Kenapa di Surga Tidak Ada Pembicaraan Sia-sia?

Di dalam Al Qur’an Allah menceritakan perihal penduduk surga, di mana tidak akan kedengaran lagi di sana pembicaraan sia-sia tiada guna. Kalimat yang keluar dari pembicaraan mereka hanyalah kalimat-kalimat mulia lagi terhormat.

Allah berfirman:

(لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا إِلَّا سَلَامًا ۖ وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا)

“Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam surga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rezekinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang”. [Surat Maryam 62]

Dalam ayat yang lain Allah berfirman:

(لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا تَأْثِيمًا)

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa,” [Surat Al-Waqi’ah 25]

Seterusnya:

(لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا)

“Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia dan tidak (pula) perkataan dusta”. [Surat An-Naba’ 35]

Sekarang mari kita fokus tadabburi satu sisi saja, kenapa di surga tidak ada perkataan sia-sia, padahal di surga kita tidak perlu lagi serius untuk mencapai sesuatu. Bukankah keseriusan diperlukan untuk menggapai cita-cita yang bernilai tinggi, yang tidak gampang untuk diperoleh? Sementara di sana itu semua sudah diperoleh.

Paling kurang kita bisa menemukan dua jawaban:

Pertama, karena mengatakan perkataan sia-sia bukanlah perbuatan terhormat. Sementara di surga tidak ada hal sepele, tidak berharga, hina dan leceh. Yang ada hanyalah segala kemuliaan, segala yang berharga dan terhormat.

Untuk itu, tentu saja Allah yang Maha Mulia terlebih dahulu mencabut segala sifat jelek dari mereka sebelum mereka masuk ke dalam surga.

Jadi penyebab utamanya adalah karena Allah sudah membersihkan mereka dari segala sifat tidak baik. Bukan hanya dibersihkan dari membicarakan hal yang sia-sia, bahkan semua sifat tidak baik tercabut dari diri mereka.

Jawaban kedua, karena ucapan sia-sia itu muncul dari khayalan yang melebihi dari apa yang bisa dicapai. Pepatah mengatakan “tinggi buih dari pada botol”, sindiran bagi orang yang banyak bacot, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti orang yang banyak nongkrong di warung kopi membicarakan segala hal, dari masalah sepele sampai politik dunia. Seolah-olah semua bisa beres dengan cerita mereka di sana.

Kenapa orang melakukan itu?

Karena mereka menghibur diri dari ketidak mampuannya untuk berbuat. Menumpahkan angan-angan mereka dengan membual. Tidak tercapai di alam nyata, mungkin bisa sedikit terobati dengan mengkhayal, dan khayalan ditumpahkan dalam bentuk omong kosong.

Orang yang ingin kaya tapi tidak kunjung kaya-kaya, demi menghibur diri mereka akan membual. Seolah-olah kaya sekali, padahal untuk makan saja susah.

Orang yang ingin berpangkat dan berkuasa tapi tak mampu mencapainya, untuk menghibur diri mereka bicara, “Bila aku yang jadi itu aku akan begini dan begitu”. Dan begitulah selanjutnya.

Nah, di surga tidak ada hal semacam itu. Apapun yang diinginkan langsung tersaji. Segala yang terlintas dalam kemauan langsung terwujud tanpa susah payah berusaha dan menunggu-nunggu.

Allah berfirman:

(وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ)

“di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta” [Surat Fussilat 31]

(يُطَافُ عَلَيْهِمْ بِصِحَافٍ مِنْ ذَهَبٍ وَأَكْوَابٍ ۖ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ ۖ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ)

“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya” [Surat Az-Zukhruf 71]

Jadi, apapun yang mereka inginkan tidak perlu jadi omongan. Omongan serius saja tidak, apalagi sampai omongan sia-sia. Karena baru saja mereka menginginkan langsung jadi kenyataan.

Shahih Muslim, kitab Iman, bab Posisi Terendah Penduduk Surga, hadits nomor 188, menceritakan perihal orang terakhir yang masuk surga. Dia akan disuruh oleh oleh Allah untuk mengkhayal. Apapun yang ia khayalkan waktu itu juga diberikan Allah. Sampai ia tidak mampu lagi untuk mengkhayal. Ketika itu Allah yang mengingatkan, “Apakah kamu ingin ini, ingin itu?

Sampai akhirnya diapun kehabisan apa yang diinginkan. Barulah waktu itu Allah berkata, “Untukmu semuanya ini, dan aku tambahkan 10 kali lipat dari itu”.

Kemudian ia masuk ke dalam istananya. Ia disambut oleh dua orang bidadarinya. Keduanya berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkanmu untuk kami dan menghidupkan kami untukmu”.

Lalu ia berkata: “Allah tidak pernah memberikan kepada seorangpun seperti yang diberikan kepadaku”.

Dia merasa bahwa dia adalah orang paling tinggi derjat dan paling banyak nikmat, padahal ia adalah orang paling rendah posisinya di surga.

Lalu bagaimana kira-kira dengan orang yang paling tinggi maqamnya di surga?!

Ini bukanlah cerita sia-sia, bukan khayalan tiada guna. Tapi ini adalah janji dari Allah yang Maha Menepati Janji.

اللهم إنا نسألك رضاك والجنة

Advertisements
This entry was posted in Tadabbur Al Qur'an. Bookmark the permalink.

One Response to Kenapa di Surga Tidak Ada Pembicaraan Sia-sia?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s