Tidak Ada Larangan Menikmati Dunia

Ada pemahaman yang tidak tepat pada sebagian orang terhadap ulama atau ahli agama. Mereka memandang bahwa, apabila seseorang sudah menjadi ustadz atau ulama maka ia tidak berhak menikmati dunia, jauh dari syahwat, hidup dalam keadaan diam, menunduk tafakkur, merenung sambil zikir menunggu ajal datang.

Ada yang celetuk, ustadz kok gayanya parlente, kok hidupnya mewah, kok istrinya banyak, kok rumah dan kendaraannya mewah, kok makanannya lezat-lezat?

Padahal tidak demikian. Allah menciptakan manusia untuk memakmurkan bumi ini. Mengolahnya supaya indah, nyaman untuk ditinggali. Tapi semua itu dalam rangka beribadah kepada Allah dan dalam rangka menjalani ujian sebelum kembali ke akhirat. Untuk menentukan di mana posisinya nanti setelah mampir sejenak pada kehidupan dunia ini.

Tidak ada larangan bagi siapapun menikmati dunia ini asalkan sesuai dengan syarat yang ditentukan Allah. Syaratnya adalah: nikmat itu didapatkan dengan cara halal dan digunakan dengan cara yang halal pula.

Allah berfirman:

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (Al A’raf: 32)

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Al Mu’minun: 51).

Karena itu semua, maka tidak heran bila kita menyaksikan ustadz, ulama dan orang-orang shaleh yang seolah-olah menjadi “penikmat dunia”. Karena justru mereka lah yang lebih berhak untuk itu sesuai dengan firman Allah pada ayat di atas.

Selain mereka berhak, mereka juga diberi oleh Allah kemampuan lebih untuk menikmati nikmat-nikmat itu. Penyebabnya, di samping nikmat itu mereka dapatkan dengan cara yang halal, mereka mampu menggunakan nikmat-nikmat Allah itu sesuai dengan ketentuan (dosis) yang ditentukan Allah. Hingga nikmat itu tidak mebawa efek samping negatif kepada diri mereka. Nikmat itu jadi abadi sampai kapanpun selagi mereka hidup.

Banyak bukti dan contoh yang terjadi pada diri orang-orang shaleh kita dulu. Bila kita tuliskan semua akan menjadi buku yang berjilid-jilid. Kita sebutkan beberapa orang saja sebagai contoh:

1. Orang shaleh yang menikmati kekayaan harta benda, seperti shahabat Rasulullah Abdurrahman bin ‘Auf yang ketika meninggal emasnya dibagi kepada ahli waris pakai kampak, bukan ditimbang dengan gram. Ustman bin ‘Affan menantu Rasulullah yang seumur-umur harus makan dengan daging.

Generasi selanjutnya ada Ibnu Mubarak yang menghajikan 300 orang dalam satu kali perjalanan haji, dengan menanggung semua ongkos perjalanan beserta oleh-oleh ketika pulang. Imam Abu Hanifah saudagar kain sutra yang membiayai kehidupan murid-muridnya. Imam Al Laits bin Sa’ad yang membiayai hidup rekannya Imam Malik, terkenal sangat dermawan, yang tidak pernah terkena kewajiban zakat seumur hidup, karena hartanya selalu duluan habis diinfakkan sebelum kadar nisab dan haulnya datang.

2. Orang shaleh yang menikmati kekuasaan. Mulai dari empat orang Khulafaurrasyidin; Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin ‘Affan dan Ali bin Abi Thalib. Generasi selanjutnya ada Umar bin Abdul ‘Aziz, Khulafaurrasidin yang ke-5, yang menjadi penguasa dunia mulai dari Andalus sebelah Barat sampai Hindia dan perbatasan Cina sebelah Timur.

Setelahnya ada Nuruddin Azzanki yang kisah hidupnya tidak setenar yang lainnya, meskipun ia dianggap sebagai Khulafaurrasyidin yang ke-6 karena adil dan shalehnya. Sezaman dengannya ada Sultan Shalahuddin al Ayyubi. Generasi setelahnya ada Muhammad al Fatih dan banyak lagi.

3. Orang shaleh yang menikmati istri dan anak-anak yang banyak. Mulai dari shahabat Rasulullah Anas bin Malik yang memiliki anak sampai berjumlah ratusan orang. Tentu saja tidak masuk akal bila istrinya hanya satu orang. Beliau adalah shahabat Rasulullah yang tidak ditimpa ketuaan secara fisik, yang artinya tubuhnya tetap sehat dan kuat seperti pemuda sekalipun beliau meninggal di usia 103 tahun.

Siapa yang tidak kenal dengan Sultanul Aulia, Quthb al Ghauts, Syekh Abdul Qadir Al Jailani, yang aliran tarekatnya tersebar ke seluruh dunia. Beliau adalah orang yang sangat zuhud, wara’, shaleh, ahli ibadah. Tapi siapa yang tahu bahwa beliau memiliki 49 orang anak, 27 orang laki-laki dan 22 orang perempuan. Seluruh anaknya mengikuti jejak ayahnya, dan mereka lah yang berpencar ke seluruh penjuru dunia mendidik umat dengan menyebarkan ajaran ayahnya.

4. Orang shaleh yang menikmati kehidupan sex. Kita mulai dari Abdullah bin Umar, shahabat yang sangat meniru segala gerak gerik Rasulullah. Seorang yang paling zuhud di antara shahabat Rasulullah. Kadang-kadang ia berbuka puasa bukan dengan makan kurma atau minum air, tapi dengan menggauli istrinya. Beliau juga menggauli empat orang budaknya sebelum shalat ‘Isya. Beliau berkata: “Aku diberi oleh Allah kekuatan untuk berhubungan sex yang aku tidak tahu Allah memberikannya kepada orang lain selain Rasulullah. Dan Rasulullah sendiri menggiliri sembilan orang istrinya dalam satu malam.

Generasi sesudahnya seperti Imam Junaid, ikutan umat dalam madzhab tasauf, beliau berkata: “Aku membutuhkan berhubungan sex sebagaimana aku membutuhkan makan”.

Imam Abu Muhammad Abdullah Al Ghaimy mengkhatamkan al Qur’an setiap malam sebanyak tiga kali, dan menggauli istrinya tiga kali setiap kali selesai khatam. Beliau meniru kekuatan ibadah orang shaleh sebelumnya, yaitu Salim bin ‘Atar at Tujiby yang melakukan hal demikian. Hingga ketika ia meninggal istrinya berkata: “Semoga Allah merahmatimu, sungguh engkau orang yang diredhai oleh Tuhanmu dan juga diredhai oleh keluargamu”.

Jadi, kezuhudan dan kewara’an tidak menghalangi seseorang menikmati dunia dan memiliki banyak anak dan harta, serta tinggal di rumah mewah. Justru keshalehanlah yang membuat orang mampu menikmati dunia ini melebihi kenikmatan yang dirasakan oleh orang yang mati-matian mengejar dunia.

Tidak ada larangan menikmati dunia dengan jalan yang benar. Jadikan kenikmatan sementara ini sebagai sarana menuju nikmat yang abadi di akhirat nanti.

Hiduplah dengan nikmat dan mulia, jangan tergesa-gesa mati dengan bom bunuh diri. Apalagi mengajak orang lain mati bersama.

Advertisements
This entry was posted in Qadhaya. Bookmark the permalink.

One Response to Tidak Ada Larangan Menikmati Dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s