Meninggalkan Kebiasaan Buruk

Di antara hikmah terbesar dari perintah berpuasa adalah melatih diri untuk meninggalkan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan. Bila seorang mukmin diperintahkan untuk meninggalkan makan, minum dan bergaul suami-istri di siang hari bulan Ramadhan padahal itu adalah perbuatan yang sebenarnya halal, lalu ia mampu melakukan itu, maka meninggalkan perkara yang dilarang atau diharamkan Allah tentu akan lebih mampu dan patuh lagi. Meninggalkan yang halal lagi baik saja mampu apalagi meninggalkan yang haram lagi hina. Begitulah idealnya seorang mukmin.

Bila menjalankan perintah Allah, seperti shalat, zakat, haji, dan ibadah lainnya akan diberi pahala oleh Allah, begitu juga meninggalkan larangan, tidak kalah mulia nilainya di sisi Allah. Ada nilai perjuangan melawan kehendak hawa dan nafsu dalam hal itu, dan melakukannya bukanlah perbuatan yang mudah. Bahkan ia adalah perbuatan yang sangat berat, lebih berat dari pada melawan musuh dalam perperangan.

Karena itu, orang yang sanggup menentang gejolak hawa nafsu dalam dirinya, itulah orang yang mulia di sisi Allah. Dia dijanjikan Allah untuk masuk ke surga-Nya. Sebaliknya, orang yang tidak peduli dengan aturan Allah, berbuat semaunya, Allah ancam dengan azab neraka Jahim.

Allah berfirman:

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya neraka Jahimlah tempat tinggalnya. Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya”. (An-Nazi’at: 37-41)

Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الصَّدَقَةِ أَعْظَمُ أَجْرًا؟ قَالَ: «أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَخْشَى الفَقْرَ، وَتَأْمُلُ الغِنَى، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الحُلْقُومَ، قُلْتَ لِفُلاَنٍ كَذَا، وَلِفُلاَنٍ كَذَا وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ»

“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Seseorang datang kepada Rasulullah bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya? Rasulullah menjawab: “Engkau bersedekah sedangkan engkau dalam keadaan sehat, bersifat pelit, takut miskin, berharap kaya. Dan engkau tidak menangguhkan melakukannya sampai nyawa tiba di tenggorokan (sudah dekat ajal kematian). Engkau berkata: “Untuk si Fulan segini, untuk si Fulan yang lain segitu, dan ada bagian untuk si Fulan yang lain”. (HR. Bukhari Muslim)

Dari hadits ini kita menemukan bahwa sedekah yang paling besar dan mulia pahalanya di sisi Allah ialah sedekah yang dikeluarkan oleh seseorang yang di dalam dirinya ada rasa pelit karena ia juga sangat membutuhkan. Dia berharap sekali bisa menumpuk kekayaan sebanyak-banyaknya. Namun ia mampu melawan bisikan halus tersebut hingga ia mampu memberikan sebagian harta yang sangat ia cintai itu kepada orang lain.

Perjuangan berat yang ada dalam dirinya untuk mengalahkan desakan hawa nafsu itulah yang dinilai oleh Allah sebagai amal yang sangat mulia. Di mana pelakunya berhak mendapatkan ganjaran yang mulia juga.

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ لَيَعْجَبُ مِنَ الشَّابِّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ»

“Sesungguhnya Allah betul-betul ta’jub kepada seorang pemuda yang tidak ada “shabwah” pada dirinya. (HR. Ahmad)

Imam Al-Munawiy dalam kitab Faidul Qadir menjelaskan maksud hadits ini:

(ليست له صبوة) artinya “tidak ada kecendrungannya kepada hawa nafsu karena kebagusan pembiasaaan dirinya terhadap kebaikan, dan kekuatan tekatnya untuk menjauhkan diri dari segala kejahatan”.

Pemuda yang tidak ada “shabwah” pada dirinya itu terbentuk karena ia tumbuh dalam suasana taat kepada Tuhannya. Karenanya ia termasuk salah seorang di antara tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan perlindungan khusus di akhirat nanti, di bawah naungan ‘Arsy Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah:

“سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللَّهِ

“Tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah di hari kiamat di bawah naungannya, di hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya, mereka adalah: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan ibadah kepada Allah,….(HR. Bukhari Muslim)

Coba kita perhatikan, seorang pemuda yang taat kepada Tuhannya akan mendapatkan pandangan takjub dari Penciptanya. Karena itu ia dijanjikan akan mendapatkan perlindungan dan perhatian khusus dari Allah di akhirat kelak, di saat semua manusia sibuk menghadapi susahnya Padang Mahsyar.

Dia diberi oleh Allah kemuliaan itu karena ia sudah bersungguh-sungguh waktu hidup di dunia melawan gejolak hawa nafsunya. Masa muda yang penuh godaan, segala fasilitas untuk bermaksiat ada pada dirinya, namun itu semua tidak menjadikannya lalai dan berpaling dari jalan yang benar. Amat langka pemuda seperti itu. Susah ditemukan, dan sulit diwujudkan, kecuali oleh orang yang dirahmati Allah.

Dari tiga contoh hadits di atas kita temukan dua tipe manusia, yaitu: orang pelit yang mampu melawan kekikirannya sampai ia sanggup bersedekah, dan pemuda yang penuh gejolak hawa nafsu mampu mengendalikan syahwatnya hingga ia hidup dalam ketaatan. Keduanya menjadi orang istimewa di hadapan Allah karena mereka sudah berhasil berjuang dan berperang dengan dirinya sendiri. Di mana salah satu hikmah terbesar dari puasa Ramadhan adalah untuk melatih diri kita melakukan perperangan besar itu hingga menjadi pemenang yang berhasil menggondol peringkat taqwa di akhirnya.

Maka di antara ciri-ciri orang yang berhasil dalam berpuasa dan mencapai derajat taqwa adalah bila ia sanggup mengalahkan bisikan-bisikan jahat yang terdapat pada dirinya. Dan hal itu harus terwujud ke permukaan melalui sikap dan perangai.

Bila ia seorang pendusta, ia akan berhenti berdusta. Bila ia hobi bergunjing, ia kan jadi benci bergunjing. Bila ia kasar dan ketus, akan berubah menjadi seorang yang lembut dan ramah. Bila ia mudah marah akan menjadi seorang yang mampu mengendalikan diri. Dan begitulah seterusnya pada sikap dan akhlak yang lain.

Dan indikasi paling kongkrit ialah bila ia seorang perokok ia akan berhenti merokok mulai idul fitri nanti sampai seterusnya.

Ya Allah, beri kami kekuatan mengalahkan tabiat jelek yang sudah menjadi biasa pada diri kami.

Advertisements
This entry was posted in Puasa Ramadhan and tagged . Bookmark the permalink.

One Response to Meninggalkan Kebiasaan Buruk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s