Larangan Adzan?

Saya baca dari edaran atau panduan kemenag yang beredar, tidak ada larangan adzan pakai pengeras suara. Sama sekali tidak ada larangan. Malah wajib atau harus, dalam aturan tsb.

Hanya saja, ada aturan pemakaian “mic dalam” untuk shalat berjamaah, ceramah, dzikir dan sejenisnya. Kalau untuk adzan, harus “mic luar”.

Itu yang saya pahami dalam aturan tsb. Sama sekali tidak ada larangan. Kok, yang heboh di medsos, seperti dilarang adzan pakai mic luar?

Secara kenyataan dan pengalaman menurut saya justru aturan ini sangat bagus demi kenyaman kita semua.

Hari-hari ini saya mengalami sendiri, ketika jadi imam di satu masjid, suara imam di masjid lain juga kedengaran, bahkan lebih keras, hingga kita jadi ragu dan terpengaruh oleh bacaan imam sebelah. Dan yang terganggu itu bukan saya selaku imam saja, jama’ah juga jadi pecah konsentrasi. Ada bahkan yang malah mengikuti suara imam di masjid sebelah.

Begitu juga memutar bacaan Al Qur’an di subuh hari, kadang-kadang satu jam sebelum subuh sudah dimulai. Padahal itu waktu kita untuk tahajjud dan bermunajat. Akibatnya kita harus ikut bacaan murattal di masjid. Kita bukan tidak senang mendengar murattal, atau bacaan Al Qur’an, tapi Rasulullah sendiri sudah melarang kita untuk tilawah bila itu mengganggu orang tidur atau mengganggu konsentrasi orang lain dalam shalat dan dzikir. Apalagi kalau yang tilawahnya hanya kaset.

Begitu juga dengan ceramah. Orang yang di luar masjid tidak akan mendengarkan ceramah, bahkan bahaya bila mereka mendengar sepotong-sepotong. Bisa salah pengertian.

Yang lebih tidak kondusif itu tadarus di bulan Ramadhan semalaman, bahkan ada yang seharian. Saya kira orang yang ngaji itu bukan dapat pahala, malah dapat dosa. Belum lagi isi hatinya yang Allah Maha Tahu. Kalau dia ikhlas tentulah amal tersembunyi lebih ia sukai dari pada amalan heboh begitu.

Jadi, mari kita adil dalam menilai hal ini. Jangan karena kebencian kita kepada orang, maka apapun yang dia lakukan salah semua. Padahal barangkali yang dia lakukan adalah kemashlahatan kita bersama.

Allah berfirman:

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ)

“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. [Surat Al-Ma’idah 8]

Advertisements
This entry was posted in Qadhaya. Bookmark the permalink.

2 Responses to Larangan Adzan?

  1. zulfiakmal says:

    Saya baca dari edaran atau panduan kemenag yang beredar, tidak ada larangan adzan pakai pengeras suara. Sama sekali tidak ada larangan. Malah wajib atau harus, dalam aturan tsb.

    Hanya saja, ada aturan pemakaian “mic dalam” untuk shalat berjamaah, ceramah, dzikir dan sejenisnya. Kalau untuk adzan, harus “mic luar”.

    Itu yang saya pahami dalam aturan tsb. Sama sekali tidak ada larangan. Kok, yang heboh di medsos, seperti dilarang adzan pakai mic luar?

    Secara kenyataan dan pengalaman menurut saya justru aturan ini sangat bagus demi kenyaman kita semua.

    Hari-hari ini saya mengalami sendiri, ketika jadi imam di satu masjid, suara imam di masjid lain juga kedengaran, bahkan lebih keras, hingga kita jadi ragu dan terpengaruh oleh bacaan imam sebelah. Dan yang terganggu itu bukan saya selaku imam saja, jama’ah juga jadi pecah konsentrasi. Ada bahkan yang malah mengikuti suara imam di masjid sebelah.

    Begitu juga memutar bacaan Al Qur’an di subuh hari, kadang-kadang satu jam sebelum subuh sudah dimulai. Padahal itu waktu kita untuk tahajjud dan bermunajat. Akibatnya kita harus ikut bacaan murattal di masjid. Kita bukan tidak senang mendengar murattal, atau bacaan Al Qur’an, tapi Rasulullah sendiri sudah melarang kita untuk tilawah bila itu mengganggu orang tidur atau mengganggu konsentrasi orang lain dalam shalat dan dzikir. Apalagi kalau yang tilawahnya hanya kaset.

    Begitu juga dengan ceramah. Orang yang di luar masjid tidak akan mendengarkan ceramah, bahkan bahaya bila mereka mendengar sepotong-sepotong. Bisa salah pengertian.

    Yang lebih tidak kondusif itu tadarus di bulan Ramadhan semalaman, bahkan ada yang seharian. Saya kira orang yang ngaji itu bukan dapat pahala, malah dapat dosa. Belum lagi isi hatinya yang Allah Maha Tahu. Kalau dia ikhlas tentulah amal tersembunyi lebih ia sukai dari pada amalan heboh begitu.

    Jadi, mari kita adil dalam menilai hal ini. Jangan karena kebencian kita kepada orang, maka apapun yang dia lakukan salah semua. Padahal barangkali yang dia lakukan adalah kemashlahatan kita bersama.

    Allah berfirman:

    (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ)

    “Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu sebagai penegak keadilan karena Allah, (ketika) menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah. Karena (adil) itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan”. [Surat Al-Ma’idah 8]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s