Cara Baca Buku

Di antara ungkapan cara baca buku dan cara belajar yang saya dengar dari antara guru saya:

1. Prof. Dr. Sa’id Shawaby: “Biasakan membaca buku mulai dari muqaddimah! Karena tulisan yang bagus itu biasanya tergambar dari kebagusan penulisnya menyampaikan muqaddimah. Sebagian buku tidak bisa kita pahami tanpa membaca muqaddimah”.

Qultu: Kenyataannya memang demikian, buku-buku yang beliau tulis tidak bisa dipahami dengan benar tanpa membaca muqaddimah terlebih dahulu.

2. Prof. Dr. Abdul Muhdi: “Biasakan membaca buku mulai dari muqaddimah (pembukaan) sampai khatimah (penutup). Karena membaca buku dengan cara dicomot-comot tidak memberikan gambaran yang utuh terhadap apa yang diinginkan oleh penulis dengan karyanya itu. Tidak ada satupun buku yang ada di perpustakaan pribadi saya yang tidak saya baca mulai dari muqaddimah sampai khatimah. Saya pernah tidak keluar dari perpustakaan pribadi saya selama 6 bulan kecuali untuk shalat Jum’at. Hal itu saya lakukan berulang kali. Dan saya tidur hanya 4 jam dalam sehari”.

3. Prof. Dr. Mani’ Abdul Halim Mahmud (almarhum): “Karena saya diangkat jadi mu’id (calon/kader dosen Al Azhar), setelah menyelesaikan kuliah tamhidi (kuliah tatap muka) di S2 al Azhar saya ditugaskan di perpustakaan selama 2 tahun. Saya di perpustakaan bertugas seperti orang kantoran. Membaca dan menganalisa, itulah pekerjaan saya. Setelah itu baru saya diizinkan untuk menulis risalah”.

4. Prof. Dr. Mahmud Helwa: “Saya biasa tidak tidur semalaman untuk membahas satu permasalah pelik dalam ilmu yang saya tekuni (ilmu hadits). Dan ini bukanlah hal yang istimewa bagi setiap ‘usysyaqul ‘ilmi (pencinta ilmu).

4. Prof. Dr. ‘Athif Aman: “Untuk menyelesaikan tesis, disertasi dan karya ilmiyah untuk naik ke jenjang profesor madya dan profesor penuh, aku bertahun-tahun mengurung diri di perpustakaan Damardasy. Besar sekali jasa perpustakaan itu bagiku”.

5. Prof. Dr. Abdullah Barakat: “Karena adanya penjurusan-penjurusan pada sistem pendidikan modern sekarang, jadilah kebanyakan penuntut ilmu terfokus kepada jurusannya saja. Hingga pelajar ushuluddin tidak mengerti apa yang dipelajari orang di syari’ah, dan orang syari’ah tidak paham apa yang dipelajari mahasiswa di dakwah, orang dakwah jauh dari apa yang ditekuni orang di fakultas lughah dan begitu sebaliknya”.

Ini hanyalah secuil dari pengalaman para ilmuan belajar dan membaca. Ada ribuan lagi selain ini.

Faedah:

Dengan cara seperti inilah mereka menjadi ulama yang direkomendasikan sebagai pengajar dan tempat bertanya bagi umat.

Dari ungkapan-ungkapan mereka ini saya tidak bisa bayangkan bagaimana orang bisa menulis tesis dan disertasi dalam waktu 1-2 bulan selesai. Mungkin tesis dan disertasinya memang selesai dan mendapatkan nilai bagus, tapi berapa ilmu yang terserap dalam waktu segitu? (Ini khusus untuk ilmu-ilmu Syari’ah. Untuk ilmu umum saya tidak mengerti tabi’at keilmuannya).

Kemudian mereka memposisikan dirinya sebagai orang yang ditanyai masyarakat dalam permasalahan-permasalahan agamanya. Lalu dengan beraninya mereka memberikan jawaban, bahkan fatwa.

Para imam besar dulu berkata: “Fainal wara’?”

Advertisements
This entry was posted in Pengalaman. Bookmark the permalink.

One Response to Cara Baca Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s