Tidak Ada yang Abadi

Kehidupan ini selalu berputar. Tidak ada yang abadi, semuanya berubah. Yang kemaren berjaya, barangkali besok akan jatuh. Yang dulu kaya, mungkin sekarang miskin. Yang hari ini dimuliakan, boleh jadi nanti dihinakan. Dan begitu juga sebalikanya.

Karenanya kita perlu selalu tampil dalam kesederhanaan. Tidak sombong ketika berjaya, tidak pongah saat di atas dan tidak lupa diri saat kaya.

Kaya atau miskin tampillah seadanya dan seperlunya. Tidak perlu membusungkan dada saat kaya, tidak juga menunduk-nunduk saat tak punya.

Yang lupa diri ketika di atas akan sangat menyakitkan bila roda kehidupan mengantarkannya ke bawah. Dan yang putus asa saat di bawah, roda kehidupan tidak akan pernah menaikkannya ke atas.

Selalu mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di sekitar kita, itulah yang terbaik.

Advertisements
Posted in Khawathir | 1 Comment

Empat Azab

Ada empat bentuk azab yang akan dirasakan seorang pendurhaka di akhirat kelak:

1. Azab dalam bentuk dipermalukan di hadapan seluruh manusia, terutama di hadapan Rasulullah.

Setiap orang berakal sehat akan mengetahui bahwa azab dipermalukan lebih dahsyat daripada dipukul dengan pedang atau dibakar dengan api.

Misalnya, Anda terlanjur melakukan perbuatan zina, kemudian dipergoki oleh seseorang, lalu orang itu memberi Anda dua pilihan; mau dicambuk 100 kali tapi kerahasiaannya dijamin atau tidak dicambuk sama sekali tapi perbuatan Anda disebar luaskan melalui jejaring sosial.

Orang yang masih memiliki rasa malu dan harga diri akan memilih hukuman fisik daripada hukuman dipermalukan di hadapan khalayak ramai.

Apalagi bila kita dipermalukan di hadapan orang yang sangat kita cintai dan hormati.

2. Azab berbentuk ketakutan luar biasa yang dirasakan oleh seorang budak yang membangkang dan durhaka kepada tuannya. Saat itu ia berada di hadapan kekuasaan tuannya dan ia mustahil bisa melarikan diri darinya.

Di samping itu dia yakin bahwa tuannya mengetahui segala bentuk kedurhakaan yang sudah dia lakukan waktu hidup di dunia dengan sedetil-detilnya. Dan Dia Mahakuasa memberikan azab yang tidak terbayangkan dahsyatnya.

3. Di saat dirinya divonis masuk neraka, ketika itu ia melihat musuh yang dulu ia ejek, rendahkan dan hina selamat masuk surga dengan pahala yang besar.

Menyaksikan orang lain mendapat nikmat ketika diri sendiri mendapatkan azab merupakan azab di atas azab. Apalagi orang yang mendapatkan nikmat adalah orang yang dulu kita musuhi, rendahkan dan hina dinakan.

Tiga bentuk azab di atas adalah azab berbentuk ruhani.

4. Azab berbentuk jasmani, yaitu dimasukkan ke dalam neraka Jahannam. Azab seperti ini ditakuti oleh siapapun, baik oleh orang berakal sempurna yang takut dipermalukan, maupun oleh orang yang jiwanya rusak, tidak mempunyai rasa malu lagi.

اللهم أجرنا من النار

(Disarikan dari tafsir Mafatihul Ghaib Imam ar Razi)

Posted in Tadabbur Al Qur'an | 1 Comment

Tidak Ada Huruf (ش)

Pada status singkat sebelumnya saya menulis seperti ini:

“Pernahkan kita menyadari bahwa pada surat At Taubah mulai dari ayat 43-68 tidak terdapat huruf “syin” (ش)?”

Di antara teman-teman ada yang mempertanyakan apa rahasia, hikmah dan manfaat di balik itu semua.

Terus terang, saya sendiri juga tidak tahu dan belum menemukan pembahasan ini dari ulama sebelumnya.

Cuma, saya tuliskan hal ini barangkali ada pelajaran atau manfaat yang bisa ditemukan. Di antaranya:

1. Ayat Al Qur’an itu semuanya mengandung pelajaran yang tidak akan pernah habis-habisnya untuk digali. Semakin bersih hati orang yang mentadabburinya akan semakin banyak rahasia bermanfaat yang akan ditemukan.

2. Dengan mengetahui hal-hal semacam ini, akan menimbulkan daya tarik dan rasa nikmat tersendiri ketika membaca dan mentadabburi ayat-ayat Al Qur’an.

3. Menambah daya ingat dalam menghafal Al Qur’an. Karena dia memiliki ciri khas tersendiri.

Setelah itu baru kita berusaha mengintip rahasia apa kira-kira yang terdapat di balik itu.

Lalu muncul pikiran seperti ini……

Ayat-ayat ini menceritakan tentang kelakuan orang-orang munafik. Ada apa gerangan antara sifat munafik dengan huruf “syin”?

Barangkali huruf “syin” itu bersifat keras dan tegas dalam pengucapannya. Sementara orang-orang munafik itu sangat takut dengan suara lantang dan ketegasan.

Karena sifat munafik itu muncul didasari oleh kepengecutan dan kelemahan untuk mengungkapkan siapa dirinya yang sebenarnya dan apa yang tersimpan di dalam hatinya.

Dalam surat Al Munafiqun ayat 4 Allah berfirman:

يحسبون كل صيحة عليهم

“mereka mengira setip teriakan ditujukan kepada mereka”.

Ini hanya sekedar renungan. Tentang kebenarannya, hanya Allah a’la wa a’lam.

Posted in Tadabbur Al Qur'an | 1 Comment

Batasnya Tipis

Kita diperintahkan untuk bersabar, tapi bukan berarti hina.

Kita diperintahkan tawadhu’, tapi bukan berarti harus menunduk-nunduk.

Kita dilarang untuk sombong, tapi bukan berarti tidak memiliki harga diri.

Kita dilarang bermewah-mewah, tapi bukan berarti tidak boleh hidup kaya dan berkecukupan.

Batas di antara kedua hal itu sangat tipis, tapi jelas.

(Syekh Muhammad Al Ghazaly)

Posted in Kata Hikmah | 1 Comment

Pribumi

Sepanjang pengalaman saya meruqyah selalu dengan membaca Al Qur’an dan do’a ma’tsur baru pasien kesurupan. Tapi sekarang cuma dengan kata “pribumi” kok bisa banyak orang kesurupan ya? Baru tahu kalau khasiat kata “pribumi” sehebat itu.

Posted in Pengalaman | 1 Comment