Siap Diuji Kapanpun

Imam Ibnu Jarir Ath Thabari menceritakan di antara pengalamannya ketika memasuki negeri Mesir pada gahun 256 H:

“Tatkala aku masuk ke negeri Mesir, tidak ada seorangpun di antara ahli ilmu yang tidak menemuiku dan mengujiku sesuai disiplin ilmu yang ia kuasai.

Pada suatu hari datang seorang laki-laki menanyaiku tentang ilmu ‘arudh. Padahal aku belum pernah mempelajarinya dengan serius sebelum itu.

Lalu aku berkata kepada si penanya, “Hari ini aku tidak ingin bicara sedikitpun tentang ‘arudh. Datanglah besok untuk hal itu”.

Sepulangnya orang itu, aku meminta kepada salah seorang temanku kitab ‘arudh yang ditulis Imam Khalil bin Ahmad. Setelah menerima buku tersebut aku mempelajarinya pada malam itu.

Hasilnya, aku memasuki waktu malam dalam keadaan tidak tahu ‘arudh, pagi-paginya aku sudah jadi pakar ilmu ‘arudh”.

Kisah ini memberikan kepada kita gambaran bagaimana kebiasaan ilmiah zaman dulu. Mereka tidak mengenal bangku belajar di sekolah dan universitas seperti kita hari ini. Namun tradisi ilmiah yang mereka jalankan tidak ada bandingannya dengan kita sekarang.

Sistem kita sekarang belajarnya serba formal. Apa yang akan dipelajari ada kurikulum, silabus dan berbagai aturan tetek bengek yang memusingkan. Jadwal belajar dan ujiannya sudah jelas. Apa yang akan diujikan sudah ada batasannya. Disertai dengan kisi-kisi yang rinci. Di akhir, diberi ijazah atas penilaian yang sangat boleh jadi tidak sesuai dengan kemampuan sebenarnya.

Beda dengan mereka dulu, ujiannya datang kapan saja. Diuji oleh siapa saja. Tidak ada batasan luas ilmu yang akan diujikan. Tidak ada kisi-kisi yang mengarahkan. Yang penting si penguji akan menjajal kemampuan orang yang diuji sesuai disiplin ilmu si penguji, bukan sesuai disiplin ilmu yang akan menjalani ujian. Ijazahnya adalah pengakuan setiap orang atas keluasan ilmunya.

Pelajaran lain dari kisah itu, bagaimana kehebatan Ibnu Jarir dalam menguasai sebuah disiplin ilmu. ‘Arudh adalah salah satu cabang dari ilmu bahasa Arab yang paling sulit dan tidak semua orang dapat menguasainya, malah dilahap oleh Ibnu Jarir dalam satu malam hingga beliau jadi pakar pada disiplin ilmu itu.

Rupanya pakar sebenarnya itu adalah bila seseorang siap untuk ujian kapanpun tanpa ditentukan waktu terlebih dahulu. Dan yang betul-betul ulama (ilmuan) itu ialah orang yang lulus pada setiap ujian yang diajukan kepadanya tanpa berharap embel-embel gelar yang membuat orang bergetar mendengarnya.

Ya Allah, karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaat. Yang akan menyelamatkan kami di akhirat nanti.

Advertisements
This entry was posted in Kisah Hikmah. Bookmark the permalink.

One Response to Siap Diuji Kapanpun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s