Udhhiyyah atau Kurban

Kurban atau Udhhiyyah secara bahasa adalah: nama untuk binatang yang dikurbankan, atau hewan yang disembelih di hari raya Idul Adha.

Menurut pengertian fikih, udhhiyyah adalah: menyembelih hewan tertentu dengan niat mendekatkan diri kepada Allah pada hari raya Idul Adha.

Kurban disyari’atkan pada tahun kedua hijriah bersamaan dengan disyari’atkannya zakat dan shalat dua hari raya.

Ketetapan hukumnya berdasarkan al Qur’an, sunnah dan ijma’.

Adapun dari Al Qur’an:

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah mendekatkan diri kepada Allah”. (Al Kautsar: 2)

وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ

“Dan unta-unta itu Kami jadikan untukmu bagian dari syi’ar agama Allah, kamu banyak memperoleh kebaikan padanya. Maka sebutlah nama Allah (ketika kamu akan menyembelihnya) (Al Hajj: 36)

Adapun dari hadits:

«ما عمل ابن آدم يوم النحر عملاً أحب إلى الله تعالى من إراقة الدم، إنها لتأتي يوم القيامة بقرونها وأظلافها وأشعارها، وإن الدم ليقع من الله عز وجل بمكان قبل أن يقع على الأرض، فطيبوا بها نفساً»

“Tidak ada beramal ibnu Adam di hari kurban dengan amalan yang lebih dicintai Allah dari pada menumpahkan darah (menyembelih hewan kurban). Sesungguhnya ia pasti akan datang di hari Kiamat dengan tanduk, kuku dan rambutnya. Sesungguhnya darahnya betul-betul tumpah dari Allah pada suatu tempat sebelum tumpah di atas permukaan bumi. Maka baikkan lah jiwa (ikhlaslah diri dalam melakukannya)”. HR. Turmudzi, Ibnu Majah dan Hakim.

«ضحى رسول الله صلّى الله عليه وسلم بكبشين أملحين، أقرنين، فرأيته واضعاً قدميه على صِفَاحها، يُسمِّي ويكبِّر، فذبحهما بيده»

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban dengan dua ekor domba yang berwarna putih bercampur hitam. Aku melihat beliau meletakkan kedua kakinya di samping domba, kemudian menyebut nama Allah dan bertakbir, lalu menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri”. (HR. Jama’ah).

Adapun ijma’: seluruh ulama sepakat tentang disyari’atkannya kurban.

Hikmah dari pensyari’atannya adalah: ungkapan syukur terhadap nikmat Allah di mana kita masih diberi-Nya nikmat kehidupan dari tahun ke tahun. Juga untuk menebusi dosa serta kesalahan yang sudah terperbuat.

Hukumnya: sunnah muakkad, dan makruh meninggalkannya bagi orang yang mampu.

Syarat-syarat seseorang mendapatkan kewajiban berkurban adalah: orang yang memiliki harta seharga binatang kurban dan lebih dari kebutuhan pokok pribadinya dan kebutuhan pokok orang yang menjadi tanggungannya di hari Idul Adha serta hari-hari tasyriq. Bahkan menurut madzhab Maliki dan Hanbali dianjurkan berkurban sekalipun ia harus berhutang, dengan syarat ia mempunyai kemampuan untuk melunasi hutangnya.

 

 

Syarat sah hewan yang akan dijadikan kurban:

  1. Hewan yang dikurbankan adalah binatang ternak yang terdiri dari: unta, sapi, kerbau dan kambing.
  2. Selamatnya hewan kurban dari segala cacat yang menurut kebiasaan akan mengurangi dagingnya atau merusak kesehatannya. Seperti empat cacat yang disepakati oleh ulama, yaitu: buta sebelah, sakit yang nyata, pincang dan lemah/kurus.
  3. Hewan yang akan disembelih sudah cukup umur, yaitu

– beri-beri sudah berusia enam bulan

– kambing berusia satu tahun masuk dua tahun

– sapi sudah berusia dua tahun masuk tiga tahun

– unta sudah berusia lima tahun masuk enam tahun

  1. Hewannya milik orang yang berkurban
  2. Hewannya hidup ketika disembelih
  3. Hilangnya nyawa hewan itu hanya disebabkan oleh sembelihan, tidak ada sebab lain seperti kena pukul.
  4. Berkurban di hari raya Idul Adha dan di hari-hari tasyriq.
  5. Hewan disembelih oleh orang muslim.

Syarat orang yang terkena kewajiban berkurban adalah:

  1. Beragama Islam,
  2. baligh, berakal,
  3. dan memiliki kemampuan.

Waktu berkurban: dimulai dari selesainya shalat Idul Adha sampai Maghrib tanggal 13 Dzulhijjah, atau akhir hari tasyriq.

 

Cara menyembelih hewan kurban:

  1. Hewan dihadapkan ke kiblat sewaktu menyembelih
  2. Menyembelih dengan cara yang baik, yakni menggunakan alat yang tajam dan dilewatkan pada bagian tubuh yang akan disembelih dengan kuat dan dengan cepat.

Sebagian ulama mengatakan bahwa adab ini hukumnya wajib berdasarkan hadits Nabi:

«إن الله كتب الإحسان على كل شيء، فإذا قتلتم فأحسنوا القتلة، وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبح، وليحد أحدكم شفرته، فليرح ذبيحته»
“Sungguh Allah telah mewajibkan bersikap ihsan (berbuat baik) terhadap segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah satu kalian menajamkan pisaunya dan menyenangkan sembelihannya!” (HR. Muslim)

  1. Melakukan nahr untuk unta dan menyembelih (dzabh) untuk hewan yang lain. Unta dinahr dalam keadaan berdiri dan kaki depannya yang sebelah kiri dalam kondisi terikat. Jika tidak memungkinkan maka nahr dilakukan pada saat unta dalam posisi menderum.
  2. Hewan selain unta disembelih dalam posisi lambung hewan sebelah kiri berada di bawah. Jika penyembelih kesulitan bekerja dengan tangannya dalam posisi seperti itu maka penyembelihan dilakukan dalam posisi lambung kanan hewan berada di bawah, dengan catatan posisi ini lebih menyenangkan hewan kurban dan lebih mudah bagi penyembelih.
  3. Memutus tenggorokan dan kerongkongan di samping memutus dua pembuluh darah besar di leher.
  4. Tidak menampakkan pisau kepada hewan pada saat mengasah. Hewan tersebut seharusnya hanya melihat pisau pada saat menyembelih.
  5. Bertakbir setelah membaca bismillah.

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

Janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. (QS. Al-An’am: 121)

  1. Setelah membaca bismillah dan bertakbir kemudian menyebutkan nama orang yang menjadi tujuan kurban dan berdoa kepada Allah semoga menerima ibadah tersebut.

Menyikapi Perbedaan Pendapat Sekitar Kurban

Dalam setiap amalan sunat selalu ada permasalahan khilafiyah yang kadang-kadang menimbulkan perdebatan. Sebenarnya bila kita mengetahui dari mana dasar perdebatan itu muncul dan apa yang menjadi dalil bagi setiap orang yang mengambil sebuah pendapat, kita akan bisa berlapang hati bila mendapatkan sesuatu yang berbeda dengan pilihan atau pendapat kita.

Dalam sebuah perbedaan pendapat, yang selalu menjadi perdebatan itu adalah hal yang menjadi pernak-pernik yang disebut dalam istilah fiqih dengan furu’. Sangat jarang yang menjadi bahan perdebatan itu sesuatu yang mendasar atau ushul. Ibarat sebuah rumah, kita boleh saja beda selera pada warna cat rumah, hiasan dan pernak-pernik yang menjadi kelengkapan sebuah rumah. Tapi kita tidak berbeda selera dari segi pondasi, tiang, dinding dan atap. Karena itu sudah merupakan suatu kemestian pada sebuah rumah.

Kali ini kita akan membahas beberapa hal yang sering menimbulkan tanda tanya, bahkan perdebatan seputar masalah kurban. Dengan harapan, setelah kita mengetahuinya akan hilang keragu-raguan dan  sikap menyalahkan orang lain karena tidak sejalan dengan apa yang telah kita ketahui dan yakini.

  1. Apakah satu kurban hanya cukup untuk satu orang atau mencukupi untuk satu keluarga?

Jawab:

Hukum berkurban adalah sunat mu’akkad menurut jumhur ulama, selain Imam Hanafi yang mengatakan wajib. Dan ia adalah sunat kifayah bagi sebuah keluarga. Artinya, bila salah seorang anggota keluarga melaksanakannya maka terlepas kewajiban bagi seluruh anggota keluarga yang lain. Dan yang dimaksud keluarga di sini adalah seorang suami, istri dan anak-anak.

Cara memahami sunat kifayah ini sama persis dengan memahami fardu kifayah. Kewajiban yang dibebankan kepada semua orang muslim, tapi bila sudah dilakukan oleh satu orang atau sebagian orang maka gugurlah kewajiban seluruh kaum muslimin. Seperti penyelenggaraan jenazah. Dalam penyelenggaraannya bukan berarti cukup satu atau dua orang saja yang melaksanakannya, tapi siapapun orang muslim dianjurkan untuk ikut melaksanakan, dan setiap mereka berhak mendapatkan pahala.

Begitu juga dengan ibadah kurban. Bila salah seorang anggota keluarga melaksanakannya lepas kewajiban dari seluruh anggota keluarga. Namun bila setiap anggota keluarga ikut berkurban dengan satu ekor kambing umpamanya, maka setiap mereka menggugurkan kewajiban mereka masing-masing. Jadi tidak mesti satu keluarga hanya satu kurban, tapi boleh setiap kepala ikut berkurban bila mereka memiliki kelapangan rezeki. Seperti, sebuah keluarga yang terdiri dari suami – istri dan lima orang anak berkurban dengan tujuh ekor kambing atau digabung menjadi satu ekor sapi.

  1. Apakah boleh menjual kulit binatang kurban?

Jawab:

Pada dasarnya tidak boleh menjual kulit binatang kurban, karena seluruh bagian tubuh hewan itu sudah diniatkan untuk dipersembahkan sebagai ibadah kepada Allah.  Sesuatu yang sudah dipersembahkan kepada Allah tidak boleh diperjual belikan lagi. Rasulullah bersabda:

عَنْ عَلِيٍّ رضي الله عنه قَالَ: أَمَرَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقُومَ عَلَى بُدْنِهِ، وَأَنْ أَتَصَدَّقَ بِلَحْمِهَا وَجُلُودِهَا وَأَجِلَّتِهَا، وَأَنْ لَا أُعْطِيَ الْجَزَّارَ مِنْهَا. قَالَ: نَحْنُ نُعْطِيهِ مِنْ عِنْدِنَا.

Dari Ali ia berkata; “Aku disuruh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengurus penyembelihan hewan kurban, menyedekahkan daging dan kulitnya, serta mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan kesempurnaan kurban. Tetapi aku dilarang oleh beliau mengambil upah untuk tukang potong dari hewan kurban itu. Maka untuk upahnya kami ambilkan dari uang kami sendiri.” HR. Bukhari – Muslim.

Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari, dan Imam Al ‘Aini dalam kitab ‘Umdatul Qari serta Imam Asy-Syaukani di dalam kitabnya Nailul Autar mengatakan bahwa: “Ulama sepakat mengatakan bahwa daging dan kulit hewan kurban tidak boleh diperjual belikan. Kecuali Imam Al ‘Auza’i, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bih Rahawaih dan Abu Tsaur membolehkan, dengan syarat uang hasil penjualannya diberikan kepada orang yang berhak menerima dagingnya”.

Jadi tidak ada masalah bila kita menyaksikan di sekitar kita ada panitia kurban yang menjual kulit kambing atau sapi kurban, kemudian membagikan uangnya kepada penerima daging kurban, atau langsung dibelikan lagi kepada kelapa atau bumbu untuk memasak daging, umpamanya, kemudian membagikannya kepada penerima daging kurban.

Adapun bila hasil penjualannya digunakan untuk biaya operasional penyembelihan itu tidak dibenarkan. Biaya harus ditanggunggung oleh orang yang berkurban.

  1. Bolehkah memberikan daging kurban kepada non muslim?

Jawab:

Boleh memberikan sebagian daging kurban kepada non muslim yang tidak memerangi orang muslim, terlebih lagi kepada non muslim yang diharapkan keislamannya. Sengaja mereka diberi daging kurban untuk mendekatkan hatinya kepada Islam.

  1. Bolehkah berhutang demi membeli hewan kurban?

Jawab:

Boleh saja berhutang untuk membeli hewan kurban asalkan ia yakin mampu melunasi hutangnya. Seperti, seseorang tidak memiliki uang untuk membeli hewan kurban di hari tasyriq, akan tetapi ia memiliki gaji yang pasti pada bulan itu untuk membayar hutang beberapa hari kedepan, atau ia memiliki hasil kebun yang akan dipanen beberapa waktu ke depan. Maka ia boleh meminjam uang untuk berkurban.

Adapun orang yang tidak memiliki kemampuan dan tidak punya kemungkinan untuk membayar hutang, tidak boleh baginya berhutang demi bias ikut berkurban.

Begitu juga bagi orang yang memiliki uang untuk membeli hewan kurban, sementara ia memiliki hutang yang mesti dilunasi, maka membayar hutang lebih utama didahulukan dari pada membeli hewan kurban. Karena bahaya hutang lebih berat dari pada anjuran untuk berkurban.

  1. Apakah boleh menggunakan daging kurban untuk pelaksanaan perayaan khatam Al Qur’an?

Jawab:

Tidak masalah bila daging kurban digunakan untuk sebuah acara kebersamaan yang diadakan masyarakat selama hewan kurbannya disembelih di hari tasyriq. Karena yang dianggap itu adalah penyembelihannya di hari tasyriq yang dianggap  sudah benar dan diterima secara syari’at.

  1. Bagaimana hukumnya berkurban untuk orang yang sudah meninggal?

Jawab:

Apabila orang yang sudah meninggal berwasiat sebelumnya untuk berkurban, ulama sepakat mengatakan bahwa itu boleh. Dan jika berkurban itu menjadi wajib baginya disebabkan karena nadzar, wajib bagi ahli waris melaksanakannya. Adapun apabila orang yang meninggal itu tidak berwasiat sebelumnya, sementara ada di antara ahli waris yang ingin berkurban untuknya dengan biaya dari dia sendiri (ahli waris), menurut ulama madzhab Hanafi, Maliki dan Hanbali hal itu boleh. Sedangkan ulama madzhab Syafi’i mengatakan bahwa menyembelih kurban atas nama orang yang sudah meninggal tidak boleh tanpa ada wasiat sebelumnya.

 

Rasulullah bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُتِيَ بِكبش لِيُضَحِّيَ بِهِ، فأَضْجَعَهُ، ثُمَّ ذَبَحَهُ، ثُمَّ قَالَ: (بِاسْمِ اللهِ، اللهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّدٍ، وَآلِ مُحَمَّدٍ، وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ، ثُمَّ ضَحَّى بِهِ.

“Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhu, didatangkan kepada Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam seekor kibas untuk dikurbankan. Lalu Rasulullah membaringkannya, kemudian menyembelihnya. Ketika itu Rasulullah berdo’a: “Dengan nama Allah, ya Allah terimalah kurban dari Muhammad, dan dari keluarga Muhammad, serta dari umat Muhammad”. Rasulullah berkurban dengan kibas itu. (HR. Muslim)

Ulama menjelaskan, di antara perkara yang bisa dipahami dari hadits ini adalah, saat Rasulullah mengatakan seperti itu ada di antara umatnya yang sudah duluan meninggal. Maka hadits ini menunjukkan kebolehan berkurban untuk orang yang sudah meninggal.

  1. Apakah boleh menyimpan daging kurban?

Jawab:

Boleh menyimpan daging kurban menurut jumhur ulama fiqih. Mereka mengambil dalil atas kebolehan itu berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Buraidah.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ((نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا وَنَهَيْتُكُمْ عَنْ لُحُومِ الأَضَاحِى فَوْقَ ثَلاَثٍ فَأَمْسِكُوا مَا بَدَا لَكُمْ)) أخرجه مسلم فى صحيحه

Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dulu aku melarang kalian menziarahi kuburan, maka sekarang ziarahilah. Dan dulu aku melarang kalian menyimpan daging kurban lebih dari tiga hari, maka sekarang simpanlah sesuai dengan keinginan kalian. HR. Muslim.

  1. Apakah berkurban merupakan kewajiban yang hanya sekali seumur hidup, atau kewajiban setiap tahun sekalipun punya kemampuan?

Jawab:

Berkurban adalah sunat muakkad setiap tahun dan tidak memadai untuk tahun-tahun berikutnya. Karena ia berulang dengan berulangnya waktu, seperti shalat.

وعَنْ عَامِرٍ أَبِى رَمْلَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا مِخْنَفُ بْنُ سُلَيْمٍ قَالَ وَنَحْنُ وُقُوفٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِعَرَفَاتٍ قَالَ: ((يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فى كُلِّ عَامٍ أُضْحِيَةً)) أخرجه الترمذى فى سننه، وقال: حديث حسن.

Dari ‘Amir Abi Ramlah, ia berkata: Telah meriwayatkan kepada kami Mikhnaf binti Sulaim, ia berkata: Ketika kami wuqur bersama Rasulullah di ‘Arafah seraya bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya ada kewajiban berkurban atas  setiap keluarga pada setiap tahun”. (HR. Turmudzi).

  1. Bolehkah berkurban patungan ramai-ramai?

Jawab:

Ukuran hewan kurban paling kecil adalah seekor kambing bagi satu orang atau satu keluarga. Apabila beberapa orang iuran untuk membeli seekor kambing untuk dikurbankan atas nama bersama belumlah memenuhi syarat sahnya kurban.

Hal ini biasanya dilakukan untuk melatih diri untuk bisa dan terbiasa berkurban yang dilakukan oleh anak-anak sekolah. Sebagai solusinya, tetap saja iuran beramai-ramai, tapi nanti ketika pelaksanaannya diwakilkan atas nama salah seorang yang ikut iuran. Bisa dengan cara menunjuk suka rela atau diundi di antara peserta.

  1. Bolehkah berkurban dengan kerbau?

Jawab:

Ulama dari empat madzhab mengatakan bahwa tidak sah berkurban kecuali dengan binatang ternak yang terdiri dari unta, sapi, kerbau dan kambing. Ulama menyamakan antara kerbau dengan sapi dan memperlakukan keduanya sebagai satu jenis.

 

  1. Manakah yang lebih utama, bersedekah dengan uang seharga hewan kurban atau berkurban dengan seekor kambing?

Jawab:

Syekh Yusuf Al Qaradhawi dalam fatwanya mengatakan:

Ibadah kurban adalah syari’at yang ditetapkan Allah untuk mendekatkan diri kepadanya dengan cara menyembelih binatang ternak. Ia adalah salah satu di antara syi’ar agama Allah yang berasal dari ajaran Nabi Ibrahim. Allah menetapkan ibadah ini terus berlanjut atas umat Nabi Muhammad untuk mengingat kembali kisah pengorbanan Nabi Ismail. Agar menjadi pelajaran sepanjang masa bagi umat manusia.

Setiap umat berusaha untuk mengabadikan peristiwa penting yang pernah terjadi dengan mengadakan hari-hari peringatan. Seperti hari kemerdekaan, hari kemenangan dan sebagainya. Demikian pula dengan hari raya Idul Adha, di antara hari-hari Allah, hari-hari bersejarah yang penuh dengan cerita kepahlawanan. Allah mengabadikannya dengan syari’at berkurban.

Maka seorang muslim berkurbah pada hari itu, karena ia adalah sunnah yang paling afdhal. Dia lebih afdhal dari pada bersedekah seharga kambing tersebut. Karena, bila setiap orang bersedekah seharga binatang kurban, artinya syi’ar dari sunnah ini akan bisa saja menjadi mati. Sementara Islam ingin menghidupkannya. Maka tidak diragukan lagi bahwa menyembelih binatang kurban pada hari itu lebih utama dari pada bersedekah, bila terjadi dua pilihan.

Akan tetapi pilihan ini berlaku bagi orang yang masih hidup, bila ia berkurban untuk dirinya sendiri dan anak-anaknya.

  1. Sementara bila orang yang masih hidup ingin menghadiahkan pahala bagi orang yang sudah meninggal, apa yang sebaiknya ia lakukan? Apakah berkurban atau bersedekah seharga hewan kurban?

Jawab:

Apabila ia berada di negeri yang hewan kurbannya banyak dan penduduk di sana tidak butuh kepada daging kurban, maka yang lebih utama saat itu adalah ia bersedekah atas nama orang yang sudah meninggal. Mungkin saja fakir miskin di daerah itu lebih membutuhkan uang untuk memenuhi keperluan yang lain.

Namun bila di negeri itu hewan kurbannya hanya sedikit dan penduduk setempat membutuhkan daging kurban, maka dalam kondisi seperti ini apabila ada orang yang berkurban atas nama orang yang sudah meninggal dan dagingnya dibagikan kepada penduduk setempat, inilah yang lebih utama pada saat itu.

Selain itu, bersedekah atas nama orang yang sudah meninggal memang disyari’atkan atas ijma’ kaum muslimin. Tidak ada seorangpun yang membantah hal itu. Dan ada dua perkara yang disepakati oleh seluruh madzhab, yaitu: bersedekah atas nama orang yang sudah meninggal dan mendo’akannya. Adapun perkara selain itu, seperti menghadiahkan pahala bacaan al Qur’an, berkurban atas namanya, dan selain itu merupakan perkara yang diperdebatkan.

Oleh karena itu, perkara yang disepakati lebih baik untuk dilaksanakan dari pada perkara yang diperdebatkan.

  1. Apakah boleh berkurban dengan selain binatang ternak berkaki empat?

Jawab:

Ulama sepakat bahwa berkurban mestilah dengan menyembelih salah satu dari binatang ternak berkaki empat, yang disebut dalam bahasa Arab dengan “al an’am” (الأنعام); yang terdiri dari unta, sapi atau kerbau peliharaan, dan kambing dengan segala jenisnya. Boleh yang berjenis kelamin jantan atau betina.

Siapa yang berkurban dengan menyembelih selain binatang ternak yang dimaksud, seperti burung, sekalipun burung unta, tidak sah kurbannya. Karena Allah mengatakan di dalam Al Qur’an:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

“Dan bagi setiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), agar mereka menyebut nama Allah atas rezeki yang dikaruniakan Allah kepada mereka berupa hewan ternak. Maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserahdirilah kamu kepada-Nya. Dan sampaikanlah (Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah” (Al Hajj: 34)

 

  1. Apakah boleh kita beli daging, kemudian kita sedekahkan sebagai ganti dari kurban?

Jawab:

Bila seseorang membeli daging, kemudian dibagikan kepada fakir miskin, itu adalah salah satu di antara sedekah. Adapun bila niatnya untuk berkurban mestilah dengan menyembelih binatang ternak di hari-hari kurban. Karena ibadah yang dimaksud pada hari itu adalah menumpahkan darah binatang ternak dengan cara disembelih atas nama Allah dengan niat kurban. Tidak bisa diganti dengan bentuk lain.

Di samping itu, binatang yang bisa dijadikan sebagai hewan kurban adalah hewan yang sempurna, selamat dari cacat. Bila kita membeli daging ganti dari hewan kurban, maka di sana tentu tidak ada kepala, kaki, telinga dan bagian tubuh yang lain. Yang ada hanya daging dan lemak.

 

 

 

 

 

Advertisements
This entry was posted in Fiqh. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s