‘At’abta man Ba’daka

Menyaksikan keadilan dan kebersahajaan yang mulia Khalifah Abu Bakar Siddiq, shahabat-shahabat Rasulullah yang lain berkata, “At’abta man ba’daka” (Engkau telah membuat orang setelahmu menjadi letih).

Maksudnya, amat berat bagi pemimpin-pemimpin selanjutnya untuk mengikuti langkah yang telah ditempuh beliau untuk menciptakan keadilan dan kesejahterahan untuk umat manusia di permukaan bumi ini. Bukan hanya untuk orang muslim saja.

Ketika yang mulia Khalifah Umar bin Khattab berkuasa juga demikian adanya. Bahkan lebih lagi. Semua orang beliau usahakan untuk hidup makmur. Tidak ada keluhan rakyat yang terabaikan. Jangankan manusia, binatangpun hidup dengan sejahtera.

Di saat rakyat menikmati kemakmuran, justru beliau kurus kering karena beratnya tanggungjawab dan beban amanah yang diemban. Kekayaan negara yang sudah melimpah ruah hanya diambil seperlunya. Sekedar mengganjal perut untuk kelangsungan hidup dan pakaian untuk penutup aurat. Jauh dari kata mewah, apalagi berfoya-foya.

Mereka berprinsip, cukuplah segitu jatah mereka di dunia. Semoga Allah limpahkan ganjaran dari pengorbanan yang telah mereka lakukan di akhirat kelak.

Mereka meninggalkan dunia ini dalam keadaan tidak mencicipi manisnya usaha yang telah mereka curahkan. Biarlah mereka hidup dengan segala kesusahan asalkan seluruh manusia hidup makmur. Supaya manusia bisa dengan tenang memikirkan akhirat tanpa dibebani oleh kesusahan mencari penghidupan.

Begitulah perjalanan hidup yang jadi pilihan pemimpin adil. Yang ada dalam pikirannya bagaimana selalu menambah kesejahterahan bagi umat. Bagaimana bisa memanjakan umat dengan kemudahan-kemudahan. Padahal mereka lupa bagaimana mensejahterahkan diri sendiri.

Hari ini kita tidak akan menuntut para pemimpin untuk meniru mereka yang mulia itu. Silahkan perkaya diri. Silahkan hidup dengan makmur dan mewah. Bahkan silahkan menjadi orang paling makmur, paling sejahtera dan paling mewah dari seluruh penduduk negeri. Itu pantas anda miliki sebagi simbol kehormatan negara di hadapan bangsa lain.

Tapi dengan syarat, ambillah dengan wajar tanpa menzalimi rakyat. Perkayalah diri tanpa menindas orang kecil. Sejahterakan juga rakyat sebagaimana kamu sejahtera. Karena itulah tujuan pemimpin diangkat rakyat.

Saya yakin rakyat Brunai Darussalam tidak pernah menuntut Sultan Hasanabolkiyah untuk meniru gaya hidup Umar bin Abdul Aziz. Namun mereka tidak marah dan cemburu bagaimanapun gaya hidup rajanya. Sebab mereka juga bisa mencicipi hidup dengan penuh kecukupan tanpa stres memikirkan bagaimana cara memenuhi kebutuhan hidup. Mereka tidak marah karena tidak ada hak mereka yang terzalimi.

Pemimpin dipilih untuk mengayomi kepentingan rakyat. Untuk mewujudkan kesejehterahan mereka. Bila tidak mampu untuk itu jangan salahkan rakyat banyak tuntutan.

Kalau tidak sanggup untuk mengusahakan tuntutan itu, artinya anda bukan orang yang berkompeten untuk duduk di singgasana itu. Silahkan menepi, dan persilahkan kepada yang mampu untuk menjalankan.

Kepemimpinan bukanlah penghargaan dan pemuliaan sebagaimana yang dianggap banyak orang. Sesungguhnya ia hanyalah amanah yang akan mendatangkan kerugian dan penyesalan tidak terkira bagi yang tidak kapabel memikulnya.

Advertisements
This entry was posted in Mawaqif Shahabat Rasul. Bookmark the permalink.

One Response to ‘At’abta man Ba’daka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s