Orang Baik vs Orang Jahat

Kenyataan hidup sering memperlihatkan kepada kita, bila seorang pendosa bahkan durjana melakukan sedikit kebaiakan, maka akan banyak datang pujian dan sanjungan untuknya. Akibat secuil kebaikannya itu seolah-olah lautan kejahatannya jadi sirna.

Sebaliknya, bila orang baik-baik tergelincir melakukan suatu kesalahan, dunia akan berdiri memberikan segala macam caci maki dan hinaan kepadanya. Seolah-olah segunung kebaikan yang sudah ia lakukan lenyap seketika.

Kenapa hal itu terjadi?

Kenapa dunia menjadi sebaik itu kepada para pendosa dan begitu kejam terhadap orang baik?

Barangkali di antara jawabannya bisa kita temui dari hal ini….

Allah berjanji di dalam al Qur’an, bahwa:

إِنَّ اللَّهَ لا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar”. (An Nisa’: 40)

Berdasarkan ayat ini, Allah tidak akan menzhalimi siapapun walaupun seorang yang kafir. Sekecil apapun kebaikan yang ia lakukan akan dibalasi oleh Allah dengan berlipat ganda.

Karena itu, seorang yang bergelimang dengan kemaksiatan, bila ia melakukan sedikit kebaikan akan disegerakan oleh Allah balasannya di dunia ini. Barangkali dengan jalan diberi kekayaan, ketenaran, pujian dari banyak orang dan diidolakan di mana-mana. Dengan itu semua kebaikannya sudah terbalasi dan ia tidak berhak mendapatkan apa-apa lagi nanti di akhirat selain azab yang amat pedih.

Allah berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ نَصِيبٍ

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat”. (Asy-Syura: 20)

Dan kenyataan memang membuktikan bahwa orang-orang ahli maksiat tidak ada yang mereka inginkan dengan kebaikan yang mereka lakukan itu selain prestise dan kemewahan hidup duniawi.

Sebaliknya, orang baik bila melakukan suatu kesalahan, dunia akan bertaring pinggang melemparkan segala kosa kata penghinaan yang pernah dikenal oleh manusia. Kalau perlu semua prediket jelek penduduk hutan disandangkan kepadanya. Sebisa mungkin dia hilang dan tenggelam dari peredaran kehidupan karena tidak tahan menanggung malu.

Barangkali hikmahnya, Allah ingin membersihkan dirinya dari dosa dengan cara kontan di dunia ini, supaya tidak ada beban di akhirat nanti. Bahkan, banyak orang dengan suka rela memikul dosanya dengan cara menzhalimi dirinya melalui perantaraan gunjingan, cacian dan pembunuhan karakter. Atau menghadiahkan pahala amal kebaikanya kepada orang yang disakiti itu.

Allah begitu sayang kepadanya hingga tidak memberi kesempatan kepada orang-orang baik untuk bersifat ‘ujub dengan kebaikannya. Karenanya, ia diberi musibah dengan tergelincir kepada sedikit kesalahan, untuk menghancurkan rasa sombong dalam dirinya.

Karenanya jangan terlalu silau dengan kemegahan para ahli maksiat, dan juga jangan ikutan memandang hina orang baik-baik ketika tergelincir melakukan kesalahan. Boleh jadi itu justru kesalahan yang akan menyelamatkan dia dari jatuh kepada kehinaan yang lebih dalam.

Wallahu ‘ala wa a’lam.

Advertisements
This entry was posted in Khawathir. Bookmark the permalink.

One Response to Orang Baik vs Orang Jahat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s