.

Tiba-tiba Ikrimah bin Abi Jahal memotong perkataan Khalid: “Kemampuan perang bangsa Arab tidak bisa dibandingkan dengan kemampuan mereka. Kita bangsa Arab berperang dalam rangka mempertahankan diri dari serangan musuh, sementara mereka itu adalah pasukan yang terlatih, yang tersusun rapi dan terorganisir. Belum lagi persenjataan mereka yang tidak akan mungkin kita hadang, bahkan sejauh mana kehebatannya tidak mampu kita ukur dan ketahui”.

Khalid berkata: “Andaikan ia betul-betul seorang nabi, maka demi Allah, pasti kekuasaannya akan sampai ke negeri mereka”.

Shafwan bin Umayyah berkata: “Bila ia betul seorang nabi cukuplah baginya berdo’a kepada Tuhannya supaya Dia membinasakan para penentangnya atau menolak kejahatan mereka”.

Khalid berkata: “Kalau ia berdo’a seperti itu, lalu Tuhannya memperkenankan, akibatnya bangsa Arab binasa sebelum mereka masuk Islam, apakah pantas baginya berkata setelah itu, “Agamaku sudah memperoleh kemenangan dan manusia sudah masuk ke dalamnya?! Atau adakah kesempatan baginya untuk memberi kabar gembira kepada kaumnya bahwa Allah akan menundukkan untuk mereka kerajaan Persia, Romawi dan yang lainnya?

Anggaplah dia bisa mewujudkan kemenangan hanya dengan mengandalkan do’a tanpa harus berusaha mencurahkan segala kemampuan, lalu apa yang akan dilakukan para shahabatnya sesudah itu?

Kalian sekarang berkata: Apa yang akan mampu mereka lakukan dalam perperangan menghadapi Persia dan Romawi?

Aku lebih mengerti seluk beluk perperangan. Perhatikanlah, apa yang sudah ia lakukan semenjak hijrah ke Yatsrib (Madinah)! Mereka telah mengalahkan kita di Badar, kemudian kita balik mengalahkan mereka di Uhud. Kita mengira bahwa itulah akhir eksistensinya dan shahabatnya. Ternyata tidak, dia begitu kokoh dan sabar menghadapi kita, mereka lanjut menyebarkan dakwahnya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Pada kesempatan berikutnya kita mengepungnya bersama kesatuan bangsa Arab. Untuk mempertahankan diri, mereka membentengi Yatsrib dengan cara menggali parit. Penyerangan kita berakhir dengan angin punting beliung yang memporak porandakan kekuatan multi qabilah.

Tahun berikutnya ia datang untuk melaksanakan umrah. Dengan segala upaya kita menolaknya dan ia pun kembali ke Madinah.

Sebelum mereka pulang, terjadi perjanjian antara kita dengan mereka. Kita mengajukan segala syarat yang menguntungkan kita. Dia pun menerimanya, sekalipun shahabat-shahabatnya merasa sangat keberatan.

Tapi apa kenyatannya? Hari demi hari jumlah dan kekuatan mereka terus bertambah, dan kekuatan Quraisy semakin melemah.

Lalu apa yang ditimpakah perputaran hati-hari kepada kaum kita?!”

………………

Lihat, bagaimana cerdasnya Khalid bin Walid memahami dakwah Islam ini? Padahal beliau belum mengucapkan syahadat pada waktu itu. Berkat kecerdasan itu, hidayah Islam masuk ke dalam hatinya.

Advertisements
This entry was posted in Dialog Cerdas. Bookmark the permalink.

One Response to Apa yang Ditimpakan Perputaran Hari Terhadap Kaum Kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s