Ulama Sok Tahu?

Ketika seorang ustadz atau ulama menceritakan perihal akhirat serta peristiwa, permasalahan, susah dan senang yang akan ditemui di sana, sebagian orang ada yang menuduh bahkan menghina ustadz yang membicarakan hal itu sebagai orang yang sok tahu, yang memposisikan diri sebagai juru bicara Tuhan.

Ada juga yang mengatakan sebagai tukang ramal, karena dia sendiri belum pernah mengalami hal itu. Yang lain melabelinya sebagai tukang dongeng yang menyampaikan cerita-cerita bohong penuh kurafat untuk menakut-nakuti anak kecil.

Tuduhan seperti ini muncul disebabkan oleh dua hal. Pertama, karena tidak tahu alias tidak punya ilmu tentang hal itu. Yang kedua, karena tidak ada iman dan ada sifat ingkar di dalam hati.

Untuk penyakit pertama mudah mengobatinya. Cukup belajar dengan serius dan sungguh-sungguh sebagaimana ustadz dan ulama itu sebelumnya belajar.

Ustadz yang menyampaikan permasalahan akhirat dengan segala seluk-beluknya, mulai dari sakaratul maut sampai finis di surga atau neraka, bukanlah orang sok tahu dan sok jadi jubirnya Allah. Akan tetapi semua permasalahan akhirat itu sudah dipaparkan Allah dalam Al Qur’an dengan sejelas-jelasnya, ditambah dengan hadits Rasulullah yang sangat banyak membahas hal itu.

Selaku orang yang mendalami Al Qur’an dan sunnah Rasulullah, tentu saja mereka mengetahui hal itu dengan jelas. Apalagi ulama-ulama terdahulu sudah menyusun dan membukukan seluruh informasi-informasi tentang akhirat itu dengan rapi, runut dan jelas.

Ada ulama yang membahas khusus tentang kematian, alam kubur, hari Kiamat, hari berbangkit, padang Mahsyar, hisab, mizan, haudh, shirath, neraka dan surga. Dan itu semua mereka tulis bukan berdasarkan khayalan dan angan-angan apalagi igauan. Akan tetapi semua berdasarkan informasi yang sangat gamlang dari Al Qur’an dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibarat orang yang akan pergi berwisata ke suatu tempat. Sebelum ia pergi ke sana, ia bisa mempelajari terlebih dahulu tentang tempat yang akan ia kunjungi. Mulai dengan travel apa ia akan berangkat, kendaraan menuju ke sana, objek wisata apa saja yang akan ia singgahi, di hotel mana ia akan menginap, bintang berapa, kamar berapa, apa saja fasilitas yang ada di hotel itu, apa saja fasilitas tambahan yang ada, berapa ongkos yang harus ia siapkan dan sebagainya. Sehingga, sebelum ia betul-betul pergi ke sana, seolah-olah ia sudah berada di sana dan tahu persis apa yang akan ia alami di sana. Bahkan pukul berapa ia akan mengalami ini dan itu sudah tersusun rapi di dalam jadwal.

Lalu apakah orang yang melakukan hal seperti itu kemudian menceritakan semuanya sebelum berangkat kepada temannya sesama pelancong yang tidak melakukan perkara yang sama akan dituduh sebagai tukang dongeng atau menerka-nerka perkara gaib? Hanya orang kurang akal yang akan berkata seperti itu.

Untuk tahu detil-detil permasalahan akhirat silahkan dalami Al Qur’an dan sunnah Rasul. Anda akan mengetahui apa yang diketahui oleh para ustadz yang anda tuduh sebagai pengaku jubir Tuhan.

Adapun untuk penyakit kedua, yaitu tidak mau mengimani itu semua dan mengingkarinya sekalipun sudah tahu bahwa Al Qur’an telah mengabarkan dan Rasulullah sudah memaparkan dengan sejelas-jelasnya, tidak ada obat yang bisa menyembuhkannya selain berharap hidayah dari Allah. Namun kewajiban kita tetap menyampaikan dan mengingatkan.

Tuduhan-tuduhan seperti itu sebenarnya sudah biasa. Memang seperti itu yang dilakukan oleh orang-orang ingkar dan orang yang tidak memiliki ilmu semenjak dulu. Al Qur’an pun sudah mengabarkan tentang mereka itu di dalam banyak ayatnya.

Di antaranya firman Allah dalam surah Al Mu’minun: 82-84

بَلْ قَالُوا مِثْلَ مَا قَالَ الْأَوَّلُونَ

Sebenarnya mereka mengucapkan perkataan yang serupa dengan perkataan yang diucapkan oleh orang-orang dahulu kala.

قَالُوا أَإِذَا مِتْنَا وَكُنَّا تُرَابًا وَعِظَامًا أَإِنَّا لَمَبْعُوثُونَ

Mereka berkata: “Apakah betul, apabila kami telah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar-benar akan dibangkitkan?

لَقَدْ وُعِدْنَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا هَٰذَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman (dengan) ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala!”.

Di dalam surah An Naml ayat 67-68 Allah mengungkapkan kata-kata para pengingkar dalam redaksi lain:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَإِذَا كُنَّا تُرَابًا وَآبَاؤُنَا أَئِنَّا لَمُخْرَجُونَ

Berkatalah orang-orang yang kafir: “Apakah setelah kita menjadi tanah dan (begitu pula) bapak-bapak kita; apakah sesungguhnya kita akan dikeluarkan (dari kubur)?

لَقَدْ وُعِدْنَا هَٰذَا نَحْنُ وَآبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ إِنْ هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Sesungguhnya kami telah diberi ancaman dengan ini dan (juga) bapak-bapak kami dahulu; ini tidak lain hanyalah dongengan-dongengan orang dahulu kala”.

Ya Allah, karuniakan kami iman yang tidak tercampur dengan keraguan sedikitpun.

Advertisements
This entry was posted in Serba-Serbi. Bookmark the permalink.

One Response to Ulama Sok Tahu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s