Ingin Jadi Seorang Hafizh

Susah sebenarnya mengungkapkan hal ini, karena saya takut pembaca mengesankan saya adalah seorang “hafizh”. Saya memang pernah berusaha menjadi hafizh dan tetap berusaha selagi nyawa dikandung badan. Tapi kenyataannya sampai hari ini saya belum bisa dikatakan seorang hafizh, karena hafalan saya tidaklah “muthqin” sebagaimana mestinya.

Namun untuk berbagi pengalaman yang barangkali bisa dijadikan cerita model-model orang dalam menghafal al Qur’an, saya beranikan berbagi kisah dalam hal ini.

Dulu semenjak kecil saya sangat berkeinginan untuk menjadi seorang penghafal al Qur’an. Keinginan itu timbul tanpa ada yang mengarahkan dan mendorong. Karena saya dilahirkan bukanlah di keluarga yang berpendidikan tinggi. Barangkali hanya ilham dari Allah yang menginspirasi saya untuk menghafal al Qur’an.

Karenanya saya menghafal al Qur’an tanpa ada yang membimbing dan mengarahkan. Saya berjalan sesuai naluri saja. Lagian di lingkungan saya pada waktu itu hampir tidak ada orang yang hafal al Qur’an, bahkan memang tidak ada satu orangpun. Pontoh tahfizh dan kegiatan menghafal al Qur’an yang sangat semarak seperti sekarang belum ada.

Tamat SD saya meneruskan pendidikan ke Thawalib Padang Panjang. Itu bukanlah pondok tahfizh, bahkan tidak ada program resmi untuk menghafal al Qur’an walau beberapa juz. Jadi tidak ada beban untuk menghafal al Qur’an bagi santrinya. Yang ada hanya bimbingan untuk membetulkan tajwid dan belajar irama.

Ketika saya duduk di kelas 1 ada seorang senior yang sudah kelas 7 mempunyai hafalan cukup banyak, sampai 7 juz. Hafalan segitu sudah dianggap luar biasa, sebab tidak ada di antara santri yang mempunyai hafalan segitu. Bahkan gurupun tidak ada. Dengan modal itu beliau selalu jadi imam shalat lima waktu. Lagian memang bacaan, tajwid, suara dan iramanya lumayan indah. Murattal standar Timur Tengah, bukan gaya logat lokal.

Dari beliaulah saya mendapatkan inspirasi untuk lebih semangat menghafal al Qur’an. Namun sayang beribu sayang, saya tetap tidak mendapatkan guru pembimbing yang akan memberikan dorongan lebih dan arahan bagaimana cara menghafal yang baik. Akibatnya saya harus berjalan meraba-raba, dan menemukan metode sendiri. Yaitu metode “semaunya”.

Waktu itu saya punya tekad untuk menghafal al Qur’an hanya 15 juz selama mondok di Thawalib. Hafalan segitu sudah luar biasa. Lebihnya nanti saja kalau sudah berada di Mesir. Begitulah yang ada di benak saya waktu itu. Karena saya sudah punya cita-cita ingin melanjutkan kuliah ke Mesir semenjak hari pertama menginjakkan kaki di Thawalib Padang Panjang.

Kalau dipikir-pikir memang tekad yang aneh. Tekad rendahan. Kenapa saya waktu itu tidak bertekad menghafal 30 juz saja selama di Thawalib? Sebab target segitu sudah saya capai ketika saya masih kelas 4. Padahal ada 3 tahun lagi kesempatan untuk menyelesaikannya. Sampai saya tamat kelas 7. Tapi itulah kenyataannya, penyesalan yang tidak mungkin diulang lagi.

Tamat Thawalib ternyata saya tidak bisa lanjut ke Mesir, karena negara kita lagi dilanda krisis moneter berlanjut reformasi. Sambil tetap optimis akan lanjut ke al Azhar, saya kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang. Alhamdulillah, cuma 2 semester akhirnya saya lulus tes ke Mesir. Setahun di IAIN saya hanya mampu menambah satu surat, yaitu surat Ar Ra’d.

Sampai di Mesirpun ketika itu kegiatan tahfizh di lingkungan saya mahasiswa mahasiswa Minang tidak marak. Tidak ada seorangpun ketika itu yang fokus untuk tahfizh. Yang ada hanya mengejar target hafalan 2 juz pertahun dan 8 juz sampai tamat S 1. Akibatnya saya tetap berjalan sendiri, tanpa ada bimbingan. Barulah di tahun ke-3 saya mendapatkan bimbingan dari seorang Syekh yang nota bene teman kuliah saya juga. Tapi dia sudah mengantongi ijazah dari syekh yang muthqin dan mempunyai sanad sampai ke Rasulullah. Hafalannya juga muthqin, hingga mampu menjadi imam shalat tarawih di bulan Ramadhan. 1 juz permalam dia baca dalam shalat tanpa melihat mushaf.

Belum sampai menyetorkan 30 juz beliau sudah ditangkap dan dimasukkan ke penjara, karena dituduh sebagai kader IM. Sayapun kembali menjalani kegiatan menghafal dan muraja’ah hanya sesama teman dan adik kelas.

Setelah menyelesaikan S 2 baru saya mendapatkan kesempatan kembali untuk menyetorkan hafalan dan mengambil sanad riwayat dari seorang Syekh. Namun pada akhirnya, saya yang tidak bersedia diberi ijazah. Sebab saya merasa tidak berhak untuk itu. Biarlah ijazahnya secara lisan dan pengakuan dari beliau saja. Saya cemas memangku ijazah tertulis, takut tidak sesuai mutu dan kenyataan dengan ijazah indah yang bertuliskan sanad bacaan sampai kepada Rasulullah.

Semoga Allah tetap menggelorakan semangat untuk terus menghafal dan mengamalkan al Qur’an di hati saya dan kita semua. Berharap di hari keluarnya nyawa dari badan saya dalam keadaan hafal sempurnya kitab Allah ini.

Advertisements
This entry was posted in Pelajaran dari Revolusi Mesir. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s