Jawaban Yang Lebih Kongkrit

Kadang-kadang ada pertanyaan yang berhubungan dengan permasalahan syari’at yang bisa dijawab dengan tindakan, tanpa berfatwa. Disamping kita tidak menjatuhkan diri kepada bahaya berfatwa, masalahnya langsung teratasi dengan pasti.

Di bulan Ramadhan ada seorang ustadz menyampaikan kajiannya seperti ini di depan jama’ah:

“Seorang istri yang suaminya sakit menahun, tidak mempunyai penghasilan sama sekali hingga tidak mampu membayar zakat fitrah, maka gugur kewajiban zakat fitrah untuk dirinya, istrinya dan anak-anak yang masih di bawah tanggungan suaminya. Jadi dia, suami dan anak-anaknya tidak perlu bayar zakat fitrah. Sekalipun si istri seorang PNS atau pengusaha yang berpenghasilan. Karena kewajiban untuk menunaikan zakat fitrah itu terpikul di pundak suami, bukan beban kewajiban istri”.

Banyak jama’ah mengernyitkan kening mendengar ceramah sang ustadz, termasuk saya.

Ternyata di detik-detik akhir Ramadhan ada seorang ibu tua bertanya kepada saya:

“Saya punya anak laki-laki yang sudah dua tahun sakit. Tidak bisa berusaha sama sekali. Dia punya istri dan seorang anak yang sama-sama tinggal dengan saya. Apakah saya masih wajib membayarkan zakat fitrah dia, anak dan istrinya? Sementara untuk makan sehari-hari saja kami kesulitan”.

Tanpa pikir panjang saya langsung mengasihkan uang sebanyak 300 ribu rupiah. Silahkan ibu belikan beras, dan bayarkan zakat fitrah ibu, anak, menantu dan cucu ibu. Mudah-mudahan nanti ada juga orang yang bayar zakat fitrahnya kepada ibu.

Ibu itu pergi dengan sumringah dan sayapun pergi dengan dada plong. Tidak ada fatwa yang perlu saya pertanggung jawabkan di hadapan Allah nanti di akhirat dan masalah di depan mata juga selesai dengan mudah.

Posted in Pengalaman | Leave a comment

Tajahul atau Bersikap Masa Bodoh

Salah satu sifat terpenting dalam persahabatan adalah sifat masa bodoh, pura-pura tidak peduli, membiarkan kesalahan-kesalahan kecil berlalu begitu saja tanpa dikomentari apalagi dikritisi. Berlaku sebaliknya dapat  merusak hubungan ukhuwah bahkan menghancurkan sama sekali, yaitu sifat terlalu sering mencela dan tidak memaafkan, terlalu fokus melihat sisi negatif tanpa memperhatikan sisi positif, serta enggan meminta maaf atau memaafkan kesalahan.

Sebagian teman merasa bangga dengan sikapnya yang sangat kritis. Hampir tidak ada hal yang berlalu dari temannya melainkan ia tanggapi dengan dalih bermacam-macam.

Seorang ahli sya’ir berkata:

إِذا كُنتَ في كُلِّ الذُنوبِ مُعاتِباً  …. صَديقَكَ لَم تَلقَ الَّذي لا تُعاتِبُه

فَعِش واحِداً أَو صِل أَخاكَ فَإِنَّهُ……….. مُفارِقُ ذَنبٍ مَرَّةً وَمُجانِبُه

“Jika engkau selalu mencela temanmu atas setiap kesalahan,
maka takkan kau temui seorang pun yang tidak kau cela.
Maka hiduplah sendiri, atau sambunglah persaudaraan,
karena teman itu kadang bersalah, kadang menjauhi perbuatan salah.”

Dulu waktu baru duduk di bangku kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang, sebelum ke Mesir saya tinggal di sebuah wisma yang banyak penghuninya. Salah seorang teman sama-sama tinggal di sana, cuma beda kamar memiliki sifat aneh. Setiap kali keluar dari kamar mandi ia selalu meletakkan gayung di dalam kloset. Seolah-olah ia sengaja menutup lobang tempat pembuangan “fadhalat” itu dengan timba yang seharusnya digunakan untuk mengambil air dari bak.

Berkali-kali saya dan teman-teman se-kosan menegur supaya tidak melakukan itu lagi. Tapi kenyatannya setiap ia keluar dari kamar mandi gayung pasti berada di dalam kloset. Dan setiap kali diberi nasehat dia cuma tersenyum sambil mengeluarkan suara “ehe”, tanpa tanggapan dan bantahan. Begitu saja “EHE”, kemudian ia berlalu. Bahkan dengan intonasi agak keras dan kesalpun kita bicara kepadanya tanggapannya hanya “ehe” dan ia berlalu tanpa ekspresi dan rasa bersalah. Aneh, super aneh menurut kita semua. Kok ada manusia seperti itu? Tapi begitulah kenyataannya.

Akhirnya dari pada kita ribut, bertengkar, kesal dan marah, kita biarkan saja hal itu tanpa ditanggapi lagi. Setiap kali masuk ke kamar mandi kita terlebih dahulu mencuci bagian luar gayung, baru memasukkannya ke dalam bak mandi yang cukup besar.  Kita tahu kalau dibiarkan begitu saja, atau kita gunakan gayung yang lain, nanti kalau ia masuk kembali tentu dia gunakan  gayung kotor itu.  Sampai kami berpisah karena saya lanjut kuliah di Mesir kebiasaan itu tetap berlanjut. Dan pertemanan di wisma itu alhamdulillah berjalan baik-baik saja, karena hanya itu sifat yang aneh dari dia.

Kita sadar, masing-masing kita juga punya sifat yang membuat teman yang lain barangkali tidak suka, sekalipun tidak seaneh itu. Seperti suka membiarkan piring tanpa dicuci sampai berbulu, merendam pakaian sampai ulang tahun dalam ember, menjemur pakaian di ruang tamu, tidur ngorok bagai sapi disembelih hingga yang lain susah tidur, belajar harus pakai music, dll.

Kisahnya tidak berakhir sampai di sana.

Setelah saya lanjut kuliah di Mesir, suatu ketika – sebelum nikah – saya tinggal dengan beberapa orang teman sesama mahasiswa dari Indonesia yang heterogen dari berbagaimacam daerah. Di Mesir waktu itu bila kita menyewa flat atau “syaqqah” semua perlengkapan rumah sudah tersedia. Kita tinggal bawa pakaian saja. Sampai gorden pintupun ada.

Alhamdulillah, rumah kami berjalan dengan sangat kondusif. Semua serba teratur. Jadwal piket masak, bersih-bersih rumah, waktu tidur, waktu bangun, waktu makan, pergi kuliah, jam olah raga, beli koran, belanja atau masak snack, belanja dapur, iuran rumah, murajaah, belajar bersama, evaluasi mingguan, waktu mencuci pakaian, mengambil musa’adah, shalat berjama’ah di masjid, tahajjud  dll semua diatur dengan sangat rapi. Tidak ada seorangpun yang tidak menjalankan. Serumah kita kompak semua, setiap hari menjalani kehidupan dengan sangat-sangat happy. Kenangan yang tidak akan terlupakan untuk selamanya.

Namun di samping itu ada secuil keanehan. Salah seorang di antara kami punya kebiasaan yang sangat unik. Setiap kali habis makan dan cuci tangan, untuk mengeringkan tangannya ia gunakan gorden pintu yang sudah disediakan tuan rumah yang menyewakan rumahnya kepada kami. Gorden pintunya cukup bagus. Berkali-kali diingatkan, bahkan semacam kami sidang bersama-sama, jawabannya persis seperti teman waktu kos di IAIN. Dengan cuek tanpa ekspresi ia berkata “ehe”. Tanpa bantah, tanpa menjawab, tanpa ekspresi, hanya kosa kata “EHE” yang muncul dari suaranya. Padahal saya waktu itu punya sapu tangan silungkang bekal dari ibu saya yang sudah saya sodorkan kepadanya. Walaupun sudah dia keringkan dengan sapu tangan nantinya ia tetap mencari gorden pintu itu lagi sampai warna gorden pintu tidak karu-karuan.

Sebelum tinggal di flat, kita membayar uang ta’min atau jaminan seharga satu bulan sewa kepada tuan rumah. Sudah berkali-kali kita ingatkan nanti uang ta’min tidak kembali bila ada bagian rumah yang rusak. Namun dengan masa bodoh ia ternsenyum sambil bilang “ehe”. Dan pada akhirnya memang uang jaminan itu tidak kembali dan salah satu alasan tuan rumah tidak mengembalikannya gara—gara gorden pintu.

Alhamdulillah, sekalipun ada yang aneh, ukhuwah di rumah kami tetap aman dan berjalan dengan hangat sampai kami bubar karena dilarikan nasib masing-masing. Bukan karena cek-cok atau bertengkar. Karena kami waktu itu memang diajari oleh para senior tentang bagaimana cara berukhuwah Islamiyah yang benar. Secuil masalah itu adalah cabaran sebagai bumbu pelengkap dalam pergaulan. Kita adalah kumpulan manusia, bukan malaikat.

Kaedah berukhuwah ini lebih pantas dan lebih perlu dibawakan kepada kehidupan rumah tangga antara suami dan istri. Bila handuk yang ditarok tidak pada tempatnya, piring yang tidak dibawa ke dapur setelah makan, makan yang berbunyi-bunyi seperti itik nyosor, kamar mandi yang tidak ditutup kembali setelah keluar jadi masalah selalu, tidak akan ada rumah tangga yang akan langgeng dan abadi.

NB: Kawan-kawan yang pernah serumah dulu kalau masih ingat kisahnya cukup senyum saja ya. Jangan nyebut plat mobil, hehehe….

Posted in Pengalaman | 1 Comment

Jumlah Laki-laki Sedikit?

Rasulullah menjelaskan tanda-tanda hari kiamat dalam sebuah hadits.

عن أنس بن مالك قال سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ: أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَكْثُرَ الْجَهْلُ، وَيَكْثُرَ الزِّنَا، وَيَكْثُرَ شُرْبُ الْخَمْرِ، وَيَقِلَّ الرِّجَالُ وَيَكْثُرَ النِّسَاءُ، حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ

Artinya: “Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari kiamat, ilmu (agama) diangkat dan tinggallah kejahilan (kebodohan), banyak yang minum khamr, zina marak di mana-mana, kaum laki-laki menjadi sedikit dan tinggalah kaum wanita, sampai seorang laki-laki menafkahi dan menanggung 50 orang wanita.” (HR Bukhari dan Muslim).

Salah satu tanda dekatnya kiamat dari hadits di atas adalah sedikitnya jumlah laki-laki, dan banyaknya jumlah perempuan dengan perbandingan yang sangat ekstrim. Yaitu 1 banding 50.

Namun, berdasarkan data dari sensus penduduk dan data kelahiran dari rumah sakit-rumah sakit kabarnya sampai sekarang jumlah kelahiran anak laki-laki masih di atas jumlah perempuan. Kira-kira 100 berbanding 102.

Dengan demikian, tanda hari kiamat yang ini belum terwujud sampai saat sekarang.

Akan tetapi bila kita cermati lebih dalam redaksi hadits, kita akan menemukan hal lain.

Sepertinya yang dimaksud dengan kata-kata (الرجال) dalam hadits itu bukan jenis manusia yang mempunyai warisan pusaka Nabi Adam, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi laki-laki. Tapi yang dimaksud adalah tokoh, jantan, kesatria atau laki-laki yang betul-betul laki-laki yang bisa memikul beban hidup dan beban amanah sehingga mereka mampu memberikan nafkah serta pengayoman kepada kaum perempuan.

Perkiraan itu didukung dengan redaksi akhir hadits ini. Di mana Rasulullah mengatakan bahwa untuk 50 orang perempuan hanya ada satu (القيم). Rasulullah tidak menggunakan kata-kata (الرجل).

Apa beda (الرجل) dengan (القيم) ?

Kalimat (الرجل) yang punya arti laki-laki yaitu jenis manusia yang mempunyai zakar atau penis. Sekedar mewarisi pusaka Nabi Adam itu sudah bisa disebut (الرجل) atau laki-laki.

Sementara (القيم) punya makna laki-laki yang mengayomi perempuan dengan memberikan nafkah, pembelaan dan perlindungan sehingga mereka merasa aman.

Ulama menjelaskan di akhir zaman nanti (القيم) ini akan berkurang jumlahnya karena perempuan lebih banyak melahirkan anak perempuan dari pada laki-laki, kemudian banyaknya terjadi perperangan, sering terjadi wabah penyakit yang menyebabkan kematian dan penyebab lainnya.

Saya punya kesimpulan lain terhadap hadits di atas. Di mana jenis laki-laki “rajul” tetap banyak, sekurangnya tidak berbeda jauh dengan perempuan, tapi yang mampu menjadi “qayyim” pemberi nafkah dan perlindungan bagi perempuan yang sedikit.

Hal ini bisa kita buktikan dengan melihat kenyataan hidup hari ini.

Laki-laki, tapi tidak punya ilmu dan keterampilan. Jangankan memberikan nafkah untuk perempuan yang menjadi kewajibannya, seperti istri, anak, ibu dan saudara perempuan, nafkah untuk dirinya saja tidak mampu ia penuhi. Alih-alih memberikan pengayoman, malah menjadi beban bagi orang sekitarnya. Bahkan hidup di bawah ketiak istrinya. Makan, rokok dan kebutuhannya istri yang menyediakan.

Laki-laki, tapi bertulang lunak. Lebih gemulai pula dari perempuan. Sukanya bersolek dan mempertahankan bentuk mulusnya. Satu jerawat di wajah membikin tampil tak percaya diri. Akibat hidup dimanja oleh orang tua kaya, dibesarkan dengan tontonan picisan seperti film Korea dan semacamnya.

Laki-laki, tapi seleranya bukan kepada perempuan. Sukanya bukan kepada pewaris pusaka Siti Hawa, tapi pemilik pusaka Nabi Adam seperti dirinya. Laki-laki pewaris perangai kaum Nabi Luth.

Laki-laki, sehat kelihatannya, normal orientasinya, punya skill dan penghasilan, tapi nyaman dengan kejomloan. Menganggap hidup berumah tangga hanya menjadi beban yang mengurangi kebebasan dan kesenangan. Dihantui rasa ragu akibat melihat banyaknya yang gagal hidup berumah tangga.

Laki-laki, tapi hidup dibawah angan-angan. Inginnya bekerja yang gampang dan mudah, namun penghasilan besar. Impian hidup mewah dan terhormat, kerjaan sehari-hari melamun dan judi online.

Dan begitulah seterusnya. “Ar rajul” tidak kurang, “al qayyim” yang sangat sedikit. Hal itu sudah mulai kita saksikan sekarang.

Wallahu a’la wa a’lam.

Posted in Tadabbur Hadits | 1 Comment

Hari Rahmah El Yunusiyah

Kalau pun tidak bisa diperingati secara nasional, sekurangnya bagi kita orang Minang, memperingati hari Rahmah El Yunusiah rasanya lebih pantas dan lebih bermanfaat. Karena, perjuangan beliau lebih jelas, nyata, dan terasa sampai hari ini. Juga lebih cocok dengan budaya dan falsafah hidup kita.

Posted in Serba-Serbi | Leave a comment

Ketelan Biji Kedondong

Ada orang memahami; memberi uang kepada orang lain sebagai sedekah mendapatkan pahala. Tapi bila memberi uang kepada saudara kandung tidak ada pahalanya. Karena tidak boleh saudara kandung menerima sedekah, zakat dan semacamnya. Hingga kepada orang lain uangnya mengucur bagaikan air bah, sementara saudara kandungnya hidup dalam keadaan susah dia hanya mengatakan “dasar pemalas”.

Sepertinya ini orang salah ngaji atau ketelan biji kedondong.

Posted in Qadhaya | Leave a comment