Pembully

Pelajaran Hidup:

Seseorang mungkin saja jatuh kepada kesalahan karena khilaf atau masih minimnya ilmu yang ia miliki. Kemudian kita datang untuk membully kesalahannya itu dengan sumpah serapah, caci maki, ejekan dan peremehan berdasarkan kelebihan ilmu yang dikaruniakan Allah kepada kita.

Setelah kenyang kena bully, orang yang bersalah menyadari kekhilafannya. Dengan segala kerendahan hati ia taubat mengakui kesalahannya, minta maaf, kemudian berusaha memperbaiki diri.

Akhirnya……

Kesalahannya membuat ia melaju menuju perbaikan. Potensinya semakin meroket. Ilmunya bertambah. Harga dirinya bukannya jatuh sebagaimana yang diinginkan oleh si pembully, justru malah naik semakin terhormat. Semakin banyak yang simpati dan pengagumnya.

Sementara si pembully yang melakukan bully-annya berdasarkan ketinggian ilmu yang ia miliki terperosok kepada kubangan kehinaan. Pandangan manusia banyak tidak dapat ia elakkan. Apalagi pandangan Allah yang Maha Mengetahui.

Mungkin saja tanpa sengaja ia melakukan pembully-an untuk tujuan memperlihatkan kemampuan dan kemumpuniannya dalam keilmuan. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya, tinta hitam melekat di keningnya.

Barangkali inilah perlunya kita menahan syahwat bicara. Kalaupun ingin bicara, hemat-hemat kata. Keluarkan kalimat sekedar keperluan. Jangan guluw (berlebihan). Apalagi yang perlu diperbaiki itu hanya urusan remeh temeh, yang sebenarnya tidak membutuhkan serangan terlalu kuat.

Jangan bunuh tikus dengan bom atom Hiroshima! Nanti kita sendiri yang kewalahan menghadapi ledakannya. Cukup gunakan racun atau perangkap tikus. Atau pelihara saja kucing.

Bagi si tersalah mudah untuk mengakui kekhilafan. Minta maaf, taubat dan perbaiki diri. Selesai.

Bagi si pembully? Apa yang bisa dilakukan untuk perbaikan diri kedepan? Sanggupkah melakukan hal yang sama? Ataukah tidak akan merasa bersalah dan ngotot seperti yang dilakukan Iblis?

Allah berfirman:

“….Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat”. (Al Furqan: 20)

Ya Allah, karuniakan kami ‘iffatul lisan (lidah yang terhormat)

Advertisements
This entry was posted in Khawathir. Bookmark the permalink.

One Response to Pembully

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s