Tugas Kita Terus Mengingatkan

Ada jutaan orang sudah kecanduan narkoba, tidak mampu melepaskan diri lagi darinya. Namun tidak ada mereka yang berani terang-terangan mengajak orang untuk menyertai mereka. Bahkan banyak yang justru melarang orang supaya jangan jatuh kepada kesalahan serupa. Bila ditanya, mereka akan mengatakan bahwa itu perbuatan yang tidak baik.

Ada jutaan orang yang terlanjur berzina, bahkan pecandu zina. Tapi mereka tetap melakukannya sembunyi-sembunyi, takut diketahui orang lain. Bila ditanya mereka pasti mengakui perbuatan mereka adalah dosa.

Ada jutaan orang orang melakukan dosa-dosa lainnya, namun tetap saja mereka akan malu bila ketahuan melakukan perbuatan itu. Kecuali diketahui oleh orang setipe dan seperangai dengan mereka.

Lain halnya dosa orang yang kecanduan LGBT. Saking kerasnya kekangan syahwat, mereka sampai buta bila itu perbuatan yang sangat-sangat tidak terhormat. Rasa malupun menjadi hilang, malah berbangga di hadapan manusia banyak. Sebagaimana hal itu dirasakan dan dilakukan oleh pendahulu mereka ketika diingatkan oleh Nabi Luth:

Mereka menjawab: “Sesungguhnya kamu telah tahu bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putrimu, dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.” (Hud: 78)

Sebenarnya LGBT itu sama saja dengan perbuatan dosa yang lain, di mana pelakunya lagi mendapatkan cobaan jatuh kepada maksiat. Mereka perlu diajak kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan desakan nafsu yang tidak terpuji itu. Pelakunya perlu didakwahi, dibimbing dan diinshafkan dengan cara bijaksana.

Cuma sayang beribu sayang, seseorang hanya mampu keluar dari kubangan sebuah dosa bila pelakunya itu sadar dan mengakui kalau yang mereka perbuat adalah dosa yang hina, yang dimurkai Allah. Bila pencandu suatu maksiat tidak lagi merasakan dan mengakui itu sebuah dosa, malah ia menganggap sesuatu yang normal lagi baik, bagaimana mungkin ia akan berubah? Mana mungkin kesadaran untuk kembali kepada jalan yang benar akan datang?

Masalahnya tidak hanya sebatas seruan hawa nafsu atau gejolak syahwat yang membara, tapi sudah berubah menjadi masalah keyakinan.

Sekalipun demikian adanya, yang perlu kita pahami dalam masalah ini ialah: kita tidak disuruh untuk membinasakan atau menghancurkan mereka. Kita tidak diperintah mencaci-maki, menghina, mengutuk dan melaknat pelaku. Syari’at agama tidak menghasut kita untuk memecahkan kepala, menggorok leher dan mengancam dengan kekerasan.

Tugas kita hanya memberikan penyadaran, menyampaikan hukum dan peringatan-peringatan Allah tentang itu, serta mengajak akal untuk berfikir bahwa itu adalah perbuatan yang tidak benar. Di samping menjaga diri, generasi dan orang-orang yang kita cintai supaya tidak terjerumus ke lembah nista tersebut.

Adapun mencegah mereka dengan kekuatan hukum hanya mampu dan boleh dilakukan oleh orang yang memiliki kekuasaan. Untuk itu, tanggungjawab dan tugas kita menyuarakan itu sekencang-kencangnya, jangan sampai perbuatan ini menjadi legal di negara kita. Bahkan harusnya kelainan ini dilarang dengan tegas melalui undang-undang yang disahkan.

Makanya kita semua tidak boleh diam, masa bodoh dan cuek. Karena ternyata mereka bergerak lebih massif dan semangat. Tanpa malu, bahkan justru bangga bila mereka seperti itu. Aneh binti ajaib, tapi begitulah kenyataannya.

La haula wa la quwwata illa billah.

Advertisements
This entry was posted in Qadhaya. Bookmark the permalink.

One Response to Tugas Kita Terus Mengingatkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s