Tuduhan

Sekalipun sudah ada wahyu dari Allah yang akan dibaca sampai dunia kiamat yang menyatakan bahwa Aisyah istri Rasulullah terbebas dari tuduhan melakukan perbuatan asusila tetap saja ada manusia-manusia berhati busuk yang menuduhkan bahwa beliau adalah seorang penzina.

Ingat, itu Aisyah lho, istri Rasulullah, putri Abu Bakar, shahabat terbaik, dan…. yang menyatakan bahwa beliau wanita suci adalah ayat Al Qur’an.

Jangan heran bila tuduhan keji semacam itu ditimpakan kepada manusia biasa. Sekalipun sudah terang dia tidak bersalah, itu hanya fitnahan yang direkayasa, namun orang-orang berjiwa rusak tetap saja melancarkan tuduhannya dengan segala macam hinaan, caci maki dan pembunuhan karakter.

Mereka tidak mengira bila menuduh orang berbuat mesum tanpa bukti yang terang adalah dosa besar yang sangat dimurkai Allah.

Tidak ikutan meyebut kesalahan orang, sekalipun terbukti, lebih baik dan lebih menyelamat di dunia dan akhirat. Apalagi tidak ikut menyebarkan berita fitnah yang dibikin-bikin.

Posted in Tazakiyatul Anfus | 1 Comment

Pulang Dari Majlis Apa?

Kawan, bila engkau pulang dari pengajian kemudian semakin besar rasa sayangmu kepada saudara-saudaramu sesama muslim, semakin kasih kepada orang-orang di dekatmu, kamu ingin mereka selamat dan bahagia dunia akhirat sebagaimana kamu selamat, lalu kamu ingatkan dengan lemah lembut dan dengan cara yang baik, berarti engkau betul-betul pulang dari sebuah pengajian. Kamu -insyaallah- mendapatkan ilmu yang bermanfaat, sekaligus mendapatkan pahala dari Allah.

Tapi kawan, kalau sepulang dari pengajian muncul kebencianmu kepada saudaramu karena celana mereka melampaui mata kaki, atau karena jenggot mereka dicukur, atau mereka tidak suka pakai siwak, atau mereka belum paham bagaimana cara meluruskan shaf, dan sebab-sebab lainnya yang membuatmu melihat mereka sebagai ahli bid’ah, pantas masuk neraka, perlu engkau renungkan lagi, mungkin tempat yang sebelumnya engkau datangi itu bukanlah majlis pengajian. Tapi barangkali majlis gunjing, fitnah dan adu domba. Sekalipun di sana dibacakan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits Rasulullah. Atau boleh jadi itu majlis tempat dibacakannya mantra sihir yang memecah belah rasa persaudaraan.

Syari’at Islam ini diturunkan Allah melalui Rasul-Nya bertujuan untuk mengeluarkan manusia dari gelapnya kebodohan, menuju terangnya ilmu. Bukan sebaliknya.

Kalau pulang dari pengajian engkau senang sekali menempelkan label di kening orang yang tidak sepengajian denganmu perlu dipertanyakan, kamu tadi belajar dengan siapa? Jangan-jangan kamu baru pulang dari majlis syetan.

Posted in Qadhaya | 1 Comment

Do’a Orang Nekat

18952789_10209142797988916_6150986859413892476_n

Malam ini adalah malam ke-17 Ramadhan. Tepat pada tahun ke-2 Hijriah, 1437 tahun yang lalu Abu Jahal melantunkan do’anya yang sangat memilukan. Do’a penuh kenekatan menentang Allah. Do’a orang putus asa yang hatinya dipenuhi kedengkian dan kebencian kepada Rasulullah.

Abu Jahal -la’natullah ‘alaihi- bermunajat di malam hari di mana besoknya pasukan kaum muslimin yang dipimpin Rasulullah bertemu dengan pasukan kafir Quraisy yang dikomandoi oleh dia sendiri.

Dengan hati penuh kecewa ia menengadahkan tangan ke langit:

اللهم أينا كان أقطع للرحم وآتانا بما لا نعرف فانحه الغداة

“Ya Allah, siapa yang di antara kami yang paling memutuskan silaturrahim dan membawa sesuatu yang tidak kami kenal maka binasakanlah ia besok hari”

Dan kita sama-sama tahu apa akibat yang ditanggungkan oleh Abu Jahal besok harinya di daerah Badar. Kepalanya dipenggal oleh Ibnu Mas’ud setelah dilumpuhkan oleh dua orang remaja dari shahabat Rasulullah. Akhirnya dia ditimbun di sumur Badar bersama 69 orang dedengkot kafir Quraisy lainnya.

Hari ini kita dikejutkan oleh status orang nekat, yang meniru kenekatan Abu Jahal. Sama-sama kita saksikan, apa keputusan Allah terhadap dirinya.

اللهم لا تعذبنا بما فعل السفهاء منا

Dia berdo’a begini:

Posted in Serba-Serbi | 1 Comment

Berdo’a Demi Persatuan

Menyaksikan perkembangan dunia Islam akhir-akhir ini semakin membuat perasaan teraduk-aduk. Sedih bercampur geram. Kenapa sesama saudara seiman hal ini bisa terjadi?

Kita tidak ingin menjadi orang yang pro ke sini atau berpihak ke sana, karena kedua belah pihak adalah saudara kita. Bila mereka bermusuhan semua kita akan rugi dan yang akan bertepuk tangan melihat dengan riang gembira tentu musuh umat ini, karena dari permusuhan itu mereka akan mendulang keuntungan yang luar biasa. Sedangkan yang berseteru satu pihak akan jadi abu dan satunya lagi akan menjadi arang.

Dalam perseteruan ini kita hanya sebagai penonton yang tidak memiliki kuasa apa-apa. Bahkan, jangankan kekuasaan, akses kepala masalah saja tidak punya walau seujung kuku. Tapi kita tidak menginginkan pemandangan tidak baik ini berlanjut terus.

Selaku orang yang beriman kita masih memiliki satu senjata ampuh, yaitu do’a. Rasulullah bersabda:

عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ، وَعِمَادُ الدِّينِ، وَنُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ»

Dari Ali ibn Abi Thalib RA, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Do’a itu senjata orang beriman, tiang agama, cahaya langit dan bumi”. (HR. Hakim)

Dalam riwayat lain Rasulullah mengatakan:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يُنْجِيكُمْ مِنْ عَدُوِّكُمْ وَيَدِرُّ لَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ؟ تَدْعُونَ اللَّهَ فِي لَيْلِكُمْ وَنَهَارِكُمْ، فَإِنَّ الدُّعَاءَ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ»

Dari Jabir ibn Abdillah ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang akan menyelamatkan kalian dari musuh kalian dan yang akan mendatangkan rezeki kepada kalian? Kalian berdo’a kepada Allah di malam hari dan di siang hari, sesungguhnya do’a itu adalah senjata orang beriman”. (HR. Abu Ya’la)

Khusus dalam perkara yang kita saksikan ini, Ibnu Abi Ad Dun-ya meriwayatkan di dalam kitab beliau “at Tawakkal ‘alallah”, pada atsar ke-16 sebuah kisah yang sangat mendatangkan keoptimisan.

Pada masa terjadinya kemelut di seluruh dunia Islam yang disebabkan oleh terjadinya perebutan kekuasaan antara Abdullah ibn Az Zubair dengan Marwan ibn Hakam, kemudian diteruskan oleh anak beliau Abdul Malik ibn Marwan yang berlangsung selama sembilan tahun, di mana kemelut ini mengakibatkan pertumpahan darah yang tidak sedikit, dua orang rakyat jelata di Mesir terlibat dialog.

Dari ‘Aun ibn Abdillah, ia menuturkan: “Di saat seorang laki-laki penduduk Mesir duduk termenung dalam kesedihan di sebuah kebun pada masa fitnah Ibnu Az Zubair, di tangannya ada sesuatu yang ia gunakan untuk mencongkel-congkel tanah, tiba-tiba ia mendongakkan kepala dan ia dikejutkan oleh seseorang yang berdiri di hadapatnya sambil membawa cangkul, lalu orang itu berkata kepadanya: “Hai kamu, ada apa denganmu?! Kenapa kamu termenung sedih seperti itu?

Melihat ada orang bertampang sederhana menyapanya, laki-laki itu menjawab dengan ucapan seolah-olah meremehkannya. “Tidak ada apa-apa, ujarnya.

Laki-laki yang membawa cangkul itu melanjutkan pertanyaannya: “Apakah karena memikirkan dunia? Kalau permasalahan dunia, ketahuilah dunia ini hanya sesuatu yang lagi hadir, yang dimakan oleh orang baik dan orang jahat, sedangkan akhirat aadalah ketentuan yang benar adanya. Di sana nanti Raja yang Maha Berkuasa akan menghakimi, menyelesaikan persengketaan antara hak dan batil”.

Mendengar ucapannya, laki-laki yang lagi bersedih itu menjadi takjub. Ternyata orang yang membawa cangkul itu bukan sembarang orang. Dari lidahnya mengalir kalimat penuh hikmah.

Lalu ia berkata: “Aku bersedih menyaksikan peristiwa yang menimpa kaum muslimin hari ini”.

Laki-laki pembawa cangkul itu melanjutkan nasehatnya: “Sungguh Allah pasti menyelamatkanmu dengan rasa kasihanmu terhadap kaum muslimin itu. Sekarang berdo’alah, mintalah kepada-Nya. Siapa yang meminta kepada Allah yang tidak diberi oleh Allah? Siapa yang berdo’a yang tidak dikabulkan Allah? Siapa yang bertawakkal yang tidak diberi kecukupan oleh Allah? Dan siapa yang yakin yang tidak diselamatkan Allah?”

Laki-laki yang lagi bersedih itu berkata: “Saat itu aku langsung memanjatkan do’a: “Ya Allah selamatkan aku dari fitnah ini dan selamatkan fitnah ini dari campur tanganku”.

Tidak lama setelah itu fitnah itupun mereda dan dunia Islam kembali berada di bawah satu kepemimpinan.

Bagi setiap orang yang lagi berpuasa ada do’a mustajab sampai ia berbuka. Mari kita gunakan do’a itu untuk kebaikan agama dan kesatuan hati orang-orang beriman.

Ya Allah satukan shaf umat Nabi Muhammad ini. Dekatkan hati-hati mereka. Langgengkan kasih sayang mereka. Jadikan kami umat yang saling mencintai karena- Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Berkuasa atas segalanya.

Amin Allahuhumma amin.

Posted in Qadhaya | 1 Comment

Srigala vs Keledai

Suatu kali terjadi pertengkaran antara keledai dengan srigala tentang warna rumput.

Srigala mengatakan bahwa rumput warnanya hijau. Keledai ngotot mengatakan rumput warnanya kuning.

Karena pertengkaran mereka tidak berkesudahan, masing-masing mengemukakan dalilnya dan bersikukuh dengan kebenaran yang mereka yakini, akhirnya mereka memutuskan untuk membawa perkara mereka kepada singa untuk diadili.

Singkat cerita, tanpa berpanjang-panjang, dengan tegas singa memerintahkan srigala untuk dijebloskan ke penjara selama tiga bulan.

Dengan sangat heran srigala protes membela diri.

“Tuan raja hutan yang mulia, apa kesalahanku? Kenapa aku dipenjara? Bukankah aku dipihak yang benar? Semua tahu kalau rumput warnanya hijau”, ujarnya sambil memelas.

Singa menjawab dengan suara berwibawa dan tegas, “Kamu benar, tapi kamu salah telah berdebat dengan “keledai”.

Fa’tabiru ya ulil albab…

………………

Untuk hari-hari ini mungkin cerita dongeng sebelum tidur ini bisa jadi pedoman dalam bersikap. Apalagi ada situasi yang cukup memanas di kawasan negeri padang pasir yang lagi membara dengan cuaca dan situasinya menarik kita untuk ikut-ikutan berdebat.

Allahumma inni shaim.

Posted in Rawai' | 1 Comment