Menghancurkan, Bukan Membangun

Umat Nabi Shaleh yang membangkang kepada Allah dan Rasul-Nya diarahkan oleh sembilan orang tipan. Dalam kenyataan kasat mata yang kita lihat sampai hari ini melalui bekas-bekas peniggalan mereka, mereka adalah orang yang membangun negeri, bukan penghancur.

Kita bisa buktikan dengan melihat langsung bangunan-bangunan kokoh nan indah yang jadi peninggalan mereka di daerah Yordania sekarang. Bila kita pergi wisata ke sana, kita bisa mengunjungi objek wisata Petra yang begitu memukau.

وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ

“dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah” (Al Fajr: 9)

Kenyataannya demikian. Tapi kenapa Allah mengatakan bahwa mereka membuat kebinasaan di permukaan bumi, bukan membangun dan memperbaiki?

وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ وَلَا يُصْلِحُونَ

“Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan”. (An Naml: 48)

Jawabannya:

Memang secara fisik mereka membangun. Bahkan yang dibangun bukan bangunan sembarangan. Gunung yang dipahat menjadi bangunan indah dan kokoh. Saking kokohnya, sudah ribuan tahun berdiri, masih utuh sampai sekarang. Padahal yang masih tersisa sekarang juga hanya sisa-sisa dari bekas azab dahsyat yang diturunkan Allah. Bisa dibayangkan, bagaimana kira-kira aslinya.

Perlu kita sadari, untuk membangun istana dan rumah semegah itu tentu membutuhkan banyak tenaga manusia. Di sanalah salah satu letak kezaliman yang mereka lakukan. Bangunan besar nan megah itu didirikan untuk kesejehterahan orang-orang besar yang punya kekuasaan dan kekayaan oleh rakyat jelata yang tidak memiliki kekuasaan.

Satu sisi mereka membangun dan memperbaiki, tapi pada sudut lain mereka memperbudak dan menyengsarakan orang yang lemah dari segi harta dan kekuasaan. Tidak ada keadilan yang memperlakukan sesama manusia sebagaimana mestinya.

Kesenangan dan kemewahan hidup hanya untuk kelas atas, sedangkan kelas bawah cukup menerima sisa-sisa dan rayuan gombal supaya mereka tetap setia, siap diperbudak sesuai kemauan yang berkuasa.

Selain itu mereka merusak akhlak rakyatnya dengan perbuatan-perbuatan bebas memperturutkan keinginan hawa nafsu. Tidak ada batasan halal dan haram. Yang penting senang, semuanya boleh dilakukan.

Insting manusia menginginkan hal semacam ini. Dia akan marah bila ada orang yang berusaha mengekang dan meluruskan hawa nafsunya sesuai jalur yang benar. Mereka tidak sudi bila kebebasan mereka terganggu oleh apapun.

Dakwah Nabi Shaleh yang akan memperbaiki kondisi hidup mereka di dunia dan akan menyelamatkan di akhirat nanti dianggap sebagai penghalang untuk menikmati kesenangan yang diinginkan syahwat mereka.

Akibat memperturutkan syahwat dan hawa nafsu pandanganpun menjadi terbalik. Orang yang mengajak kepada keselamatan dipandangang sebagai penjahat dan perampas kebahagiaan, dan orang yang akan menjerumuskan mereka kepada kehinaan di dunia dan kesengsaraan akhirat dijadikan sebagai teman setia dan pemimpin yang harus ditaati.

Apalah artinya pembangunan secara fisik bila mental, moral dan akhlak orang yang menempati dan yang tinggal di sekitarnya hancur. Sebagaimana yang dikatakan oleh penyair Ahmad Syauqi Bek:

إنما الأمم أخلاق ما بقيت ….. فإن همو ذهبت أخلاقهم ذهبوا

“Sebuah peradaban itu tetap eksis selama akhlaknya masih eksis. Bila akhlaknya sudah lenyap maka lenyap pulalah peradaban itu”.

Lebih dari itu semua, kaum Nabi Shaleh tidak mau beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dosa dan kebinasaan apa yang lebih dahsyat dari pada pembangkangan kepada Allah dan Rasul-Nya?!

وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim. (Al Baqarah: 254)

Bukan sekedar tidak mau beriman, bahkan mereka mengajak yang lain untuk kafir seperti mereka dan menghalang-halangi orang untuk beriman dengan segala macam tipu daya.

Segelintir orang yang hatinya tersentuh oleh hidayah dari kalangan kasta rendah tidak terlepas dari hinaan, ejekan dan intimidasi.

Karena mayoritas penduduk negeri itu kafir dan mendukung kekafiran, sementara orang yang betul-betul berusaha untuk menjadi orang baik yang berjuang memperbaiki keadaan hanya menjadi kaum minoritas, akhirnya Allah mengirim azab dahsyat yang membinasakan mereka semua. Setelah Allah menyelamatkan Nabi Shaleh bersama orang-orang yang mau beriman terhadap risalah yang beliau bawa.

Kisah mereka diabadikan Allah di dalam Al Qur’an, di antaranya:

وَإِلَىٰ ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا ۗ قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ قَدْ جَاءَتْكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ هَٰذِهِ نَاقَةُ اللَّهِ لَكُمْ آيَةً ۖ فَذَرُوهَا تَأْكُلْ فِي أَرْضِ اللَّهِ ۖ وَلَا تَمَسُّوهَا بِسُوءٍ فَيَأْخُذَكُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka Shaleh. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang bukti yang nyata kepadamu dari Tuhanmu. Unta betina Allah ini menjadi tanda bagimu, maka biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun, (yang karenanya) kamu akan ditimpa siksaan yang pedih”.

وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِنْ بَعْدِ عَادٍ وَبَوَّأَكُمْ فِي الْأَرْضِ تَتَّخِذُونَ مِنْ سُهُولِهَا قُصُورًا وَتَنْحِتُونَ الْجِبَالَ بُيُوتًا ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّهِ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Dan ingatlah olehmu di waktu Tuhan menjadikam kamu pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah kaum ‘Aad dan memberikan tempat bagimu di bumi. Kamu dirikan istana-istana di tanah-tanahnya yang datar dan kamu pahat gunung-gunungnya untuk dijadikan rumah; maka ingatlah nikmat-nikmat Allah dan janganlah kamu merajalela di muka bumi membuat kerusakan.

قَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لِلَّذِينَ اسْتُضْعِفُوا لِمَنْ آمَنَ مِنْهُمْ أَتَعْلَمُونَ أَنَّ صَالِحًا مُرْسَلٌ مِنْ رَبِّهِ ۚ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلَ بِهِ مُؤْمِنُونَ

Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri di antara kaumnya berkata kepada orang-orang yang dianggap lemah yang telah beriman di antara mereka: “Tahukah kamu bahwa Shaleh di utus (menjadi rasul) oleh Tuhannya?”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami beriman kepada wahyu, yang Shaleh diutus untuk menyampaikannya”.

قَالَ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا إِنَّا بِالَّذِي آمَنْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

Orang-orang yang menyombongkan diri berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang yang tidak percaya kepada apa yang kamu imani itu”.

فَعَقَرُوا النَّاقَةَ وَعَتَوْا عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا يَا صَالِحُ ائْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الْمُرْسَلِينَ

Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhan. Dan mereka berkata: “Hai Shaleh, datangkanlah apa yang kamu ancamkan itu kepada kami, jika (betul) kamu termasuk orang-orang yang diutus (Allah)”.

فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ

Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.

فَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ وَلَٰكِنْ لَا تُحِبُّونَ النَّاصِحِينَ

Maka Shaleh meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat”. (Al A’raf: 73-79)

Banyak lagi pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah mereka. Karena memang kisah mereka disampaikan Allah kepada kita untuk menjadi pelajaran supaya kita tidak sampai jatuh kepada kesalahan yang sama seperti yang telah mereka lakukan.

Semoga mata-mata yang terpukau oleh pembangunan secara fisik bisa sadar, itu bukanlah pembangunan sebenarnya. Bahkan itu hakikatnya penghancuran dan pembinasaan.

Tidakkah mereka menyadari bahwa kemegahan dan kemewahan itu hanya untuk melayani manusia-manusia pemilik harta dan kekuasaan yang tidak mempunyai kepedulian kepada nasib mereka rakyat jelata. Mereka tidak akan mendapatkan apa-apa selain menjadi penonton yang cukup merasa nikmat melihat keindahan apa yang mereka bangun, bukan untuk sama-sama menikmati sebagaimana manusia ber-uang itu menikmatinya.

Dan lebih sadisnya, pada saatnya, mereka yang memberikan dukungan itu juga akan disingkirkan bila dukungan mereka tidak diperlukan lagi dan keberadaan mereka terasa mengganggu kenyaman mereka.

Fa’tabiru ya ulil abshar la’allakum tuflihun.

Advertisements
This entry was posted in Pelajaran dari Revolusi Mesir, Tadabbur Al Qur'an. Bookmark the permalink.

One Response to Menghancurkan, Bukan Membangun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s