Bukan Pada Wajah

Dulu, setiap mendengar nama Abu Lahab dan Abu Jahal selalu yang muncul dipikiran saya adalah seseorang dengan wajah sangar menakutkan. Muka hitam legam, kumis panjang tiga jengkal, rambut aut-autan, mata melotot merah, hidung mengeluarkan asap, gigi taring panjang dan suara menggelegar bagaikan petir.

Setelah saya pelajari kitab-kitab siyar tentang pribadi mereka berdua, ternyata berlawanan 100%.

Mereka berdua adalah orang yang berwajah ganteng, putih bersih, tubuh tinggi besar, gagah perkasa, pakaian rapi, bahkan paling mewah di zaman itu, bila bicara sangat berwibawa dengan kalimat-kalimat tersusun rapi yang didasari cita rasa bahasa yang tinggi dan dihormati orang.

Begitu juga dengan Fir’aun. Setiap kali melihat jasadnya di museum Cairo saya terpana, rupanya manusia zhalim tiada duanya ini tidak ada bedanya dengan kita. Bukan tinggi besar seperti raksasa sebagaimana dibayangkan sebagian orang.

Semula otak saya susah mencocokkan dengan gambaran yang sudah terpatri dengan kenyataan. Sampai saya membandingkan dengan para zhalim dan para penentang Allah di masa kita ini.

Orang-orang yang dengan terang-terangan menentang hukum Allah, sebagaimana kita saksikan hari ini pendukung LGBT misalnya, tidak ada bedanya dengan kita. Bahkan mereka diberi kelebihan oleh Allah dari segala hal. Otak mereka cerdas-cerdas, tampang mereka elok, cantik, ganteng, tampan, menarik untuk dilihat, harta mereka banyak, kemampuan bicaranya jangan ditanya, memukau bagai sihir, tenar di tengah-tengah manusia, luas jaringan dan dukungan serta banyak kelebihan lainnya.

Cuma satu hal yang jadi masalah, hati mereka hitam legam hingga tidak mampu membedakan mana yang hak dan yang batil. Bahkan mata batinnya terbalik, melihat yang hak sebagai kebatilan dan sebaliknya.

Allah berfirman:
كَلَّا ۖ بَلْ ۜ رَانَ عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (Al Muthaffifin: 14)

Sekalipun demikian, setelah Allah menceritakan nasib umat-umat terdahulu di dalam surat al Qamar, dimulai dengan umat Nabi Nuh, disusul umat Nabi Hud, Nabi Shaleh, Nabi Luth dan Fir’aun, Allah berkata:

أَكُفَّارُكُمْ خَيْرٌ مِنْ أُولَٰئِكُمْ أَمْ لَكُمْ بَرَاءَةٌ فِي الزُّبُرِ

Apakah orang-orang kafirmu lebih baik dari mereka itu, atau apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-kitab yang dahulu

أَمْ يَقُولُونَ نَحْنُ جَمِيعٌ مُنْتَصِرٌ

Atau apakah mereka mengatakan: “Kami adalah satu golongan yang bersatu yang pasti menang”.

سَيُهْزَمُ الْجَمْعُ وَيُوَلُّونَ الدُّبُرَ

Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.

بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَىٰ وَأَمَرُّ

Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.

إِنَّ الْمُجْرِمِينَ فِي ضَلَالٍ وَسُعُرٍ

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka.

يَوْمَ يُسْحَبُونَ فِي النَّارِ عَلَىٰ وُجُوهِهِمْ ذُوقُوا مَسَّ سَقَرَ

(Ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka): “Rasakanlah sentuhan api neraka!”

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.

وَمَا أَمْرُنَا إِلَّا وَاحِدَةٌ كَلَمْحٍ بِالْبَصَرِ

Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا أَشْيَاعَكُمْ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

Dan sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?

وَكُلُّ شَيْءٍ فَعَلُوهُ فِي الزُّبُرِ

Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan

وَكُلُّ صَغِيرٍ وَكَبِيرٍ مُسْتَطَرٌ

Dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. (Al Qamar: 43-53)

Lalu Allah berfirman dalam surat Muhammad 24:

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?

Seterusnya firman Allah:

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya. (Qaf: 37)

Jadi permasalahannya tidak ada sama sekali dengan bentuk, rupa dan penampilan. Tapi ada pada:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (Al Hajj: 46)

Ya Allah, tunjuki kami kejalan-Mu yang lurus.

Advertisements
This entry was posted in Tadabbur Al Qur'an. Bookmark the permalink.

One Response to Bukan Pada Wajah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s