Orang Tua Reot Tak Tahu Diri

Dulu ketika membaca sejarah dan mentadabburi ayat-ayat tentang umat Nabi Luth muncul banyak pertanyaan di dalam hati, salah satunya; kenapa ya mereka semuanya dihancurkan Allah? Kan ada orang-orang tua yang tidak punya hawa nafsu lagi. Yang sudah tidak tertarik lagi terhadap perkara yang berhubungan dengan urusan antara pusat dan lutut.

Hari ini setelah melihat fenomena yang marak di mana-mana, ternyata penyakit aneh itu tidak menjakiti orang-orang muda yang syahwatnya masih bergejolak saja. Orang tua reot yang kita kira tidak berselera lagi kepada perempuan pun malah sangat gila dalam masalah ini. Apalagi yang memiliki harta lebih.

Bukankah yang kita baca dalam medsos kasus pelaku penyimpangan ini banyak dilakoni oleh kakek-kakek? Apakah karena kondisi sebenarnya dia masih fit dan bergejolak, sementara istrinya sudah nenek-nenek. Untuk nikah lagi tidak berani dan khawatir tidak ada yang mau, akhirnya cari jalan lain. Apalagi punya rekening gendut, pemasukan banyak, semua bisa dibeli dengan uang.

Ditambah lagi tontonan sembarangan yang memancing nafsu syetan aneh itu.

La haula wa la quwwata illa billah.

Posted in Khawatir 2 | Leave a comment

Hanya Dalil Akal dan Perasaan

Di dunia ini banyak sekali ciptaan Allah yang semuanya itu diperuntukkan untuk memfasilitasi kepentingan umat manusia.

{ هُوَ ٱلَّذِی خَلَقَ لَكُم مَّا فِی ٱلۡأَرۡضِ جَمِیعࣰا ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰۤ إِلَى ٱلسَّمَاۤءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبۡعَ سَمَـٰوَ ٰ⁠تࣲۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَیۡءٍ عَلِیمࣱ }
Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha mengetahui segala sesuatu.
[Surat Al-Baqarah: 29]

Namun dalam menikmati segala ciptaan itu Allah beri batasan dan aturan yang jelas.

Allah ciptakan banyak jenis makanan dan Allah juga menciptakan rasa butuh kepada makanan. Namun untuk menikmati makanan itu Allah memberi batasan untuk makanan yang halal dan baik-baik saja. Makanan yang membahayan manusia diharamkan untuk dikonsumsi.

Allah ciptakan banyak jenis minuman. Lalu Allah mempersilahkan untuk menikmatinya. Kecuali minuman yang bisa membuat manusia mabuk hingga akalnya hilang atau membahayakan kesehatan.

Allah ciptakan manusia berlawanan jenis dan Allah ciptakan juga rasa ingin berhubungan sex. Sementara pada dasarnya berhubungan sex itu sesuatu yang dilarang Allah. Namun untuk menyalurkan rasa yang memang diciptakan Allah dalam diri manusia itu, Allah buat aturan pernikahan.

Allah ciptakan pemandangan yang indah-indah. Silahkan nikmati semuanya dengan mata dan perasaan. Tapi Allah haramkan segelintir pemandangan yang akan merusak akhlak dan budi pekerti manusia. Yaitu melihat aurat sesama manusia.

Allah ciptakan bau yang milyaran banyaknya. Allah halalkan untuk menikmati semua tanpa terkecuali. Kecuali pada saat-saat tertentu. Seperti bau parfum yang lengket di badan perempuan yang bukan istrinya.

Allah ciptkan bunyi yang begitu banyak. Bunyi-bunyian yang membuat pendengaran dan perasaan manusia merasa nikmat. Di antaranya bunyi musik yang tidak terhitung banyaknya.

Lalu apakah masuk akal semua musik itu diharamkan oleh Allah? Padahal itu pula yang susah dihindari.

Makanan dan minuman lezat tapi haram sangat mudah untuk dihindari. Berhubungan sex apalagi. Tidak melihat yang dilarang dan mencium bau yang haram juga mudah.

Tapi untuk tidak mendengarkan suara musik secara mutlak sepertinya amat sulit, apalagi di zaman sekarang.

Apakah masuk akal bila fitrah suka ditanamkan di dalam hati terhadap bunyi musik yang begitu banyak diciptakan, lalu semuanya diharamkan secara mutlak?

Tidakkah akal dan perasaan kita bisa menerima ada di antara musik itu yang halal pada waktu tertentu dan dengan aturan tertentu pula? Tidak menghantam semua musik diharamkan Allah?

Pertanyaan bukan untuk dijawab. Tidak mengajak diskusi apalagi debat. Hanya menceritakan apa yang terasa.

Posted in Khawathir | Leave a comment

Berubah Drastis

40 menit sebelum waktu Jum’at masuk saya sudah berada di masjid. Rencana ingin menenangkan diri dulu dan mengulang-ulang bahan yang akan disampaikan ketika khutbah nanti yang sudah disiapkan dalam potongan-potongan kertas seperti kartu.

Namun sayang, baru saja akan shalat tahyatul masjid datang seorang bapak-bapak menyapa dengan sangat akrabnya. Seolah-olah beliau sudah mengenal saya dari lama. Dengan ramah beliau memperkenalkan dirinya tanpa saya tanya. Mulai dari sekolah dulu, sampai rumah tangga dan jabatannya.

Rupanya beliau seorang berpangkat yang bertugas di ibu kota lagi berkunjung ke daerah. Lengkap cerita dengan berbagai prestasi dan gebrakan beliau. Tidak lupa beliau berikan nomor hp beserta alamat rumah di Jakarta. Sekalian mengundang saya untuk datang ke rumah beliau bila saya tersesat ke ibu kota. Sampai sejenak sebelum naik mimbar baru bapak itu berhenti berbicara.

Namun aneh binti ajaib, selesai khutbah dan shalat Jum’at serta zikir, waktunya beramah tamah beliau menjadi dingin sedingin-dinginnya. Seolah-olah tidak pernah berinteraksi sedikitpun sebelumnya. Padahal saya berharap diajak makan siang habis itu. Just kidding 😄. Akhirnya saya permisi saja pulang dengan santai.

Apalah gerangan yang membuat beliau begitu berubah. Apakah khutbah saya tadi membuat perasaannya hilang mut. Padahal tadi saya khutbah cuma menyambungkan ayat demi ayat, tanpa penjelasan panjang-panjang. Hanya ayat ditambah terjemahan dan keterangan sangat singkat.

Di antar ayatnya:

{ وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱللَّهَ غَـٰفِلًا عَمَّا یَعۡمَلُ ٱلظَّـٰلِمُونَۚ إِنَّمَا یُؤَخِّرُهُمۡ لِیَوۡمࣲ تَشۡخَصُ فِیهِ ٱلۡأَبۡصَـٰرُ }

[Surat Ibrahim: 42]

{ أَیَحۡسَبُ ٱلۡإِنسَـٰنُ أَن یُتۡرَكَ سُدًى }

[Surat Al-Qiyamah: 36]

{ أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَـٰكُمۡ عَبَثࣰا وَأَنَّكُمۡ إِلَیۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ }

[Surat Al-Mu’minun: 115]

{ وَلَوۡ أَنَّ لِلَّذِینَ ظَلَمُوا۟ مَا فِی ٱلۡأَرۡضِ جَمِیعࣰا وَمِثۡلَهُۥ مَعَهُۥ لَٱفۡتَدَوۡا۟ بِهِۦ مِن سُوۤءِ ٱلۡعَذَابِ یَوۡمَ ٱلۡقِیَـٰمَةِۚ وَبَدَا لَهُم مِّنَ ٱللَّهِ مَا لَمۡ یَكُونُوا۟ یَحۡتَسِبُونَ }

[Surat Az-Zumar: 47]

{ وَنَضَعُ ٱلۡمَوَ ٰ⁠زِینَ ٱلۡقِسۡطَ لِیَوۡمِ ٱلۡقِیَـٰمَةِ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسࣱ شَیۡـࣰٔاۖ وَإِن كَانَ مِثۡقَالَ حَبَّةࣲ مِّنۡ خَرۡدَلٍ أَتَیۡنَا بِهَاۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَـٰسِبِینَ }

[Surat Al-Anbiya’: 47]

{ تِلۡكَ ٱلدَّارُ ٱلۡـَٔاخِرَةُ نَجۡعَلُهَا لِلَّذِینَ لَا یُرِیدُونَ عُلُوࣰّا فِی ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فَسَادࣰاۚ وَٱلۡعَـٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِینَ }

[Surat Al-Qashash: 83]

Itulah di antara ayat-ayat yang disampaikan dalam khutbah. Semoga bapak itu baik-baik saja

Posted in Khutbah Jum'at | Leave a comment

Jawaban Yang Lebih Kongkrit

Kadang-kadang ada pertanyaan yang berhubungan dengan permasalahan syari’at yang bisa dijawab dengan tindakan, tanpa berfatwa. Disamping kita tidak menjatuhkan diri kepada bahaya berfatwa, masalahnya langsung teratasi dengan pasti.

Di bulan Ramadhan ada seorang ustadz menyampaikan kajiannya seperti ini di depan jama’ah:

“Seorang istri yang suaminya sakit menahun, tidak mempunyai penghasilan sama sekali hingga tidak mampu membayar zakat fitrah, maka gugur kewajiban zakat fitrah untuk dirinya, istrinya dan anak-anak yang masih di bawah tanggungan suaminya. Jadi dia, suami dan anak-anaknya tidak perlu bayar zakat fitrah. Sekalipun si istri seorang PNS atau pengusaha yang berpenghasilan. Karena kewajiban untuk menunaikan zakat fitrah itu terpikul di pundak suami, bukan beban kewajiban istri”.

Banyak jama’ah mengernyitkan kening mendengar ceramah sang ustadz, termasuk saya.

Ternyata di detik-detik akhir Ramadhan ada seorang ibu tua bertanya kepada saya:

“Saya punya anak laki-laki yang sudah dua tahun sakit. Tidak bisa berusaha sama sekali. Dia punya istri dan seorang anak yang sama-sama tinggal dengan saya. Apakah saya masih wajib membayarkan zakat fitrah dia, anak dan istrinya? Sementara untuk makan sehari-hari saja kami kesulitan”.

Tanpa pikir panjang saya langsung mengasihkan uang sebanyak 300 ribu rupiah. Silahkan ibu belikan beras, dan bayarkan zakat fitrah ibu, anak, menantu dan cucu ibu. Mudah-mudahan nanti ada juga orang yang bayar zakat fitrahnya kepada ibu.

Ibu itu pergi dengan sumringah dan sayapun pergi dengan dada plong. Tidak ada fatwa yang perlu saya pertanggung jawabkan di hadapan Allah nanti di akhirat dan masalah di depan mata juga selesai dengan mudah.

Posted in Pengalaman | Leave a comment

Tajahul atau Bersikap Masa Bodoh

Salah satu sifat terpenting dalam persahabatan adalah sifat masa bodoh, pura-pura tidak peduli, membiarkan kesalahan-kesalahan kecil berlalu begitu saja tanpa dikomentari apalagi dikritisi. Berlaku sebaliknya dapat  merusak hubungan ukhuwah bahkan menghancurkan sama sekali, yaitu sifat terlalu sering mencela dan tidak memaafkan, terlalu fokus melihat sisi negatif tanpa memperhatikan sisi positif, serta enggan meminta maaf atau memaafkan kesalahan.

Sebagian teman merasa bangga dengan sikapnya yang sangat kritis. Hampir tidak ada hal yang berlalu dari temannya melainkan ia tanggapi dengan dalih bermacam-macam.

Seorang ahli sya’ir berkata:

إِذا كُنتَ في كُلِّ الذُنوبِ مُعاتِباً  …. صَديقَكَ لَم تَلقَ الَّذي لا تُعاتِبُه

فَعِش واحِداً أَو صِل أَخاكَ فَإِنَّهُ……….. مُفارِقُ ذَنبٍ مَرَّةً وَمُجانِبُه

“Jika engkau selalu mencela temanmu atas setiap kesalahan,
maka takkan kau temui seorang pun yang tidak kau cela.
Maka hiduplah sendiri, atau sambunglah persaudaraan,
karena teman itu kadang bersalah, kadang menjauhi perbuatan salah.”

Dulu waktu baru duduk di bangku kuliah di IAIN Imam Bonjol Padang, sebelum ke Mesir saya tinggal di sebuah wisma yang banyak penghuninya. Salah seorang teman sama-sama tinggal di sana, cuma beda kamar memiliki sifat aneh. Setiap kali keluar dari kamar mandi ia selalu meletakkan gayung di dalam kloset. Seolah-olah ia sengaja menutup lobang tempat pembuangan “fadhalat” itu dengan timba yang seharusnya digunakan untuk mengambil air dari bak.

Berkali-kali saya dan teman-teman se-kosan menegur supaya tidak melakukan itu lagi. Tapi kenyatannya setiap ia keluar dari kamar mandi gayung pasti berada di dalam kloset. Dan setiap kali diberi nasehat dia cuma tersenyum sambil mengeluarkan suara “ehe”, tanpa tanggapan dan bantahan. Begitu saja “EHE”, kemudian ia berlalu. Bahkan dengan intonasi agak keras dan kesalpun kita bicara kepadanya tanggapannya hanya “ehe” dan ia berlalu tanpa ekspresi dan rasa bersalah. Aneh, super aneh menurut kita semua. Kok ada manusia seperti itu? Tapi begitulah kenyataannya.

Akhirnya dari pada kita ribut, bertengkar, kesal dan marah, kita biarkan saja hal itu tanpa ditanggapi lagi. Setiap kali masuk ke kamar mandi kita terlebih dahulu mencuci bagian luar gayung, baru memasukkannya ke dalam bak mandi yang cukup besar.  Kita tahu kalau dibiarkan begitu saja, atau kita gunakan gayung yang lain, nanti kalau ia masuk kembali tentu dia gunakan  gayung kotor itu.  Sampai kami berpisah karena saya lanjut kuliah di Mesir kebiasaan itu tetap berlanjut. Dan pertemanan di wisma itu alhamdulillah berjalan baik-baik saja, karena hanya itu sifat yang aneh dari dia.

Kita sadar, masing-masing kita juga punya sifat yang membuat teman yang lain barangkali tidak suka, sekalipun tidak seaneh itu. Seperti suka membiarkan piring tanpa dicuci sampai berbulu, merendam pakaian sampai ulang tahun dalam ember, menjemur pakaian di ruang tamu, tidur ngorok bagai sapi disembelih hingga yang lain susah tidur, belajar harus pakai music, dll.

Kisahnya tidak berakhir sampai di sana.

Setelah saya lanjut kuliah di Mesir, suatu ketika – sebelum nikah – saya tinggal dengan beberapa orang teman sesama mahasiswa dari Indonesia yang heterogen dari berbagaimacam daerah. Di Mesir waktu itu bila kita menyewa flat atau “syaqqah” semua perlengkapan rumah sudah tersedia. Kita tinggal bawa pakaian saja. Sampai gorden pintupun ada.

Alhamdulillah, rumah kami berjalan dengan sangat kondusif. Semua serba teratur. Jadwal piket masak, bersih-bersih rumah, waktu tidur, waktu bangun, waktu makan, pergi kuliah, jam olah raga, beli koran, belanja atau masak snack, belanja dapur, iuran rumah, murajaah, belajar bersama, evaluasi mingguan, waktu mencuci pakaian, mengambil musa’adah, shalat berjama’ah di masjid, tahajjud  dll semua diatur dengan sangat rapi. Tidak ada seorangpun yang tidak menjalankan. Serumah kita kompak semua, setiap hari menjalani kehidupan dengan sangat-sangat happy. Kenangan yang tidak akan terlupakan untuk selamanya.

Namun di samping itu ada secuil keanehan. Salah seorang di antara kami punya kebiasaan yang sangat unik. Setiap kali habis makan dan cuci tangan, untuk mengeringkan tangannya ia gunakan gorden pintu yang sudah disediakan tuan rumah yang menyewakan rumahnya kepada kami. Gorden pintunya cukup bagus. Berkali-kali diingatkan, bahkan semacam kami sidang bersama-sama, jawabannya persis seperti teman waktu kos di IAIN. Dengan cuek tanpa ekspresi ia berkata “ehe”. Tanpa bantah, tanpa menjawab, tanpa ekspresi, hanya kosa kata “EHE” yang muncul dari suaranya. Padahal saya waktu itu punya sapu tangan silungkang bekal dari ibu saya yang sudah saya sodorkan kepadanya. Walaupun sudah dia keringkan dengan sapu tangan nantinya ia tetap mencari gorden pintu itu lagi sampai warna gorden pintu tidak karu-karuan.

Sebelum tinggal di flat, kita membayar uang ta’min atau jaminan seharga satu bulan sewa kepada tuan rumah. Sudah berkali-kali kita ingatkan nanti uang ta’min tidak kembali bila ada bagian rumah yang rusak. Namun dengan masa bodoh ia ternsenyum sambil bilang “ehe”. Dan pada akhirnya memang uang jaminan itu tidak kembali dan salah satu alasan tuan rumah tidak mengembalikannya gara—gara gorden pintu.

Alhamdulillah, sekalipun ada yang aneh, ukhuwah di rumah kami tetap aman dan berjalan dengan hangat sampai kami bubar karena dilarikan nasib masing-masing. Bukan karena cek-cok atau bertengkar. Karena kami waktu itu memang diajari oleh para senior tentang bagaimana cara berukhuwah Islamiyah yang benar. Secuil masalah itu adalah cabaran sebagai bumbu pelengkap dalam pergaulan. Kita adalah kumpulan manusia, bukan malaikat.

Kaedah berukhuwah ini lebih pantas dan lebih perlu dibawakan kepada kehidupan rumah tangga antara suami dan istri. Bila handuk yang ditarok tidak pada tempatnya, piring yang tidak dibawa ke dapur setelah makan, makan yang berbunyi-bunyi seperti itik nyosor, kamar mandi yang tidak ditutup kembali setelah keluar jadi masalah selalu, tidak akan ada rumah tangga yang akan langgeng dan abadi.

NB: Kawan-kawan yang pernah serumah dulu kalau masih ingat kisahnya cukup senyum saja ya. Jangan nyebut plat mobil, hehehe….

Posted in Pengalaman | 1 Comment