Belajar Diam

Suatu kali kami mendatangi seorang guru untuk belajar atau talaqqi. Sesampai di rumah beliau kami disambut dengan hangat seperti biasanya. Kami dipersilahkan duduk dan beliaupun duduk di hadapan kami dengan tenang.

Setelah berlalu waktu cukup lama beliau belum juga memulai pelajaran. Beliau hanya duduk dengan manis tanpa bicara sepatah katapun. Tidak juga membaca al Qur’an atau baca buku. Tidak kelihatan bibir beliau bergerak membaca zikir. Barangkali hanya zikir di dalam hati.

Salah seorang di antara kami memberanikan diri untuk bertanya, “Apakah pelajaran kita sudah bisa dimulai, Syekh?” Tapi tetap saja beliau diam tanpa memulai pelajaran dan juga tidak menanggapi pertanyaan kami.

Akhirnya kami juga diam, meniru apa yang beliau lakukan. Tidak ada yang berani berbicara dan melakukan hal lain. Hanya sesekali kedengaran deheman di antara yang hadir. Semua diam seolah-olah di atas kepala kami ada burung yang bertengger dan kami takut burungnya kabur bila kami banyak gerak dan bicara.

Setelah berlalu dua jam lebih barulah beliau buka suara, “Demikianlah pelajaran kita hari ini. Mari kita tutup dengan do’a kafaratul majlis, surat Al-‘Ashr dan shalawat kepada Nabi”.

Sekalipun kami sangat heran tidak ada yang berani bertanya untuk memperjelas maksudnya. Kemudian satu persatu di antara kami permisi undur diri, pulang ke rumah masing-masing.

Di perjalanan kami saling tanya bertanya, apa kira-kira di balik teka-teki hari ini. Kenapa guru diam saja dan di akhirnya beliau mengatakan sudah selesai pelajaran untuk hari ini. Rasa penasaran kami terpaksa kami simpan sampai pertemuan berikutnya.

Barulah pada pelajaran setelah itu beliau menjelaskan bahwa pelajaran yang diinginkan dari materi sebelumnya adalah “latihan untuk diam”. Pada kesempatan itu beliau tidak menceramahi kami dengan menjejerkan ayat, hadits dan nasehat ulama. Tapi langsung dengan praktek nyata. Pelajaran yang sangat berkesan dan lebih mudah diingat walau belasan tahun sudah berlalu.

Beliau menjelaskan tentang pentingnya kita mempunyai kemampuan diri untuk tidak mengomentari segala sesuatu. Kebetulan pada waktu itu ada kejadian besar yang kami sangat ingin mendengar tanggapan beliau, karena biasanya beliau selalu mengomentari peristiwa-peristiwa penting di sela-sela pelajaran.

Di hari ini sangat terasa sekali manfaat didikan beliau itu. Di mana begitu banyak dan simpang siurnya berita yang memancing syahwat kalam atau nafsu bicara untuk menanggapinya. Namun tidak semua harus kita komentari. Kalau pun ingin komentar perlu memperhatikan beberapa fikih berkomentar, di antaranya:

1. Tanyai dulu hati kecil, apa niat memberikan komentar dalam masalah ini. Apakah betul “lillah” atau ada niat lain. Apa bukan karena ingin eksis seperti orang? Atau karena ingin dikenal? Atau justru ingin melampiaskan sakit hati dan kebencian.

Perlu diingat, hanya kata-kata yang keluarnya didasari ikhlas karena Allah yang akan bermanfaat di akhirat nanti. Lebihnya hanya akan menjadi beban berat yang akan menjerumuskan kita kepada kecelakaan.

2. Pelajari dan pahami dalam-dalam terlebih dahulu setiap hal yang akan dikomentari. Jangan sembrono apalagi terbawa hawa nafsu. Bisa-bisa akibatnya komentar kita tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak benar, akhirnya kita malu sendiri.

3. Perhatikan, apakah komentar kita itu sesuai dengan tuntutan situasi dan arah dari kejadian yang dikomentari. Jangan sampai, orang lagi menuju ke arah Utara kita sibuk komentar ke arah Selatan. Sekalipun barangkali ada kaitan, barangkali titik tekan pada saat itu tidak cocok. Setiap tempat ada pembicaraan yang tepat sebagaimana pada setiap peristiwa ada tanggapan yang pas.

4. Perhatikan, apakah kita orang yang cocok mengomentari hal itu atau tidak? Perlu mengukur kapasitas diri sebelum bicara. Dan yang tahu hal itu diri kita sendiri.

5. Sejauh mana kira-kira komentar kita itu akan mendatangkan kebaikan? Paling kurang membawa perubahan baik kepada orang yang membaca, meskipun tidak bisa langsung menjangkau objek yang dikomentari.

5. Wajib hukumnya kita memiliki ilmu terhadap apa yang kita komentari. Bila tidak ada ilmu tentang itu diam lebih aman. Karena Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ ۚ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Dan janganlah kamu ikut campur terhadap apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. (Al-Isra’: 36)

6. Perlu memilih kata-kata yang bagus dan kalimat yang tepat untuk memberikan sebuah komentar. Sambil juga memikirkan apakah kalimat yang kita sampaikan akan bisa dicerna orang lain dengan mudah dan baik atau justru mendatangkan ambigu.

Ingat, orang pintar bisa menyampaikan hal yang pelik dengan bahasa mudah sebagaimana orang yang ingin dianggap pintar menyampaikan sesuatu yang mudah dengan bahasa yang pelik.

Terakhir, hanya orang kurang waras yang mengomentari setiap apa yang ia temui.

________________

Silahkan ditambahkan dan disempurnakan kalau masih ada point yang harus diperhatikan sebelum berkomentar.

Advertisements
This entry was posted in Pengalaman. Bookmark the permalink.

One Response to Belajar Diam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s