Indah Belum Tentu Benar

10653559_10203886538545715_1091133534981572860_n

Saya berulangkali mendapatkan kiriman foto seperti ini di WA. Kalimat yang kedengarannya indah di telinga. Yang artinya kira-kira begini:

“Kecintaan laki-laki kepada perempuan itu adalah fitrah…

Tetapi memelihara cinta itu merupakan sifat kelelakian.

Dan laki-laki sejati bukanlah yang mencintai sejuta perempuan.

Akan tetapi ia mencintai satu orang perempuan dengan sejuta cara”.

Kadang-kadang kalimat yang terasa indah di telinga harus dipikir sejuta kali untuk mengucapkannya. Cemas bila itu termasuk kalimat ringan tapi gara-garanya kita direndam di Jahannam.

Rasulullah bersabda:

….وان العبد ليتكلم بالكلمة من سخط الله، لا يلقي لها بالا، يهوي بها في جهنم

“Dan sesungguhnya seorang hamba betul-betul mengucapkan satu kalimat yang mendatangkan kemarahan Allah, padahal ia tidak sengaja, akibatnya ia direndam di dalam neraka Jahannam”. (Hadits riwayat Bukhari bab Hifzhullisan (Menjaga Lidah) hadits nomor: 6478)

Allah berfirman:

وتحسبونه هينا وهو عند الله عظيم

“…..dan kalian menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar”. (An Nur: 15)

Tidaklah demi menyenangkan hati istri tanpa sengaja kita menghina Rasulullah dan syari’atnya. Apakah Rasulullah bukan lelaki sejati karena beliau mencintai banyak perempuan?

عن سعيد بن جبير، قال لي ابن عباس: هل تزوجت؟ قلت: لا، قال: فتزوج فان خير هذه الامة اكثرها نساء

Dari Sa’id bin Jubair, Ibnu Abbas bertanya kepadaku: “Apakah engkau sudah menikah?” Aku menjawab: Belum. Lalu beliau berkata: “Menikahlah, sesungguhnya sebaik-baik umat ini adalah yang banyak perempuannya (istrinya)”. (Hadits riwayat Bukhari nomor 5067)

Ulama menjelaskan, yang dimaksud sebaik-baik umat itu adalah Rasulullah. Beliau adalah orang yang paling banyak istrinya. Dengan itu beliau menganjurkan kita untuk menikah. Apakah dengan demikian Rasulullah bukan lelaki sejati?

Kita menyampaikan ini bukan karena kita laki-laki yang lagi merancang untuk berpoligami, tapi bukan pula laki-laki yang bila melihat kehormatan agamanya tersepelekan dia berlalu begitu saja.

Selama nasehat menasehati dengan taqwa masih berjalan, umat ini akan selalu dalam kebaikan. Tapi bila sensitifitas sudah hilang ketika sesuatu yang bahaya berlalu maka hanyutlah umat ini.

Laki-laki pendukung poligami bukan artinya ingin berpoligami. Tapi ia hanya ingin menyampaikan bagaimana hukum Allah sebenarnya. Jangan kita ingkari syari’at karena bertentangan dengan selera dan hawa nafsu.

Semoga hidayah Allah selalu menyertai kita.

Advertisements
This entry was posted in Keluarga. Bookmark the permalink.

One Response to Indah Belum Tentu Benar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s