Tradisi Pemimpin Zalim

Sudah menjadi tradisi bagi penguasa zalim semenjak zaman purba, bila aksi kezalimannya mendapatkan penentangan dari rakyat, ia akan melontarkan tuduhan kepada yang menentang bahwa mereka ingin memecah belah persatuan, atau pembuat makar untuk kehancuran bangsa.

Karena itu tuduhan yang sangat mudah digunakan untuk mengambil simpati pendukung yang lemah akal. Pengekor yang lebih rela hidup terhina demi secuil kenikmatan. Manusia yang merasa nikmat dengan keterjajahan dari pada hidup merdeka.

Manusia bermental budak yang terlena dengan iming-iming semu. Yang pikirannya hanya dipenuhi oleh bagaimana supaya perutnya kenyang dan hidup bisa nyaman. Yang tidak peduli dengan keyakinan dan harga dirinya terinjak-injak. Apalagi peduli kepada orang lain.

Mereka sungguh banyak. Kadang-kadang tampilan mereka sangat parlente, tetapi isi otaknya tidak lebih berharga dari pada apa yang ia buang di toilet.

Bila kemerdekaan atau kebebasan mengucur dari langit, ia akan mengembangkan payung untuk menangkisnya. Menjilat kepada yang memberikan secuil kemewahan lebih lezat dari pada bebas menetukan nasib sendiri bersama anak bangsanya.

Simaklah apa yang dikatakan Fir’aun kepada para pengikutnya ketika kezalimannya mendapatkan penentangan dari Nabi Musa:

قَالَ لِلْمَلَإِ حَوْلَهُ إِنَّ هَٰذَا لَسَاحِرٌ عَلِيمٌ يُرِيدُ أَنْ يُخْرِجَكُمْ مِنْ أَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِ فَمَاذَا تَأْمُرُونَ

Fir’aun berkata kepada pembesar-pembesar yang berada sekelilingnya: Sesungguhnya Musa ini benar-benar seorang ahli sihir yang pandai, ia hendak mengusir kalian dari negeri kalian sendiri dengan sihirnya; maka karena itu apakah yang kalian anjurkan?” (Asy-Syu’ara: 34-35)

Pada kesempatan lain Fir’aun menuduh Nabi Musa sebagai orang yang berbuat kebinasaan dipermukaan bumi. Istilah “maling teriak maling” yang kita kenal hari ini sudah dilakoni Fir’aun semenjak beberapa milenium yang lalu.

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

Dan berkata Fir’aun (kepada pembesar-pembesarnya): “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi”. (Ghafir: 26)

Fir’aun sebagai ikon pembuat kerusakan di permukaan bumi justru melemparkan tuduhan kepada Nabi Musa sebagai perusak. Apakah akal sehat menerima bila Nabi Musa adalah seorang pembuat kebinasaan?

Zaman sudah berganti, manusianya pun sudah berbeda, tapi inti cerita masih sama. Sepanjang zaman ada saja yang mengikuti gaya dan langkah Fir’aun. Sementara mereka lupa apa akibat yang diterima oleh Fir’aun.

Advertisements
This entry was posted in Tadabbur Al Qur'an. Bookmark the permalink.

One Response to Tradisi Pemimpin Zalim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s