Biasakan Mencatat

Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah mengatakan dalam kitabnya “Qimatuzzaman ‘Indal ‘Ulama”, “Hendaknya selalu ada buku tulis dan pena yang menyertaimu untuk mengikat lintasan pikiran yang muncul, menangkap ide-ide yang datang, dan menuliskan faedah serta hal-hal menarik yang engkau dengar. Dengan demikian engkau bisa menghemat waktu yang sangat berharga. Tidak sia-sia dengan melamun, menebak-nebak, dan prasangka yang tidak ada gunanya. Orang dulu mengatakan: “Ilmu itu adalah buruan dan tulisan adalah pengikatnya”.

Syekh Muhammad Az Zarqa di dalam kitab “Ar Raf’u wat Takmil” yang juga ditahqiq oleh Syekh Abu Ghuddah mengatakan: “Pemahaman itu adalah suatu sifat yang muncul dan lenyap”.

Abu Hurairah mengatakan: “Tidak ada seorangpun di antara shahabat Rasulullah yang lebih banyak haditsnya dariku selain Abdul ibn Amr ibn al-‘Ash, ia dulu mencatat hadits sementara aku tidak mencatatnya.

Betapa banyaknya hal-hal penting yang berlalu begitu saja tanpa kita abadikan menjadi catatan yang akan bermanfaat bagi kita pada suatu saat.

Ketika belajar sejarah dengan Dr. Raghib as-Sirjani beliau sering mengingatkan hal ini. Dan beliau mengatakan bahwa salah satu rahasia ia bisa menjadi pakar di luar bidangnya sebagai dokter adalah; karena ia rajin mencatat apa saja yang pernah ia dengar.

Biasakan mencatat ilmu dan pemahaman yang pernah melintas di dalam pikiran, setelah berlalu beberapa tahun coba buka lagi catatan tersebut, kita akan berkata seperti ini: “Ternyata dulu hal ini pernah aku ketahui dan melintas dalam pikiranku”.

Advertisements
Posted in Rawai' | 1 Comment

Butuh Akal Cerdas

Dibutuhkan akal yang cerdas dan hati yang bersih menilai apa yang sedang terjadi.

Stop keluguan hingga mudah diombang-ambingkan kian kemari oleh opini dan berita.

Kita punya akal untuk membandingkan satu peristiwa dengan peristiwa yang lain.

Tidak sepatutnya kita melongo dan mendudu bagaikan kerbau ditusuk hidung menuruti apa kata orang.

Sekalipun itu orang dianggap berilmu, berwawasan, bahkan berjubah.

Penyesalan penduduk neraka karena mereka tidak mau memfungsikan akal secara maksimal.

(وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ)

Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengar dan memikirkan niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala (Al Mulk: 10)

Jangan tutup mata hati terhadap kebenaran karena kebencian kepada orang atau kelompok lain.

Tidak jadi pemain politik bukan berarti tidak tahu politik.

Tubuh boleh tenang dan diam, tapi mata, telinga dan akal fungsikan dengan baik.

Supaya kau tak jadi bulan-bulanan dan sasaran empuk untuk dipermainkan dan disesatkan.

Alim bukan berarti lugu.

Posted in Khawathir | 1 Comment

Istiqamah

Sebagian orang-orang sederhana itu ada yang membuatmu terkagum karena keteguhannya di atas kebenaran.

Dan sebagian orang alim cendikia membuatmu tercengang karena melencengnya dari jalan yang benar.

Selama-lamanya, jangan kamu tertawan oleh titel, dan jangan kamu diperbudak oleh gelar.

=Mushthaf Luthfi Al Manfaluty=

Posted in Kata Hikmah | 1 Comment

Rakyat yang Sadar

Tidak ada yang ditakuti oleh penguasa zalim sebagaimana ketakutan mereka terhadap rakyat yang sadar.

Dan tidak ada yang mereka benci sebagaimana kebencian mereka kepada orang-orang yang menyuarakan kebenaran dan berusaha membangkitkan kesadaran umat.

Orang yang kalimat dan tulisannya mampu menggoncang keterlenaan masyarakat supaya bangkit untuk menuntut keadilan dan penegakkan kebenaran.

Posted in Pelajaran dari Revolusi Mesir | 1 Comment

Jangan Potong Batangnya!

Ibu-bapak dan nenek-kakek ku selalu berwasiat: “Jangan biasakan menjual-jual barang yang sudah dimiliki. Apalagi yang berbentuk aset, yang bisa mendatangkan hasil. Ibarat pohon, buahnya silahkan makan dan dijual, tapi batangnya jangan sekali-kali ditebang dan dijual”.

Saya yakin, bapak dan kakek bangsa semenjak dulu juga berwasiat seperti itu. Bahkan mereka rela mengorbankan nyawa demi mempertahankan aset negara. Agar anak cucunya tidak menjadi manusia tak berpunya hidup di dunia ini.

Aku tidak tahu, apa yang ada di otak para penerusnya, sehingga dengan mudah menjual-juali aset bangsa?!

Posted in Qadhaya | 1 Comment