Bila Setiap Kesalahan

Setelah Imam Adz Dzahaby memaparkan perdebatan khilafiyah yang terjadi antara Imam Muhammad bin Nasher Al Marwazy dengan Imam Ibnu Mandah di dalam kitab Siyar A’lam An Nubala’, beliau memberikan komentar:

“Andaikan setiap kesalahan yang sebenarnya bisa ditolelir dari seorang imam di dalam satu ijtihad dari sekian banyak masalah-masalah ijtihad, lalu kita mengeritiknya habis-habisan, membid’ahkan, terus mengasingkannya, kita tidak akan punya ulama yang bernama Ibnu Nasher, juga tidak Ibnu Mandah, bahkan ulama-ulama yang lebih besar dari mereka berdua”.

Dan saya tambahkan, apalagi yang lebih kecil dari mereka berdua.

Andaikan setiap kesalahan yang bersifat furu’iyyah, bahkan ushuliyyah yang tidak sampai mengeluarkan seseorang dari agama kita jadikan sebagai alasan untuk mencampakkan seorang alim, maka tidak akan ada seorang alim pun di dunia ini yang patut kita jadikan panutan untuk diambil ilmunya. Tidak akan ada Al Qaradhawy, Sya’rawy dan Thanthawy. Apalagi hanya Abdus Somad dan Hadi Hidayat.

Terlebih lagi bila kesalahannya hanyalah salah menurut pemahaman kita yang masih cetek, bukan menurut dalil yang sebenarnya.

Kita berlindung kepada Allah dari mengikuti hawa dan kepongahan.

 

Advertisements
Posted in Kata Hikmah | 1 Comment

Andaikan Kakek dan Nenekku Masih Hidup

Dulu almarhumah nenekku berkata: “Semenjak nenek tahu, Yasser Arafat itu kerjaannya berunding dan berunding. Setiap hari “Dunia Dalam Berita” di TVRI memberitakan usahanya untuk berdiplomasi dengan Israel. Entah berapa kali duduk di meja perundingan sudah ia lakukan. Tapi kenyataannya Palestina bukannya merdeka, bahkan justru semakin terjajah”.

Kalau nenekku masih hidup dan mendengar ada orang dari negara banyak hutang berusaha membujuk Israel untuk memerdekakan Palestina kira-kira beliau akan bilang apa ya?

Di lain kesempatan, ketika aku membaca buku pelajaran PSPB di dekat kakekku, tiba-tiba dengan berapi-api beliau menceritakan bagaimana para pejuang bangsa kita dulu berusaha membebaskan negara kita dari penjajahan. Apapun dikorbankan, bahkan nyawa. Hingga banyak pahlawan yang tidak tercatat dalam sejarah dan tidak dimakamkan di taman makam pahlawan. Kakek melihat dengan mata kepala sendiri pengorbanan dan kegigihan mereka dalam berjuang, bukan dapat cerita dari buku PSPB seperti aku.

Terakhir kakek berkata: “Kemerdekaan itu didapatkan dengan pengorbanan harta, tenaga, pikiran, darah dan nyawa. Bukan hadiah dari penjajah karena hasil duduk di meja perundingan. Apalagi dengan cara mengemis kepada kompeni”.

Semoga Allah merahmati kakek dan nenekku dan melapangkan kuburannya.

Posted in Pengalaman | 1 Comment

Jangan Sebarkan Berita Buruk

Sebaiknya kita mempunyai prinsip; menjadi orang yang terdepan dalam menyebarkan berita baik, dan tidak akan pernah menyebarkan berita tidak baik, berita duka dan semacamnya. Kecuali berita meninggalnya seseorang dalam kondisi biasa yang memang sudah waktunya untuk disebarkan.

Kan kasihan, bila ada umpamanya orang meninggal karena kecelakaan, lalu kita foto dan sebarkan di medsos waktu itu juga. Atau kita sebarkan beritanya sekalipun tanpa foto.

Kawan, tenggang lah perasaan keluarga si korban. Apakah etis mereka tahu dari medsos bahwa anggota keluarganya kecelakaan? Bagaimana kira-kira perasaan mereka? Apalagi disertai foto yang sangat memilukan. Tentu saja musibah di atas musibah yang mereka rasakan.

Bawakan hal itu kepada diri kita sendiri. Bagaimana kalau hal itu terjadi pada diri kita. Ingat, “kama tadinu tudan” (sebagaimana kita berbuat kepada orang, hal itu akan juga menimpa diri kita).

Memasukkan rasa gembira ke dalam hati seorang mukmin merupakan perbuatan mulia yang akan mendapatkan ganjaran baik di akhirat. Memasukkan rasa sedih tentu sebaliknya. Lalu kenapa kita bersemangat sekali menjadi orang terdepan mengabarkan berita duka?

Kadang kita memang heran dengan gaya dan prinsip orang. Apakah dia merasa bahagia dan mendapatkan kepuasan tersendiri dengan menyebarkan musibah orang lain hingga tidak berpikir panjang sebelum berbuat.

قبل أن تفعل شيئا ففكفر عاقبته.

“Sebelum melakukan sesuatu pikirkanlah terlebih dahulu akibat yang akan ditimbulkannya”.

Kalau harus menyampaikan, sampaikan lah terlebih dahulu kepada pihak yang berkepentingan saja.

NB: Bukan lagi mengomentari kejadian tertentu, tapi umum untuk peristiwa yang sudah berulangkali terjadi.

Posted in Qadhaya | 1 Comment

Bagaimana Tidak Sedih?!

Seorang teman menangis sesegukan sambil mengelus-elus dada. Setelah ditanya kenapa menangis, ia menjawab dengan susah payah:

“Kenapa tidak sedih uda, untuk mendapatkan makan sehari-hari saja aku harus pontang panting bekerja, tidak peduli hujan dan panas, pagi dan sore, bahkan tidak kenal hari libur apalagi jalan-jalan ke Afrika Selatan, tiba-tiba uwak tu bilang sambil ngejek “Alah, itu aja dipermasalahkan. Uang 100 juta itu kecil”. Gimana tidak sakit uda…. Malah ini hari mau lebaran lagi, jangankan baju dan sepatu, mobil lamborgini aja belum terbeli…. sakitnya tuh di sini, di sini…huk….huk….huk…

Kataku: Yang sabar toh dek…Jangan semua dimasukin hati. Ramadhan ini bulan melatih kesabaran…cup…cup…sayang. Ga usah nangis lagi ya…!

Posted in Tarfihi | 1 Comment

Yang Paling Disesali

Di antara hal yang paling saya sesali dalam hidup adalah menghafal Pancasila beserta butir-butirnya seperti menghafal Al Qur’an waktu SD dulu. Jangankan mendapatkan gaji ratusan juta, sepersen pun ga dapat. Coba kalau dapat gaji 100 juta, kan terobati jerih payah. Bisa beli sarung dan baju baru untuk lebaran nanti.

Nasib….nasib….!

Posted in Mawaqif Pribadi | 1 Comment