Terlambat Berjama’ah

Seorang teman Mesir menuturkan pengalamannya.

Suatu kali aku malas-malasan waktu bangun subuh, hingga aku terlambat dari berjama’ah.

Di malam harinya aku melihat dalam mimpiku, aku lagi berjalan menuju sebuah ruangan makan yang sangat besar. Sebelum aku masuk aku melihat beberapa orang-orang yang aku kenal – yang aku kira mereka adalah orang-orang shaleh – keluar dari ruangan itu. Dari mimik wajah mereka kelihatan aura keberhasilan dan kebahagiaan.

Dari wajah mereka memancar kehangatan sinar matahari dan cayaha pagi. Dari postur tubuh mereka kelihatan bahwa mereka anak-anak muda yang sehat lahir dan batin.

Lalu aku ingin masuk untuk mengambil makanan yang menjadi bagianku. Tiba-tiba seorang laki-laki yang bekerja membersihkan lantai dari sisa-sisa makanan menghardikku. Ia memerintahkanku untuk menunggu saja di luar dan tidak mengizinkanku untuk masuk. Ia memberi isyarat supaya aku makan sisa-sisa makanan saja, yang ia sapu keluar.

Di tengah keterkejutanku dari perintah aneh itu tiba-tiba aku terbangun dari tidur. Astaghfirullah…..

Sayyid Waqur.

Posted in Shalat Berjama'ah | 1 Comment

Legenda Cina

Dulu saya suka menonton legenda-legenda China yang difilmkan. Sekalipun hanya film, banyak pelajaran hidup yang berharga saya dapatkan. Karena seni itu kan diangkat dari kenyataan hidup, dituangkan dalam bentuk sastra.

Dendam, iri, dengki, ambisi, marah, nafsu angkara murka, bertemu dengan cinta, sabar, cita-cita, kemauan yang kuat, keuletan, bijaksana, kehormatan dan kasih sayang.

Di antara hal paling menarik bagi saya adalah: setiap kezaliman lambat laun pasti binasa, pengkhianat akan dikhianati. Yang sabar, jujur dan setia pada akhirnya akan selamat.

Film-film ini mengajarkan kita tentang aturan alam (sunnatullah) yang sudah baku. Siapapun dan kapanpun melakukan hal itu, akibatnya pasti sama.

Cuma, apakah orang-orang yang melakukan hal yang sama dalam dunia nyata tidak pernah menonton film semacam itu, atau mereka hanya menganggap itu hanya film?
.
.
.
.
.
.

Posted in Pengalaman | 1 Comment

Cantik Kesing

Mari tadabburi firman Allah ini:

(وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن یُعۡجِبُكَ قَوۡلُهُۥ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَیُشۡهِدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا فِی قَلۡبِهِۦ وَهُوَ أَلَدُّ ٱلۡخِصَامِ * وَإِذَا تَوَلَّىٰ سَعَىٰ فِی ٱلۡأَرۡضِ لِیُفۡسِدَ فِیهَا وَیُهۡلِكَ ٱلۡحَرۡثَ وَٱلنَّسۡلَۚ وَٱللَّهُ لَا یُحِبُّ ٱلۡفَسَادَ
وَإِذَا قِیلَ لَهُ ٱتَّقِ ٱللَّهَ أَخَذَتۡهُ ٱلۡعِزَّةُ بِٱلۡإِثۡمِۚ فَحَسۡبُهُۥ جَهَنَّمُۖ وَلَبِئۡسَ ٱلۡمِهَادُ)

Dan di antara manusia ada yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau (Muhammad), dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal dia adalah penentang yang paling keras.

Dan apabila dia berpaling (dari engkau), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan.

Dan apabila dikatakan kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah,” bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka pantaslah baginya neraka Jahanam, dan sungguh (Jahanam itu) tempat tinggal yang terburuk. [Surat Al-Baqarah 204 – 206]

Garis bawahi:

“dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya”,

Di antara pengakuan orang seperti ini: “Aku hanya takut kepada Allah”.

Jangankan orang yang tidak percaya kepadanya, teman-temannya saja pasti mual dan muntah mendengarkan kata-kata semacam itu keluar dari mulutnya. Karena mereka tahu siapa dia sebenarnya.

Pengakuan itu ada buktinya. Bila bukti bertolak belakang dengan kenyataan pahami sajalah sendiri, apa di balik itu.

Posted in Tadabbur Al Qur'an | 1 Comment

Bicara Kepada Allah

Andaikan kita berbicara kepada orang lain, apalagi kepada orang terhormat dengan cara kita membaca Al Fatihah ketika shalat atau bacaan shalat lainnya kira-kira apa tanggapan mereka?

Karena itu, ahli hikmah mengatakan: “Persembahkanlah shalatmu sesuai dengan cara yang pantas kamu persembahkan kepada Allah, atau cari tuhan yang pantas menerima persembahanmu”.

اللهم أحسن وقوفنا بين يديك.

Posted in Rawai' | 1 Comment

Adab

Ayyub bin Mutawakkil berkata: “Khalil bin Ahmad Al Farahidi bila memberikan faedah (berbentuk ilmu atau pemahaman) kepada orang lain ia perlihatkan sikap seolah-olah ia tidak memberikan apa-apa kepada orang tersebut. Tapi bila ia yang mendapatkan faedah dari orang lain ia akan menampakkan sekali sikap bahwa orang tersebut sudah berjasa besar kepada dirinya.

Imam Adz Dzahaby yang hidup di abad ke-8 Hijriah menanggapi pernyataan ini: “Jadilah kebanyakan orang di zaman kita kebalikan apa yang dikisahkan ini”.

Lalu kalau Imam Adz Dzahaby hidup di zaman kita ini kira-kira beliau akan berkomentar apa?

Allahul musta’an.

Posted in Kata Hikmah | Leave a comment