73 Tahun dengan Rasa 17 Tahun

Salah satu hal yang paling menarik bagi saya ketika belajar dengan seorang guru ialah bila ia tidak pelit menyelipkan pengalaman hidupnya di sela-sela pelajaran. Terutama pengalaman yang ada hubungannya dengan materi yang disampaikan. Karena, di samping hal itu bisa menambah motivasi, sekaligus menambah kuat ingatan terhadap pelajaran.

Di antara guru kami yang suka melakukan hal itu adalah Prof. Dr. Ahmad Ali Thaha Rayyan. Selalu ada pengalaman menarik yang beliau sampaikan, baik di waktu pelajaran tatap muka (talaqqi), maupun pelajaran dari kitab yang beliau tulis.

Kali ini kita akan ceritakan satu sisi dari kehidupan ayah beliau yang menurut saya sangat luar biasa. Selama ini saya hanya membaca kisah semacam itu dari ulama-ulama atau orang dulu. Ternyata orang yang hidup di zaman modern sekarang masih ada yang seperti itu.

Saya akan ceritakan apa adanya, sebagaimana yang beliau sampaikan di dalam kitab yang beliau tulis, “Malamih min Hayati”. Di halaman 13-14 beliau menuturkan:

“Ibuku Zakiyah An Nuby Abdullah Salim meninggal dunia pada tahun 1975 setelah mengidap penyakit selama dua tahun. Waktu itu ayahku sudah berumur 73 tahun.

Pada bulan ketiga setelah wafatnya ibuku, aku menziarahi beliau. Di saat aku sudah memegang tasku untuk kembali berangkat ke Cairo, beliau berkata: “Kamu akan berangkat, sedangkan aku butuh orang yang akan melayaniku”.

Saat itu aku mengerti bahwa beliau ingin menikah lagi. Sementara adat di pedalaman Mesir saat itu, seorang laki-laki akan terus menduda satu tahun, bahkan bertahun-tahun setelah ditinggal mati oleh istrinya, sebelum ia berpikir kembali untuk menikah. Boleh jadi karena sedih ditinggalkan istri, atau malu dengan anak-anaknya yang sudah besar.

Karenanya, tindakan ini meninggalkan bekas di hati saudara-saudaraku. Akan tetapi aku sendiri mengerti apa makna ini semua, lagian ayahku dalam keadaan sehat yang sempurna. Cukuplah beliau hidup dua tahun tanpa istri. (Maksudnya selama istri beliau sakit-pen). Bahkan aku sudah menawarkan supaya beliau menikah lagi di tengah-tengah sakitnya ibuku, namun beliau hanya mampu menanggapinya dengan tangisan. Karena sudah begitu lamanya beliau hidup di dampingi ibuku, hampir selama 40 tahun.

Karena itu aku langsung bertanya kepada beliau, di mana sebelumnya aku nyatakan bahwa pada dasarnya aku menyetujuinya. Aku tarok kembali tas yang sudah siap aku bawa, dan aku duduk menanyai beliau: “Apakah ayah sudah memikirkan, siapakah perempuan yang akan ayah jadikan sebagai pendamping hidup?”.

Beliau menjawab: “Iya”.

Aku: “Siapa orangnya?”.

Ayahku: “Anak pamanmu”.

Anak saudara laki-laki ibu Syekh Ahmad Ali Thaha/sepupu beliau sendiri. (Dalam bahasa Minang: anak mamak). Sementara beliau sendiri menikah dengan anak tertua dari pamannya ini. Hanya tinggal satu-satunya anak perempuan, adik dari istri beliau yang paling kecil, yang umurnya masih 13 tahun.

Aku: “Dia masih kecil, apakah ayah tidak menemukan perempuan yang lebih tua dari dia?”

Ayahku: “Tapi kedua orang tuanya sudah setuju. Dan dia sendiri cocok denganmu dan anak-anakmu bila kamu pulang ke rumah ini”.

Segera saja aku mendatangi rumah pamanku dan aku bertemu dengan kedua orang tua gadis itu. Keduanya pun menyetujui pernikahan itu. Penolakan hanya datang dari salah seorang saudara laki-lakinya, lalu aku membantahnya. Tidak ada urusan denganmu, kamu bersama kami jadi warga Cairo, biarkan orang kampung mengurus urusan mereka sebagaimana yang mereka inginkan, ujarku.

Waktu ‘Ashar hari itu juga aku pergi menemui wali hakim pencatat pernikahan bersama pamanku. Aku menyerahkan uang sebanyak lima pound. Di masa itu uang sejumlah itu cukup besar nilainya. Dan saat itu juga diadakan akad nikah.

Aku tidak bertanya kepada gadis kecil itu, apakah ia redha dengan pernikahan itu, karena aku belum lama meninggalkan kampung. Biasanya anak perempuan redha dengan pilihan ibu-bapak mereka dengan siapa ia dinikahkan.

Kemudian aku menyerahkan akad pernikahan kepada ayahku sambil berkata, ini istrimu, silahkan ayah urus acara walimahan dengan orang tua penganten perempuan sesuai yang ayah inginkan.

Sekarang biarkan aku kembali untuk melanjutkan tugasku di fakultas”. Aku waktu itu sebagai pengajar di Fakultas Syari’ah wal Qanun Al Azhar Cairo.

Alhamdulillah, dari pernikahan itu beliau dikaruniai lima orang anak laki-laki dan perempuan. Yang paling tua namanya Mushtafa, bekerja sebagai apoteker. Yang kedua Mahmud, tamatan kuliah Syari’ah wal Qanun di provinsi Asyut. Yang ketiga Ali, masih tingkat 4 kuliah Dirasat Islamiyah dan Arabiyah di provinsi Qina. Yang keempat Iman, sudah punya 4 orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Yang kelima paling bungsu, Ibtisam. Anak perempuan terakhir ini lahir ketika ayahku sudah berumur 100 tahun. Saat ini ia masih kelas 2 SMP, sedangkan abang seayahnya sudah berumur 75 tahun. Sekarang ia adalah anggota keluarga yang paling dekat kepadaku”.

NB: Kisah ini dituliskan pada tahun 2015.
——————-

Pelajaran:

1. Istilah pedofil itu bukanlah ajaran Islam. Bila pernikahan dijalankan dengan dasar suka sama suka, disertai tanggungjawab yang sempurna, tidak ada masalah dalam syari’at.

2. Kalau ingin sehat dan punya semangat hidup, menikahlah dengan perempuan yang lebih muda. Bahkan sepertinya menikahi gadis muda itu akan memperpanjang usia.

3. Tidak aib dalam adat pedalaman Mesir bila seorang laki-laki menikahi perempuan yang sangat jauh perbedaan umur dengannya. Palingkurang hal itu masih biasa sampai tahun 1975 yang lalu.

4. …….

Advertisements
This entry was posted in Rawai'. Bookmark the permalink.

One Response to 73 Tahun dengan Rasa 17 Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s