Biarkan Anak Menjadikan Dirinya Sendiri

Kadang kita merasa sedih ketika melihat anak kita tidak memiliki kelebihan yang dimiliki oleh anak orang lain. Kita kepengen anak kita seperti Musa Ola Ode yang masih kecil sudah hafal Al Qur’an dengan sempurna. Atau mendapatkan prestasi ini dan itu, hingga dapat hadiah umrah atau melancong ke luar negeri. Kita cemas terhadap anak kita ketika melihat anak si Fulan dan anak si Badu.

Karenanya, kadang-kadang kita memaksakan apa yang kita inginkan kepada anak kita supaya dia seperti anak-anak orang itu. Tidak jarang kita membandingan mereka dengan anak orang lain dan menyuruh mereka untuk meniru anak orang.

Padahal setiap anak diberi kelebihan dan potensi masing-masing yang berbeda dengan anak orang lain, yang sesungguhnya itu adalah sunnatullah dalam kehidupan ini. Tugas kita adalah mengarahkan dan memupuk potensi dan kelebihan mereka itu supaya berjalan pada koridor yang benar. Apapun kelebihan yang mereka miliki bila terbina dan berkembang dengan baik, insyaallah akan bermanfaat untuk dirinya, agama dan masyarakat.

Seorang teman sering sedih dan khawatir dengan anak-anaknya yang nilai angka-angka di rapor selalu di bawah standar, bukan saja di bawah harapan. Anggap saja namanya Saifullah. Sekalipun dalam bidang akademis Saifullah berada pada papan bawah, tapi setiap hari ia selalu melayani kepentingan kawan-kawannya. Membukakan pintu mobil, menutup jendela mobil setelah semua turun dan memilih sampah kalau ada yang berceceran. Kalau ada yang muntah atau mimisan tanpa jijik dan tanpa diminta ia yang memebersihkan. Sampai di sekolah memperhatikan tanaman mana yang belum disiram. Memeriksa tong sampah kalau sudah penuh. Tidak akan keluar dari kelas sebelum memastikan semua sudah rapi. Memastikan semua teman-temannya sudah naik mobil sebelum berangkat pulang. Yang lebih ajib, memeriksa satu persatu anak waktu keluar main, siapa yang tidak bawa bekal atau uang jajan, dan membagi makanannya kepada yang tidak punya makanan. Atau memberitahu guru supaya ditalangi jajannya.

Waktu pelajaran agama di kelas 5, kelasnya Saifullah, terdapat materi pelajaran yang bertemakan: Meneladani Sifat-sifat Terpuji Shahabat Rasul. Salah satu tugas soalnya, anak-anak diminta menceritakan tentang temannya yang memiliki sifat peduli, suka membantu dan empati. Teman-taman Saifullah sepakat untuk menobatkan dia lah orangnya. Semua guru juga sepakat dengan anak-anak.

Kondisi seperti itu barangkali lebih dari cukup daripada sekedar dapat juara satu dengan nilai 100 semua dalam rapor.

Pada sisi lain ada seorang bapak yang juga sedih, kenapa anaknya tidak mau disuruh untuk menghafal Al Qur’an seperti anak orang lain. Apa kata dunia, sudah lahir di Mesir, kedua orang tuanya azhari, tapi anaknya sendiri tidak mau menghafal Al Qur’an. Akhirnya si orang tua menyerahkan semua itu kepada ketentuan Allah dan mendo’akan anaknya banyak-banyak. Yang penting dia dididik untuk mencintai shalat tepat waktu dan berjama’ah di masjid. Mudah-mudahan suatu saat terbuka sendiri hatinya untuk menghafal Al Qur’an.

Tidak lama setelah itu tiba-tiba anaknnya bilang, “Abi, Abdurrahman sudah hafal surat al Kahfi”. Orang tua si anak mencoba menguji apakah betul-betul hafal. Dan ternyata memang sudah hafal. Padahal ia tidak melihat kapan anaknya menghafalnya. Setelah itu secara berkala dia mengatakan, “Abdurrahman sudah hafal surat ini, surat ini dan surat itu. Rupanya ia suka menghafal sesuka dia tanpa harus disuruh dan dipaksa-paksa. Tunggu saja, nanti dia sendiri yang akan bilang. Kapan dia hafal dan bagaimana caranya itu rahasia dia.

Mungkin sekelumit kisah nyata ini bermanfaat bagi kita dalam menghadapi dan mendidik anak-anak kita kedepan. Biarkan ia jadi dirinya sendiri, jangan kita paksa anak kita untuk menjadi anak orang lain.

(رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ)

(وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا)

(َرَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ)

Advertisements
This entry was posted in Pengalaman. Bookmark the permalink.

One Response to Biarkan Anak Menjadikan Dirinya Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s