Dzikrayat la Tunsa (Kenangan Yang Tidak Akan Terlupakan)

Pada Ramadhan tahun ke-2 saya berada di Mesir dulu saya mencoba shalat tarawih di mesjdi ‘Amr ibn ‘Ash yang diimami oleh Syekh Muhammad Jibril. Seorang imam yang sangat legendaris dan dicintai jama’ah. Ciri khas beliau, di samping bacaan yang menyentuh, beliau selalu membaca do’a qunut panjang sekali dengan cara khas yang sangat menyentuh. Sampai satu jam.
Beliau jadi imam di sana hanya di malam ke-27 Ramadhan. Malam yang diyakini rakyat Mesir sebagai malam qadar.

Ketika itu Ramadhan bertepatan dengan puncak musim dingin. Supaya dapat tempat di dalam mesjid kita harus datang lebih awal. Pukul 11.00 pagi sebelum Zhuhur kita sudah berada di dalam. Langsung bawa makanan untuk berbuka puasa dan harus bisa nahan wudhu’ agar tidak batal. Kalau batal susah keluar dan masuk lagi.

Alhamdulillah saya masuk dengan seorang teman dan mendapatkan tempat yang strategis lagi nyaman. Kita duduk dengan tenang mengisi waktu dengan tilawah, dzikir dan shalat sunat. Semua orang juga melakukan itu. Suasana penuh keimanan dan ruhiyah tinggi.

Selesai shalat Zhuhur mesjid sudah penuh, membludak sampai ke luar. Apalagi waktu itu mesjid dalam keadaan direnovasi, sepertiganya tidak bisa difungsikan. Sekalipun mesjidnya sangat luas tidak mampu lagi menampung jama’ah yang sangat banyak.

Suasana nyaman itu tiba-tiba diusik oleh orang-orang yang baru datang. Sekalipun mesjid sudah penuh tapi yang berada di luar tetap memaksakan diri untuk masuk. Padahal sebagian pintu mesjid sudah ditutup oleh petugas.

Beberapa orang anak muda tiba-tiba duduk di hadapan kami, di tengah-tengah shaf sambil membawa tas yang cukup besar. Melihat itu saya berusaha mencegah, karena takut nantinya justru kita yang sudah duluan tidak dapat bagian tempat. Sayangnya mereka ngotot dan tidak mempedulikan saya. Akibatnya saya jadi agak emosi.

Melihat itu seorang bapak muda yang berada di sebelah saya, yang dari awal duduk dengan tenang penuh khusyu’ tilawah dan dzikir berbisik kepada saya:

“Akhi, Allah mengatakan di dalam al-Qur’an: “…..dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman”. (Al-Hijr: 88) dan “….yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir..” (Al-Maidah: 54).

Selanjutnya beliau berkata: “Akhi, syukurilah nikmat Allah ini. Untung mereka para pemuda ini datang ke majlis semacam ini. Coba bayangkan kalau mereka malah datang ke bioskop dan tempat-tempat hiburan”.

Mendengar itu saya tercenung, subhanallah….benar sekali kata bapak ini. Saya jadi malu. Ini nikmat sangat mulia yang tidak kita sadari.

Setelah mereka duduk suasana kembali tenang, meskipun tempat semakin sempit. Kami mulai saling berkenalan dan berbagi cerita. Apalagi kita orang asing, mereka sangat antusias bertanya ini dan itu.

Di waktu adzan Maghrib kita berbuka. Saya hanya membawa makanan yang sangat sederhana. Di sanalah terasa sekali bagaimana pemurahnya orang Mesir, terutama dalam masalah makanan. Ternyata tas besar yang dibawa oleh anak-anak muda itu penuh berisi makanan. Bahkan semua orang yang hadir punya bawaan seperti itu. Hanya saya dan teman saya saja yang bawa makanan seadanya.

Tanpa banyak bicara mereka mengeluarkan makanan dan mengikutkan kami bersama mereka, seolah-olah kita semua berasal dari satu keluarga. Subhanallah, makananya lezat-lezat semua. Mereka terus memaksa supaya kita tidak sungkan-sungkan. Kalau bukan takut makan kebanyakan dan wudhu’ saya batal pasti saya sudah lahap sepenuh perut.

Ketika shalat Tarawih dimulai kondisi mesjid semakin penuh sesak. Musim dingin yang mencekam tidak terasa lagi. Suasana berubah menjadi hangat.

Syekh Jibril mulai membaca ayat demi ayat dengan suara dan bacaan yang sangat menyentuh. Kali itu ternyata bukan malam khatam al-Qur’an. Beliau membaca surat Yusuf kesukaan orang Mesir. Namun karena shaf terlalu rapat saya kesulitan menghayati bacaan beliau.

Sampai pada rukuk kepala kita tepat menempel di bokong orang di depan kita, begitu juga orang yang dibelakang kita kepalanya nempel di bokong kita. Bahkan orang yang lebih tinggi tidak bisa rukuk dengan lurus.

Tepat pada waktu sujud kepala kita nempel di telapak kaki orang yang di depan kita, dan telapak kaki kita juga nempel dengan kepala orang yang di belakang. Saat itu baru saya merasakan sesuatu yang luar biasa. Kepala yang kita banggakan ini, yang bila disentuh orang sedikit saja kita akan emosi, karena kita menganggap di sana terletak lambang kehormatan kita, sekarang malah berada di telapak kaki orang. Ini lah penghambaan sesungguhnya kepada Allah, meletakkan kening ke tanah dan kepala di bawah telapak saudara kita sesama muslim. Posisi yang sangat ampuh untuk menghilangkan rasa sombong, sok dan angkuh.

Bila bacaan belum bisa menyentuh perasaan, ternyata kondisi begitu bisa memasukkan suatu rasa yang tidak bisa diucapkan. Saya teringat kembali nasehat bapak yang berada di sebelah saya. Hingga air mata tidak bisa terbendung lagi menahan haru. Dalam sujud baru kesyahduan itu saya temukan. Bukan karena bacaan, tapi karena telapak orang nempel di kepala.

Bila dulu ketika di pesantren ada kaki teman yang tidak sengaja menyentuh kepala saya waktu sujud, saya akan emosi. Ternyata saat itu justru saya merasa bangga bisa merendahkan kepala ini demi tunduk kepada Allah dan saling merendah sesama muslim. Rupanya pemahaman terhadap sesuatu bisa merubah rasa 180 derjat.

Semenjak itu hilanglah rasa tidak suka bila kepala terkena telapak kaki orang lain dalam shalat. Justru berubah menjadi rasa bangga dan bahagia.

Di hari-hari puncak pelaksanaan haji rupanya keadaan seperti itu lebih lagi. Kadang kita mesti sujud di atas tumit atau punggung orang lain.

Teman lain punya cerita lain. Habis shalat -sebagaimana kebiasaan orang Mesir- apalagi dalam suasana penuh syahdu begitu, mereka saling bersalaman dan cipika cipiki. Karena sebelumnya berdo’a sambil nangis, kadang mereka kurang perhatian dengan kondisi tubuh.

Ada salah seorang bapak yang mempunyai jenggot lebat tidak sadar kalau ada ingus yang lengket di jenggotnya ketika menangis tadi. Beliau bersalaman dan cipika cipiki dengan teman saya yang shalat di sampingnya. Tentu saja kelebihan “itu” lengket di pipinya. Tapi untunglah teman saya sabar dan bisa menjaga perasaan orang lain. Setelah berpisah dengan bapak itu baru dia bersihkan dengan sisa air minum dan tisu.

Sayang Ramadhan kemaren saya tidak punya kesempatan menghadiri Tarawih bersama Syekh Muhammad Jibril kembali. Untuk tahun mendatang –wallahu a’lam- akankah masih ada, atau tidak akan ada lagi untuk selamanya.

Sayang, Ramadhan kemaren saya tidak punya kesempatan menghadiri Tarawih bersama Syekh Muhammad JibriSyekh Muhammad Jibril kembali. Untuk tahun mendatang –wallahu a’lam- akankah masih ada, atau tidak akan ada lagi untuk selamanya.

Advertisements
This entry was posted in Pengalaman. Bookmark the permalink.

One Response to Dzikrayat la Tunsa (Kenangan Yang Tidak Akan Terlupakan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s