Bila Durjana Kehabisan Hujjah

Raja Namrud ketika kalah debat dengan Nabi Ibrahim, ia bertitah:

“Mereka berkata: “Bakarlah dia dan bantulah tuhan-tuhan kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak”. (al-Anbiya’: 68)

Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan:

“Bunuhlah atau bakarlah dia”, lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman. (al-‘Ankabut: 24)

Di saat Fir’aun sudah kehabisan hujjah berdebat dengan Nabi Musa dan Nabi Harun, ia berkata:

“Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”. (Ghafir: 26)

Setelah tidak punya bahan lagi untuk mendebat Nabi Nuh, kaumnya mulai menyerang pribadi beliau dan menempelkan cap-cap yang tidak terbukti kebenarannya.

“Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata”. (al-A’raf: 60)

Begitu juga dengan kaum ‘Ad yang dihadapi oleh Nabi Hud. Mereka berkata:

“Pemuka-pemuka yang kafir dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta”. (al-A’raf: 66)

Tidak ketinggalan kaum Tsamud yang didakwahi Nabi Shaleh, bangsa Sodom yang dinasehati Nabi Luth, bangsa Madyan yang diseru Nabi Syu’aib, setelah kehabisan konsep untuk menjawab kritikan-kritikan Nabi mereka, mereka balas dengan cacian, makian, hinaan dan dipungkas dengan ancaman kekerasan.

Bahkan bukan sekedar ancaman, tapi betul-betul dihadapi dengan tindakan kekerasan seperti yang dirasakan oleh Nabi Zakariya dan anak beliau Nabi Yahya, yang dibunuh oleh kaumnya sendiri.

Laki-laki Aali Yasin diinjak-injak perutnya sampai ia tewas dengan lambung dan usus terburai.

Terakhir, semua usaha kejahatan itu dilakukan para kafir Quraisy dan Yahudi Madinah serta orang-orang munafik untuk membungkam dakwah Rasulullah. Setelah kehebatan sya’ir dan alasan-alasan mereka tidak mampan dalam menghadapi keindahan bahasa al Qur’an dan kekuatan hujjah Rasulullah mereka mulai memberikan pelabelan-pelabelan yang tidak benar kepada Rasulullah.

Tuduhan sebagai tukang sihir, dukun, tukang tenung dan pendustapun ditempelkan kepada beliau. Padahal sebelumnya mereka sendiri yang menjuluki beliau dengan “Al-Amin” (orang yang dapat dipercaya).

Demikianlah tabi’at “tughat” sepanjang masa. Sampai Kiamat mengakhiri umur dunia ini. Ahlul batil tidak akan memiliki pamor, wibawa, dan hujjah yang dapat diterima bila berhadapan dengan kebenaran. Satu-satunya jalan yang mereka miliki hanyalah jalan kekeran dengan segala bentuknya.

Bunuh!

Usir!

Kucilkan!

Penjarakan!

Bungkam!

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya”. (al-Anfal: 30)

Atau, bila tidak memiliki kemampuan untuk itu mereka akan memberi label; konserfatif, bodoh, pembohong, fundamentalis, teroris, tidak move on, kurang piknik, dan julukan-julukan yang tidak ada dasar lainnya.

Itulah hujjah yang mereka miliki dan bisa gunakan. Selain itu mulut mereka akan kelu dan kepala mereka akan tertunduk, tidak punya harga diri.

Advertisements
This entry was posted in Tadabbur Al Qur'an. Bookmark the permalink.

One Response to Bila Durjana Kehabisan Hujjah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s