Cinta dan Benci Karena Kata Orang

Kadang kita menaruh benci kepada seseorang karena kita terlalu banyak mendengarkan cerita miring tentang orang tersebut dari orang-orang yang memang tidak suka kepadanya. Padahal kita sendiri belum banyak berinteraksi dengan orang itu. Bila kita sering berinteraksi dan bertukar pikiran dengannya, yang terjadi barangkali justru sebaliknya.

Kadang kita menaruh kagum kepada seseorang karena kita banyak mendengarkan pujian tentang orang tersebut dari orang-orang yang memang mencintainya. Padahal kita menyaksikan sendiri kekurangan, bahkan kejahatan orang yang dikagumi itu.

Alangkah malangnya bila orang yang sepatutnya kita cintai malah kita benci, dan orang yang seharusnya kita jauhi malah kita cintai mati-matian.

Dalam masalah ini fungsi akal sangat penting diaktifkan. Tidak cukup “jarh wa ta’dil” dari orang lain tanpa membuktikan sendiri. Harus bisa membandingkan satu tanda dengan tanda lainnya. Sampai kita kepada pilihan yang benar. Yang tidak akan menimbulkan sesal di dunia maupun di akhirat.

Advertisements
Posted in Khawathir | 1 Comment

Tidak Sesuai…

Sayang sekali bila orang menasehati orang lain untuk takut kepada Allah, tapi bahasa yang digunakan menunjukkan bahwa dia sendiri tidak takut kepada Allah.

Posted in Khawatir 2 | 1 Comment

Keajaiban Takdir

Fir’aun memerintahkan untuk membunuh setiap anak laki-laki Bani Israel yang baru lahir karena ia khawatir kekuasaannya akan hancur di tangan salah seorang di antara mereka.

Perintah dilaksanakan, cuma muncul permasalahan; bila seluruh bayi Bani Israel dibunuh tentu suatu saat mereka akan punah. Lalu siapa yang akan diperbudak untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat di bumi Mesir?

Keputusan ditinjau ulang. Satu tahun bayi Bani Israel dibunuh, satu tahun dibiarkan hidup.

Atas kehendak Allah, Nabi Harun kakak Nabi Musa lahir di tahun bayi-bayi tidak dibunuh. Maka selamatlah beliau dari kekejaman peraturan Fir’aun. Pada tahun anak laki-laki dibunuhi Nabi Musa dilahirkan.

Coba bayangkan, bila Nabi Musa juga dilahirkan pada tahun bayi tidak dibunuh akan amanlah ceritanya. Tapi Allah ingin memperlihatkan bagaimana kekuasaan-Nya dan bagaimana ajaibnya takdir yang memaksa setiap yang sudah ditentukan untuk terjadi. Tanpa seorangpun mampu mengelakkannya walau Fir’aun yang amat berkuasa, hingga menobatkan diri jadi tuhan.

Sebagaimana yang sudah termasyhur, bayi Musa dihanyutkan ke sungai Nil, kemudian ditemukan oleh istri Fir’aun dan akhirnya diasuh di istananya oleh ibu kandung Nabi Musa sendiri tanpa sepengetahuan Fir’aun.

Seolah-olah Allah berkata: “Betapapun kekuasaan yang engkau miliki, kekejaman yang tiada tara, dan kehati-hatian yang luar biasa menjaga kekuasaanmu, namun Aku berkehendak, kehancuranmu itu engkau sendiri yang merancang dan menyiapkannya. Dan engkau tidak akan mampu mengelak darinya walau secuil”.

Betapapun curiga dan khawatirnya Fir’aun terhadap bayi temuan itu, ia tidak kuasa menolak ketentuan Allah. Dia tetap saja memeliharanya, bahkan dijadikan sebagai anak angkat.

Diujung kisahnya Fir’aun tenggelam di laut Merah karena ia memimpin langsung pengejaran Bani Israel yang melarikan diri dari keganasannya. Kenapa harus Fir’aun langsung yang turun tangan mengejar mereka? Apakah tidak cukup Haman dengan pasukan adidayanya saja melumat Bani Israel?

Lagi-lagi Allah ingin melihatkan kekuatan takdir yang sudah Dia gariskan. Kebinasaan Fir’aun sudah ditetapkan di laut Merah, maka dia sendiri yang akan menyongsongnya ke sana.

Tidak ada yang perlu dibanggakan. Kekuasaan, kekayaan, kegantengan, kecantikan, ketinggian ilmu, kesehatan badan, dan lain sebagainya, amat mudah bagi Allah melenyapkannya. Bahkan binasa dengan tangannya sendiri, tanpa melalui perantara orang lain.

Semuanya harus tunduk di bawah kuasa takdir Allah yang Maha Menentukan segala sesuatu.

Cukup ini jadi pelajaran bagi yang jumawa dengan kekuasaannya.

Allah mengulur tapi tidak membiarkan. Bila waktu yang sudah ditetapkan datang tidak seorangpun mampu berkelit, meloloskan diri dari azab Allah.

Posted in Tadabbur Al Qur'an | 1 Comment

Takah dan Tokoh

Aku baru sadar kalau pemimpin itu merupakan lambang bagi yang dipimpinnya. Dia akan jadi cerminan bagi rakyatnya. Apapun yang dia tampilkan sesungguhnya bukan hanya membawa nama pribadinya, tapi membawa nama besar sebuah bangsa. Bicara, perbuatan, bahkan gestur tubuhnya sedang mempertaruhkan harga diri negara.

Karena itu, bukan hanya kecerdasan untuk memimpin dan mengelola negara yang dibutuhkan. Tampang, sikap dan penampilan tidak kalah pentingnya. Kata orang kampungku, perlu “takah” dan “tokoh”.

Alangkah malangnya suatu bangsa bila pemimpin yang terpilih tidak memiliki tampang, sikap dan penampilan yang bisa dibawa tampil ke tengah, ditambah lagi minus kecerdasan. Akan dilecehkan oleh orang di mana-mana. Istilah dalam permainan anak-anak, ia akan dijadikan anak bawang. Keberadaannya tidak dianggap, hanya sebagai peramai, untuk lucu-lucuan.

Lebih parah lagi, musibah di atas musibah, dengan segala kekurangan itu dia punya sifat PD di atas rata-rata. Seperti orang pincang memaksakan diri untuk lari kencang.

Kalau itu terjadi ke mana kepala kau mau kau sembunyikan kawan 😢

Pelajaran: Bila untuk jadi RW saja kamu tidak pantas, jangan memaksakan diri pula untuk menjadi lurah, apalagi jadi sekjen PBB.

Posted in Serba-Serbi | 1 Comment

Ketergelinciran Orang Alim

Hikmah Arab mengatakan:

زلة العالم يضرب بها الطبل وزلة الجاهل يخفيها الجهل

“Ketergelinciran orang berilmu itu akan disambut dengan pukulan gendang, sedangkan ketergelinciran orang bodoh akan disembunyikan oleh kebodohan”.

Posted in Kata Hikmah | 1 Comment