Diam di Hadapan Kezaliman

Seorang profesor pakar perundang-undangan memasuki ruangan kuliah untuk menyampaikan materi terakhir bagi mahasiswa jurusan hukum. Sebulan berikutnya para mahasiswa itu akan tamat dari perkuliahan dan mereka akan segera jadi pengacara, hakim atau jaksa.

Tiba-tiba tidak ada angin tidak ada hujan, dosen itu marah-marah tanpa sebab. Dia meninggikan suara, menghamburkan sumpah serapah dan kata-kata kasar. Salah seorang dari mereka dapat bagian paling dahsyat. Ia dicaci-maki oleh si prof sampai akhirnya diusir keluar dari ruang kuliah.

Menyaksikan hal itu, tidak seorangpun di antara mahasiswa lain yang tergerak untuk membela temannya, sekalipun alasan pengusiran itu tidak masuk akal. Kemudian si prof melanjutkan kuliahnya sampai selesai.

Setelah ujian ia menyampaikan pengumuman bahwa semua mahasiswa yang mengambil mata kuliah hukum dengannya tidak satu orangpun yang lulus dalam ujian.

Akibat keputusan yang “radikal” itu, si prof mendapatkan interogasi dari pihak universitas. Kenapa ia begitu ketat dalam memberikan nilai. Dengan santai ia menjawab semua dakwaan itu….

“Mereka semua menyaksikan kezaliman yang nyata dariku terhadap salah seorang dari teman mereka. Juga kepada diri mereka masing-masing. Namun tidak ada seorangpun di antara mereka yang tergerak hatinya untuk memberikan bantahan dan pembelaan. Palingkurang menunjukkan simpati kepada temannya yang diusir keluar secara zalim.

Karena itu, mereka semua tidak berhak menerima anugerah gelar dan ijazah sebagai ahli hukum yang akan memberikan pembelaan terhadap orang-orang yang terzalimi di hadapan negera dan undang-undang. Bagaimana mungkin mereka akan memberikan pembelaan kepada yang harus dibela bila di dalam jiwa mereka hanya ada sifat mencari aman dan selamat sendiri. Yang mereka pikirkan pasti hanya perut dan bagaimana supaya kantong mereka berisi.

Diam di hadapan kezaliman adalah perbuatan zalim”.

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ}

“Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. (Al Anfal: 25)

Rasulullah bersabda: “Sesungguhya Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mengazab orang banyak akibat kesalahan pribadi sampai mereka melihat kemungkaran di hadapan mereka, kemudian mereka membiarkannya padahal mereka mampu mencegahnya. Apabila mereka melakukan hal itu Allah akan mengazab mereka, baik azab yang menimpa pribadi maupun menimpa masyarakat umum”.

Advertisements
This entry was posted in Rawai'. Bookmark the permalink.

One Response to Diam di Hadapan Kezaliman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s