Tuduhan

Seorang laki-laki berjalan dengan santai di sebuah taman. Dia tidak menyadari ada bahaya yang mengancam. Tiba-tiba seorang perampok menghadang di depannya sambil menghunuskan senjata tajam. Dengan sigap perampok itu melucuti dompet dan semua barang berharga yang menempel di tubuhnya. Kemudian perampok itu membentak: “Lupakan saja apa yang sudah terjadi dan segera berlalu dari sini!”

Laki-laki itu berusaha bernegosiasi dengan si perampok dan memberikan perlawanan. Dengan suara tegas si perampok kembali menghardik. “Lupakan apa yang sudah terjadi dan segera berlalu dari sini dengan damai! Kalau tidak…..”, ancamnya.

Di saat genting itu tiba-tiba datang seorang “dukun keji” sambil berujar kepada laki-laki yang sedang berada di bawah tekanan itu: “Dia memintamu untuk berlalu dengan damai. Sementara berdamai itu lebih utama bagimu. Tidakkah kamu mendengan firman Allah:

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Anfal: 61)

Sekarang berserah dirilah kepada Allah, dan berlalu dengan damai.

Laki-laki malang itu berkata dengan memelas: “Aku dirampok. Dia mesti mengembalikan uang dan hartaku. Bila hari ini rodaku berada di bawah, cepat atau lambat akan datang masanya rodaku berada di atas”.

Tiba-tiba banyak orang berkumpul mengerubungi mereka. Semua saling angkat bicara. Sebagian berlagak seperti ahli hikmah yang bijaksana.

“Hai, kamu pengancam rasa aman!

Kamu perusak suasana damai!

Kamu radikal!

Kamu teroris!

Kamu pembuat fitnah!

Kamu mengotori keadaan tenang!

Kamu perusak kebinekaan!

Kamu pengancam keutuhan negara!

Begitu kata-kata yang meluncur deras dari mulut-mulut kotor mereka, yang mereka tujukan kepada laki-laki yang kena rampok, bukan kepada perampok.

Dengan rasa sedih dan suara memelas laki-laki yang jadi korban itu berkata:

“Kenapa kalian mencap diriku yang dizalimi sebagai teroris?

Kenapa kalian begitu tega mengatakan diriku yang tertindas sebagai radikal?

Kemana nurani kalian hingga tega menuduhku sebagai penjahat? Padahal aku yang jadi korban penindasan.

Tidak adakah orang yang berakal normal atau memiliki jiwa keadilan di antara kalian, yang mampu berkata kepada perampok itu supaya ia mengembalikan hakku?”

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. (Al Ankabut: 43)

Advertisements
This entry was posted in Qadhaya. Bookmark the permalink.

One Response to Tuduhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s