Hisab Harta di Akhirat

Jum’at 27 November 2015 yang lalu, khatib Jum’at di Mesjid As Salam membicarakan tentang harta haram. Banyak jama’ah yang meneteskan air mata, bahkan menangis sampai terisak-isak karena tersentuh dengan apa yang beliau sampaikan. Rasanya tidak ada di antara kita yang akan selamat di akhirat kalau bukan karena ampunan Allah, mengingat begitu detilnya pertanggungjawaban yang akan kita hadapi di akhirat nanti berhubungan dengan rezeki yang telah kita terima selama hidup di dunia ini.

Di antara yang paling berkesan dari yang beliau sampaikan adalah, barangkali kita tidak pernah melakukan korupsi uang di kantor, tidak melakukan praktek riba, tidak menipu dalam berbisnis, tidak mengurangi takaran dan timbangan dalam jual beli, tidak pernah mengambil barang orang lain walau hanya satu tusuk gigi, tidak pernah menjalankan praktek pungli, sogok menyogok, tapi ada satu hal yang barangkali kita abaikan, padahal ia termasuk perkara berat waktu dihisab. Apakah dia?

Seorang pegawai umpamanya, guru atau dosen yang mengajar, mungkin dia bekerja selalu menurut aturan. Dia tidak menerima gaji melebihi dari yang menjadi haknya. Namun barangkali ketika bekerja ia malas-malasan, seharusnya melayani murid, mahasiswa atau masyarakat, dia selingi dengan bicara dengan teman sesama pegawai, main gadget, makan dan minum di waktu kerja, sehingga masyarakat yang semestinya dilayani dengan maksimal jadi agak terabaikan.

Jangan mengira hanya korupsi perbuatan haram, perbuatan seperti itu juga dosa yang akan menghilangkan keberkahan rezeki dan memperberat pertanggungjawaban di akhirat kelak!

Ibrahim ibn Adham bila diupah oleh seseorang untuk mengerjakan sesuatu, di akhir waktu bekerja ia akan menghisab dirinya, apakah ia sudah bekerja dengan maksimal mengerahkan seluruh kemampuannya atau belum. Bila ia merasa belum mengerahkan seluruh potensi dirinya ia tidak akan menerima upahnya sebagai pekerja di hari itu.

Tentu saja kita tidak dibebani seberat yang dilakukan oleh Ibrahim ibn Adham, tapi perlu kita jadikan tauladan bagaimana kehati-hatiannya dalam menyeleksi rezeki yang akan ia jadikan sumber kekuatan untuk melakukan ketaatan kepada Allah.

Di akhir khutbah, Syekh Muhammad Makky menyebutkan, sehubungan pertanyaan masalah rezeki yang akan dipertanggungjawabkan dari mana sumbernya dan kemana dibelanjakan, maka rezeki itu terbagi kepada empat:

1. Didapatkan dengan cara haram dan dibelanjakan kepada hal yang haram. Uang hasil sogok menyogok digunakan untuk membeli minuman yang memabukkan. Akibatnya sudah pasti ke neraka.

2. Didapatkan dengan cara yang haram tapi dibelanjakan kepada yang halal. Uang hasil korupsi, jual beli narkoba, dijadikan ongkos pergi umrah, pembangunan mesjid, menyantuni yatim piatu dan orang miskin. Akibatnya juga neraka. Karena Allah itu Maha Baik dan tidak akan menerima kecuali dari yang baik pula.

3. Didapatkan dengan cara baik tapi dibelanjakan kepada yang haram. Uang hasil kerja keras di kebun umpamanya, tapi digunakan untuk membeli narkoba. Akibatnya juga ke neraka.

4. Didapatkan dengan cara halal dan dibelanjakan kepada yang halal. Uang hasil bekerja sebagai buruh, jual beli yang sah lagi halal, digunakan untuk menafkahi keluarga, bersedekah dan amal baik lainnya. Harta yang seperti ini akan dihisab dulu sedetil-detilnya. Bila kita bisa mempertanggungjawabkan semuanya dengan baik, barulah kita bisa selamat dari api neraka dan masuk ke surga.

Memang pertanggungjawaban yang tidak main-main, yang akan membuat anak kecil menjadi beruban.

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula”. (Al Zalzalah: 7-8)

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”. (Al Anbiya’: 47)

Ini baru hisab harta pribadi yang tidak ada hubungannya dengan orang lain. Kita tidak bisa bayangkan bagaimana dahsyatnya hisab yang berhubungan dengan orang lain. Bagaimana mempertanggungjawabkan harta yang kita rampas atau ambil tanpa dasar kebenaran dari hak milik orang lain.

Hal ini sangat penting menjadi bahan muhasabah bagi setiap orang yang diamanahi mengelola harta masyarakat, mulai dari skop yang paling kecil sampai yang paling besar. Amat sulit dikhayalkan bagaimana beratnya hisab seorang penguasa negara yang dipercayakan untuk mengambil kebijaksanaan mengatur segala hal yang akan mensejahterahkan rakyatnya. Apa yang akan ia tanggung nanti bila kebijaksanaannya itu justru merugikan dan menyengsarakan manusia-manusia yang dipimpinnya.

Dia akan berurusan satu persatu dengan rakyat yang ia pimpin di depan Penguasa Alam Yang Maha Adil untuk menyelesaikan sengketa itu semua. Di dunia barangkali mereka bisa tersenyum puas, dapat berbuat sesuka hatinya, petantang petenteng sana sini seolah-oleh manusia suci yang perlu di agung-agungkan, tapi tunggulah, di sana ada hal yang amat mengejutkan. Ratusan juta rakyat siap untuk menuntut balas atas segala hak-haknya yang terzalimi waktu hidup di dunia.

Penguasa adil adalah manusia pertama yang akan mendapatkan naungan khusus di bawah ‘Arsy Allah di hari penghisaban nanti. Penguasa zalim tentu orang pertama pula yang akan mendapatkan sebaliknya.

وَقُلْ لِلَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ اعْمَلُوا عَلَى مَكَانَتِكُمْ إِنَّا عَامِلُونَ وَانْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَوَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِلَيْهِ يُرْجَعُ الأمْرُ كُلُّهُ فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Dan katakanlah kepada orang-orang yang tidak beriman: “Berbuatlah menurut kemampuanmu; sesungguhnya kami-pun berbuat (pula).” Dan tunggulah (akibat perbuatanmu); sesungguhnya kami pun menunggu (pula). Dan kepunyaan Allah-lah apa yang gaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan”. (Hud: 121-123)

NB: Diulang menuliskannya dengan penambahan dan pengurangan.

Advertisements
This entry was posted in Khutbah Jum'at. Bookmark the permalink.

3 Responses to Hisab Harta di Akhirat

  1. bahteraislam says:

    Luar biasa penjelasanya bang. Izin share buat kultum

  2. bahteraislam says:

    Maju terus…..bermanfaat bagi ummat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s