Rindu Kampung Halaman

Kampung asli kita pada hakikatnya adalah di surga, tempat ayah bunda kita pertama berasal. Secara fitrah, sudah seharusnya setiap orang merasa rindu kepada kampung halamannya.

Setidaknya ada tiga kemungkinan yang menyebabkan seseorang tidak memiliki rasa rindu kepada kampung halamannya:

Pertama, karena dia tidak kenal betapa indah dan nyamannya tempat ia berasal.

Kedua, karena belum punya perbekalan yang cukup untuk kembali, sebab belum berhasil di tanah rantau. Malu untuk kembali dalam keadaan tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan.

Ketiga, karena terlalu terlena dengan kesibukan di tanah rantau hingga tidak ingat kalau suatu saat mesti kembali ke tanah asal.

Sibuknya aktifitas kehidupan sepanjang tahun membuat kita tertimpa tiga permasalahan di atas. Oleh karena itu, satu bulan dalam setahun Allah memberi kesempatan khusus bagi hati kita untuk merenung agar ingat kepada kampung halaman asli kita. Kemudian segera berusaha mengatasi tiga permasalahan itu agar merasa siap untuk kembali. Di bulan Ramadhan ini Allah menyediakan waktu dan suasana yang memudahkan kita untuk mengingatnya, sekaligus membuat persiapan.

Bukankah mendengar dan membaca al Qur’an dengan suara yang indah dan lirih sangat menarik jiwa kita untuk merenungkan kehidupan di seberang sana? Karena Al Qur’an menceritakan tentang kampung halaman kita yang suatu saat kita pasti akan kembali ke sana.

Bukankah berpuasa dengan menahan haus dan lapar akan mengingatkan kita terhadap proses jalan panjang menuju tanah asal. Mau tidak mau kita dipaksa membayangkan betapa dahsyatnya penungguan di Padang Mahsyar, ketika mata hari sangat dekat di atas kepala.

Bila hari-hari biasa suasana itu jauh dari kita, maka di bulan puasa ini sangat mudah kita dapatkan. Tinggal kemauan kita untuk mau berhenti sejenak berpikir sebelum semuanya terlambat.

Kampung halaman yang satu ini terus memanggil kita untuk pulang. Mau tidak mau suatu saat harus kembali. Tidak ada cerita untuk terus berada di tanah rantau untuk selama-lamanya.

Bila pulang dengan persiapan yang baik akan disambut di sana dengan segala kenikmatan, tapi bila di luar itu, sudah tentu akan disingkirkan dari sana ke tempat yang tidak pernah dibayangkan kengeriannya.

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَا أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَالِحًا غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُمْ مَا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَنْ تَذَكَّرَ وَجَاءَكُمُ النَّذِيرُ فَذُوقُوا فَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang lalim seorang penolongpun. (Fathir: 37)

Temukan rasa rindu kepada kampung halaman sesungguhnya dengan puasa dan al Qur’an.

Bila tidak bisa, renungkanlah betapa besarnya musibah yang menimpa diri. Karena tidak ada musibah yang lebih berbahaya selain hilangnya rasa harap untuk kembali ke surga dan cemas tersesat ke neraka.

Semoga akhirnya ditemukan juga rasa itu.

Advertisements
This entry was posted in Khawathir. Bookmark the permalink.

One Response to Rindu Kampung Halaman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s