Teman dalam Mentaati Allah

Di malam Nabi Musa menerima wahyu, beliau meminta kepada Tuhannya tujuh permohonan sekaligus:

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي وَاجْعَلْ لِي وَزِيرًا مِنْ أَهْلِي هَارُونَ أَخِي اشْدُدْ بِهِ أَزْرِي وَأَشْرِكْهُ فِي أَمْرِي

Berkata Musa: “Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku, dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikankanlah dia sekutu dalam urusanku” (Thaha: 25-32)

Nabi Musa menjelaskan tujuan dari permintaannya supaya diberi pembantu dari keluarganya sendiri:

كَيْ نُسَبِّحَكَ كَثِيرًا وَنَذْكُرَكَ كَثِيرًا

“supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau”. (Thaha: 33-34)

Tujuan Nabi Musa minta “pembantu”, supaya beliau mampu banyak bertasbih dan banyak mengingat Allah, bukan untuk menghadapi Fir’aun. Karena mengingat dan mentaati Allah perlu ada teman dari orang-orang shaleh yang akan membantu kita untuk istiqamah berada di atas kebenaran. Tidak mudah futur dan terombang-ambing oleh kompleksnya permasalahan hidup.

Setiap manusia mempunyai potensi untuk berbuat baik dan berbuat jahat. Allah mengatakan:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. (Asy-Syams: 8)

Bila kita banyak bergaul dengan pendosa pasti akan terjerumus melakukan dosa, dan bila kita selalu berdampingan dengan orang-orang shaleh besar kemungkinan keshalehan itu akan berimbas kepada diri kita. Sekurang-kurangnya potensi jahat dalam diri kita tidak akan berkembang bebas.

Alangkah perlunya pemimpin-pemimpin yang baik dan para pejuang kebenaran didampingi oleh orang-orang baik. Supaya dia tetap istiqamah dalam kebaikan, bahkan supaya potensi kebaikannya tumbuh berkembang. Sebaliknya, pemimpin perlu dijauhkan dari “bithanatussu” (pendamping-pendamping jahat) yang akan dapat memalingkan dia dari jalan kebenaran.

Teman yang shaleh adalah harta benda yang tidak ternilai harganya. Bila sudah menemukan mereka, mesti dipelihara baik-baik, jangan sampai renggang dari mereka. Apalagi menjauh dan berseteru dengan mereka.

Allah berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (Al Kahfi: 28)

Dan Allah melarang kita untuk menjadikan orang yang tidak seiman sebagai teman kepercayaan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. (Ali Imran: 118)

Carilah teman yang shaleh supaya dapat saling tolong-menolong dalam kebaikan, dan berusahalah menjadi teman yang shaleh bagi orang-orang shaleh, supaya bisa saling menguatkan dan meluruskan di saat terlenceng dari jalan yang benar.

Advertisements
This entry was posted in Tadabbur Al Qur'an. Bookmark the permalink.

One Response to Teman dalam Mentaati Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s