Salah satu sifat terpenting dalam persahabatan adalah sifat masa bodoh, pura-pura tidak peduli, membiarkan kesalahan-kesalahan kecil berlalu begitu saja tanpa dikomentari apalagi dikritisi. Berlaku sebaliknya dapat merusak hubungan ukhuwah bahkan menghancurkan sama sekali, yaitu sifat terlalu sering mencela dan tidak memaafkan, terlalu fokus melihat sisi negatif tanpa memperhatikan sisi positif, serta enggan meminta maaf atau memaafkan kesalahan.
Sebagian teman merasa bangga dengan sikapnya yang sangat kritis. Hampir tidak ada hal yang berlalu dari temannya melainkan ia tanggapi dengan dalih bermacam-macam.
Seorang ahli sya’ir berkata:
إِذا كُنتَ في كُلِّ الذُنوبِ مُعاتِباً …. صَديقَكَ لَم تَلقَ الَّذي لا تُعاتِبُه
فَعِش واحِداً أَو صِل أَخاكَ فَإِنَّهُ……….. مُفارِقُ ذَنبٍ مَرَّةً وَمُجانِبُه
“Jika engkau selalu mencela temanmu atas setiap kesalahan,
maka takkan kau temui seorang pun yang tidak kau cela.
Maka hiduplah sendiri, atau sambunglah persaudaraan,
karena teman itu kadang bersalah, kadang menjauhi perbuatan salah.”
Dulu waktu baru duduk di bangku kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang, sebelum ke Mesir saya tinggal di sebuah wisma yang banyak penghuninya. Salah seorang teman sama-sama tinggal di sana, cuma beda kamar memiliki sifat aneh. Setiap kali keluar dari kamar mandi ia selalu meletakkan gayung di dalam kloset. Seolah-olah ia sengaja menutup lobang tempat pembuangan “fadhalat” itu dengan timba yang seharusnya digunakan untuk mengambil air dari bak.
Berkali-kali saya dan teman-teman se-kosan menegur supaya tidak melakukan itu lagi. Tapi kenyatannya setiap ia keluar dari kamar mandi gayung pasti berada di dalam kloset. Dan setiap kali diberi nasehat dia cuma tersenyum sambil mengeluarkan suara “ehe”, tanpa tanggapan dan bantahan. Begitu saja “EHE”, kemudian ia berlalu. Bahkan dengan intonasi agak keras dan kesalpun kita bicara kepadanya tanggapannya hanya “ehe” dan ia berlalu tanpa ekspresi dan rasa bersalah. Aneh, super aneh menurut kita semua. Kok ada manusia seperti itu? Tapi begitulah kenyataannya.
Akhirnya dari pada kita ribut, bertengkar, kesal dan marah, kita biarkan saja hal itu tanpa ditanggapi lagi. Setiap kali masuk ke kamar mandi kita terlebih dahulu mencuci bagian luar gayung, baru memasukkannya ke dalam bak mandi yang cukup besar. Kita tahu kalau dibiarkan begitu saja, atau kita gunakan gayung yang lain, nanti kalau ia masuk kembali tentu dia gunakan gayung kotor itu. Sampai kami berpisah karena saya lanjut kuliah di Mesir kebiasaan itu tetap berlanjut. Dan pertemanan di wisma itu alhamdulillah berjalan baik-baik saja, karena hanya itu sifat yang aneh dari dia.
Kita sadar, masing-masing kita juga punya sifat yang membuat teman yang lain barangkali tidak suka, sekalipun tidak seaneh itu. Seperti suka membiarkan piring tanpa dicuci sampai berbulu, merendam pakaian sampai ulang tahun dalam ember, menjemur pakaian di ruang tamu, tidur ngorok bagai sapi disembelih hingga yang lain susah tidur, belajar harus pakai music, dll.
Kisahnya tidak berakhir sampai di sana.
Setelah saya lanjut kuliah di Mesir, suatu ketika – sebelum nikah – saya tinggal dengan beberapa orang teman sesama mahasiswa dari Indonesia yang heterogen dari berbagaimacam daerah. Di Mesir waktu itu bila kita menyewa flat atau “syaqqah” semua perlengkapan rumah sudah tersedia. Kita tinggal bawa pakaian saja. Sampai gorden pintupun ada.
Alhamdulillah, rumah kami berjalan dengan sangat kondusif. Semua serba teratur. Jadwal piket masak, bersih-bersih rumah, waktu tidur, waktu bangun, waktu makan, pergi kuliah, jam olah raga, beli koran, belanja atau masak snack, belanja dapur, iuran rumah, murajaah, belajar bersama, evaluasi mingguan, waktu mencuci pakaian, mengambil musa’adah, shalat berjama’ah di masjid, tahajjud dll semua diatur dengan sangat rapi. Tidak ada seorangpun yang tidak menjalankan. Serumah kita kompak semua, setiap hari menjalani kehidupan dengan sangat-sangat happy. Kenangan yang tidak akan terlupakan untuk selamanya.
Namun di samping itu ada secuil keanehan. Salah seorang di antara kami punya kebiasaan yang sangat unik. Setiap kali habis makan dan cuci tangan, untuk mengeringkan tangannya ia gunakan gorden pintu yang sudah disediakan tuan rumah yang menyewakan rumahnya kepada kami. Gorden pintunya cukup bagus. Berkali-kali diingatkan, bahkan semacam kami sidang bersama-sama, jawabannya persis seperti teman waktu kos di IAIN. Dengan cuek tanpa ekspresi ia berkata “ehe”. Tanpa bantah, tanpa menjawab, tanpa ekspresi, hanya kosa kata “EHE” yang muncul dari suaranya. Padahal saya waktu itu punya sapu tangan silungkang bekal dari ibu saya yang sudah saya sodorkan kepadanya. Walaupun sudah dia keringkan dengan sapu tangan nantinya ia tetap mencari gorden pintu itu lagi sampai warna gorden pintu tidak karu-karuan.
Sebelum tinggal di flat, kita membayar uang ta’min atau jaminan seharga satu bulan sewa kepada tuan rumah. Sudah berkali-kali kita ingatkan nanti uang ta’min tidak kembali bila ada bagian rumah yang rusak. Namun dengan masa bodoh ia ternsenyum sambil bilang “ehe”. Dan pada akhirnya memang uang jaminan itu tidak kembali dan salah satu alasan tuan rumah tidak mengembalikannya gara—gara gorden pintu.
Alhamdulillah, sekalipun ada yang aneh, ukhuwah di rumah kami tetap aman dan berjalan dengan hangat sampai kami bubar karena dilarikan nasib masing-masing. Bukan karena cek-cok atau bertengkar. Karena kami waktu itu memang diajari oleh para senior tentang bagaimana cara berukhuwah Islamiyah yang benar. Secuil masalah itu adalah cabaran sebagai bumbu pelengkap dalam pergaulan. Kita adalah kumpulan manusia, bukan malaikat.
Kaedah berukhuwah ini lebih pantas dan lebih perlu dibawakan kepada kehidupan rumah tangga antara suami dan istri. Bila handuk yang ditarok tidak pada tempatnya, piring yang tidak dibawa ke dapur setelah makan, makan yang berbunyi-bunyi seperti itik nyosor, kamar mandi yang tidak ditutup kembali setelah keluar jadi masalah selalu, tidak akan ada rumah tangga yang akan langgeng dan abadi.
NB: Kawan-kawan yang pernah serumah dulu kalau masih ingat kisahnya cukup senyum saja ya. Jangan nyebut plat mobil, hehehe….