Kenapa Umat Nabi Luth Dihancurkan Sedemian Rupa?

Pernahkah terbayang dalam pikiran kita, kenapa Allah membinasakan kaum Nabi Luth dengan azab yang sangat mengerikan? Dengan menjungkir balikkan negeri mereka, yang di atas jadi di bawah dan yang di bawah berada di atas. Tidak cukup sampai di sana, dihujani lagi dengan batu dari atas. Sampai tidak ada satu pun bekas peninggalan mereka yang tersisa dan tidak satu orangpun yang selamat. Bahkan bekas tempat tinggal merekapun tidak bisa ditempati lagi, baik oleh manusia maupun hewan.

Berbeda dengan kaum yang lain, yang juga dibinasakan Allah.

Kaum Nabi Shaleh dibinasakan dengan suara halilintar yang menghancurkan pendengaran, benak dan jantung mereka. Tapi bangunan megah yang mereka bangun utuh sampai sekarang.

Fir’aun dan kaumnya ditenggelamkan di laut Merah, sedangkan bangunan yang mereka bangun dan bekas-bekas peradapan mereka masih tersisa sampai sekarang.

Kaum Nabi Hud sekalipun ditimbun dengan pasir tebal, di dalamnya masih meninggalkan bekas yang sampai hari ini ahli arkeologi berusaha menggalinya.

Di samping itu, kaum-kaum selain kaum Nabi Luth ada yang diselamatkan Allah karena ada yang beriman di antara mereka. Sedangkan kaum Nabi Luth tidak ada yang diselamatkan satu orang pun. Hanya anggota keluarga Nabi Luth minus istrinya yang selamat. Artinya beliau dan anak-anaknya saja yang tidak dibinasakan.

Barangkali hal itu disebabkan oleh beberapa faktor:

1. Karena tanpa diazabpun akhirnya mereka akan binasa dan musnah semua. Bila laki-laki sudah mencukupkan diri dengan laki-laki dan perempuan juga begitu, itu maknanya dalam waktu yang tidak terlalu lama popolusi manusia di sana akan habis sendiri. Makanya, sebelum penyakit kelainan itu menular kepada kaum yang lain di luar kampung mereka, Allah terlebih dahulu membinasakan mereka sampai ke akar-akarnya, tanpa tersisa walau satu orang.

2. Karena mereka kelompok manusia yang pertama memulai kelainan itu, yang belum pernah dilakukan oleh umat sebelum mereka. Untuk itu mata rantai kehinaan ini harus diputus sebelum menular kepada yang lain. Dan hal itu terbukti, penyakit kelainan itu tidak muncul lagi pada umat setelahnya. Baru pada umat Nabi Muhammad di ujung zaman ini kembali muncul kelainan tersebut.

3. Maksiat yang satu ini lain dari pada yang lain. Dia sudah keluar dari fitrah penciptaan manusia, bahkan binatang sekalipun. Bila manusia jatuh kepada dosa zina, itu masih masuk dalam fitrah di mana laki-laki suka kepada perempuan. Aslinya memang Allah menciptakan rasa saling ketertarikan dari dua arah. Cuma pezina melakukannya di luar aturan yang sudah digariskan Allah.

Beda dengan orang yang melakukan perbuatan umat Nabi Luth, mereka sudah keluar dari fitrah itu. Aslinya laki-laki sesama laki-laki dan perempuan sesama perempuan tidak diciptakan di antara mereka syahwat saling ketertarikan. Namun karena rusaknya jiwa akibat memperturutkan bisikan syetan dan rusaknya pergaulan, sedikit demi sedikit fitrah itu terkikis. Yang harusnya perasaan itu tidak muncul sama sekali, malah bergejolak bagai kebakaran tanpa bisa dipadamkan kecuali dengan neraka, atau bagaikan tsunami yang tidak mungkin dibendung kecuali oleh malaikat maut.

Padahal kodrat seperti itu diberikan Allah supaya bangsa manusia sebagai khalifah yang ditugaskan sebagai pemakmur bumi tetap berkelanjutan. Sementara kelainan sifat itu bisa menghentikan tujuan penciptaan manusia tersebut.

Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan berkata:

لَوْلاَ أَنَّ اللهَ ذَكَرَ قَوْمَ لُوْطٍ، مَا شَعَرْتُ أَنَّ أَحَداً يَفْعَلُ ذَلِكَ.
“Andaikan Allah tidak menyebutkan tentang kaum Nabi Luth, aku tidak mengira kalau ada seorangpun yang akan melakukan hal itu”.

4. Bila seseorang sudah terlanjur melakukan dosa ini hampir mustahil bisa kembali kepada kebenaran. Hati menjadi tertutup karena dahsyatnya gejolak hawa nafsu. Tidak ada jalan lain bagi mereka selain mencari-cari pembenaran untuk melegalkan apa yang mereka inginkan. Terbukti, sekian lama Nabi Luth mendakwahi mereka, tidak ada satu orangpun yang mau inshaf dan kembali ke jalan yang benar. Hanya azab dan kehancuran yang pantas bagi mereka.

Demi hal itu, tindakan preventif untuk diri kita dan orang-orang yang kita cintai harus dilakukan dari sedini mungkin. Jangan sampai dosa ini mendekat kepada diri, keluarga, lingkungan dan masyarakat kita.

Di dalam kitab Siar A’lam an Nubala’ Imam Adz-Dzahaby meriwayatkan sebuah hadits:
عَنْ عُرْوَةَ: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- قَالَ: (يَكُوْنُ فِي آخِرِ أُمَّتِي مَسْخٌ وَخَسْفٌ وَقَذْفٌ، وَذَلِكَ عِنْدَ ظُهُوْرِ شَيْءٍ مِنْ عَمَلِ قَوْمِ لُوْطٍ) .

Dari ‘Urwah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Akan ada di akhir umatku (azab) perubahan bentuk, penenggelaman, dan pelemparan. Dan itu akan terjadi ketika munculnya perbuatan kaum Nabi Luth”.

Ya Allah, selamatkan kami, anak keturunan kami, masyarakat dan bangsa kami dari perbuatan nista itu.

Wallahu a’la wa a’lam.

Advertisements
This entry was posted in Tadabbur Al Qur'an. Bookmark the permalink.

One Response to Kenapa Umat Nabi Luth Dihancurkan Sedemian Rupa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s